Premis Real Steel yang mengisahkan mengenai pertarungan antara para robot kemungkinan besar akan membuat banyak penonton membayangkan berbagai adegan yang terdapat dalam franchise Transformers (2007 – 2011) milik Michael Bay. Namun, Real Steel sendiri merupakan sebuah film yang mendasarkan jalan ceritanya pada cerita pendek karya Richard Matheson yang berjudul Steel (1956) dan lebih menekankan pada perkembangan hubungan antara karakter ayah dan anak yang terdapat di dalam jalan cerita daripada mengumbar berbagai adegan aksi. Pun begitu, Shawn Levy sebagai seorang sutradara juga tidak serta merta meninggalkan sisi visual film ini dan turut mampu menghadirkan deretan adegan aksi dengan pencapaian special effect yang jauh dari kesan mengecewakan.

Jalan cerita Real Steel berlatarbelakangkan waktu pada tahun 2020, dimana olahraga tinju tidak lagi dilakukan oleh manusia, melainkan dilakukan oleh para robot yang dikendalikan oleh para manusia dengan tujuan agar para robot yang bertanding dapat bertarung habis-habisan. Dikisahkan bahwa Charlie Kenton (Hugh Jackman) adalah seorang mantan petinju yang kini menjadikan laga tinju para robot sebagai mata pencahariannya. Dan Charlie bukanlah seorang pengendali robot yang baik. Robot yang ia kendalikan seringkali mengalami kekalahan dan kehancuran yang ujung-ujungnya membuat Charlie selalu berada dalam kesulitan finansial.

Pada suatu hari, mantan kakak iparnya, Debra (Hope Davis), dan suaminya, Marvin (James Rebhorn), datang dengan sebuah surat untuk meminta hak asuh penuh terhadap anak Charlie, Max (Dakota Goyo), yang kini hidup seorang diri setelah ibunya meninggal dunia. Melihat peluang bahwa ia dapat memperoleh aliran dana segar, Charlie lalu ‘menjual’ Max kepada Marvin dengan persyaratan bahwa Charlie mau menjaga dan merawat Max selama Debra dan Marvin berliburan ke luar negeri. Dengan uang yang ia dapatkan dari Marvin, Charlie akhirnya membeli sebuah robot baru yang akan ia gunakan untuk bertarung. Namun, seperti yang dapat diduga oleh setiap penonton, bersamaan dengan perjalanan waktu, hubungan Charlie dan Max secara perlahan mulai menghangat.

Pada durasi awal film ini, Real Steel murni menggambarkan buruknya karakter Charlie dalam kehidupan sehari-harinya: suka berbohong, egois, tidak memiliki pendirian yang tetap dan bahkan mau ‘menjual’ anaknya demi sejumlah uang. Beruntung karakter Charlie Kenton diperankan oleh Hugh Jackman. Kharisma aktor tampan asal Australia ini akan membuat penonton Real Steel merasa sulit untuk membenci karakter Charlie Kenton seburuk apapun jalan cerita film ini berusaha menggambarkan karakter tersebut. Transisi sisi kehidupan karakter Charlie dari seorang yang berperangai buruk menjadi seseorang yang memiliki wibawa dan tanggung jawab menjadi semakin mudah ketika karakter Max yang diperankan Dakota Goyo memasuki jalan cerita. Selanjutnya, akan sangat mudah bagi penonton untuk menebak arah cerita Real Steel yang sebenarnya.

Pun begitu, bukan berarti Real Steel tampil datar dan tidak menarik. Memang, jalan cerita mengenai seorang underdog yang berusaha untuk mencapai tangga kemenangan merupakan sebuah premis dasar yang dapat ditemui di setiap film-film bertema olahraga lainnya. Namun dengan sentuhan modernitas yang dihadirkan lewat kehadiran para karakter robot yang disajikan sebagai para petarung di film ini, Shawn Levy berkesempatan untuk menghadirkan sebuah sisi cerita lain yang dapat mempesona penonton, yakni sisi tampilan special effect film ini. Dan benar saja, deretan robot yang dihadirkan berhasil tampil meyakinkan. Dukungan produksi kelas atas dari bagian suara hingga gambar semakin menambah gemilang pencapaian film yang berdurasi lebih dari 120 menit ini.

