Istilah film horor mungkin merupakan sebuah istilah yang menakutkan dalam industri film Indonesia. Bukan karena konten atau isi cerita dari banyak film horor asal Indonesia yang begitu mampu untuk menakuti semua penontonnya, namun lebih pada penggambaran mengenai betapa telah menurunnya derajat film-film horor Indonesia akibat serbuan film-film horor kelas murahan yang lebih banyak mengumbar adegan erotis, deretan komedi yang sama sekali tidak bekerja dan tampilan grafis yang menyakitkan mata daripada berusaha untuk menghadirkan sebuah tayangan horor murni yang mampu meningkatkan adrenalin para penontonnya dengan jalan cerita dan tampilan visual yang memang benar-benar mampu memenuhi definisi sebuah film horor berkualitas.

Perkenalkan Affandi Abdul Rachman. Sebelum dirinya memperoleh kepopuleran yang lebih besar lewat dwilogi HeartBreak.Com, Heart.Break.Com (2009) dan Aku atau Dia? (2010), Affandi terlebih dahulu mengarahkan Pencarian Terakhir (2008), sebuah film thriller yang walaupun gagal mendapatkan rekognisi luas secara komersil namun mampu memberikan sedikit harapan bagi penggemar film horor Indonesia bahwa masih ada beberapa sineas film mereka yang cukup peduli untuk menghantarkan sebuah film yang berkualitas. Affandi kini merilis The Perfect House, sebuah film yang menandai kembalinya dirinya ke ranah film horor. Berbeda dengan Pencarian Terakhir, Affandi melakukan sendiri penulisan naskah untuk The Perfect House, yang dalam kampanye komersilnya