Dan adalah sangat menyenangkan mengingat bahwa selain jalan cerita film ini yang merupakan sebuah fiksi belaka, seluruh kandungan yang terdapat di dalamnya mampu dihadirkan begitu nyata: mulai dari adegan-adegan pertarungannya hingga hubungan yang terjalin antara karakternya. Benar bahwa pada beberapa titik, sentimentalitas Real Steel terasa terlalu berlebihan. Namun ketika semenjak awal penonton telah berhasil dibuat tertarik dan memiliki hubungan emosional tersendiri dengan jalan cerita dan setiap karakter di film ini, sentimentalitas kuat yang dihadirkan justru akan terasa bagaikan sebuah kisah hidup yang dialami sendiri oleh setiap penontonnya.

Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa Real Steel adalah sebuah film yang memiliki seluruh kualitas yang diinginkan Michael Bay untuk hadir dalam seri Transformers. Shawn Levy mampu menghadirkan deretan kualitas produksi mulai gambar hingga suara yang begitu tertata rapi dan terlihat meyakinkan. Di saat yang sama, dramatisasi kisah film ini menjadikan Real Steel tetap mampu menjalin hubungan emosional dengan para penontonnya. Deretan pengisi departemen akting film ini juga mampu tampil memuaskan, dengan Hugh Jackman dan Dakota Goyo berhasil memberikan daya tarik yang membuat karakter yang mereka perankan begitu hidup. Real Steel adalah sebuah hiburan aksi yang berhasil mengimbanginya dengan jalan cerita humanis yang begitu terasa indah untuk diikuti.

Real Steel (21 Laps Entertainment/Angry Films/ImageMovers/Reliance Entertainment, 2011)

Real Steel (2011)

Directed by Shawn Levy Produced by Shawn Levy, Susan Montford, Don Murphy, Robert Zemeckis Written by John Gatins (screenplay), Dan Gilroy, Jeremy Leven (story), Richard Matheson (short story, Steel) Starring Hugh Jackman, Dakota Goyo, Evangeline Lilly, Anthony Mackie, Hope Davis, Olga Fonda, James Rebhorn, Kevin Durand, Karl Yune Music by Danny Elfman Cinematography Mauro Fiore Editing by Dean Zimmerman Studio 21 Laps Entertainment/Angry Films/ImageMovers/Reliance Entertainment Running time 127 minutesCountry United States Language English

About these ads
Comments
  1. Rasyidharry says:

    Adegan pertarungan robotnya luar biasa keren & beneran emosional, diluar dugaan jadi film yang bagus

  2. Real Steel adalah sebuah bukti bahwa walau ide ceritanya dangkal, namun jika dieksekusi dengan baik akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Hubungan ayah-anak yang benar-benar buruk, jalinan emosi antara karakter Charlie (Hugh Jackman) dan Max (Dakota Goyo) yang berhasil dilakonkan secara sempurna (anda pasti sangat membenci karakter Charlie yang seenaknya menelantarkan anaknya dan anda pasti akan mampu melihat diri Charlie pada Max, sama-sama keras kepala dan nekad). Dialog-dialog yang mampu menggelitik dan membuat kita tertawa. Dan tentu, pertarungan robot yang disempurnakan lewat visual effect dan audio effect yang sempurna. Semua itu saling melengkapi dalam Real Steel.
    Ending film ini juga cukup bagus. Bukan sekedar kalah atau menang, namun kita dapat melihat apa sebenarnya yang berharga dalam hidup kita.
    Bagi saya adegan yang cukup menghibur adalah ketika Max dan Atom menari diiringi musik hip hop. Keren sekali. Haha. Chemistry antara Max (manusia) dan Atom (robot) juga terasa pas. Walau Atom adalah robot yang tidak memiliki emosi, namun visualisasinya membuat seakan Atom memiliki jiwa yang mampu memahami Max. Film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton.

  3. jono says:

    transformer versi lite ya ????? hehehehe

  4. tuta says:

    sumpaahhh baru kali ini film yang gw ngerasa terlibat didalamnya,, gw ngarsa mang bener2 ada pertarungan….. bener2 kereennn mampuusss… tontonan WAJIB!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s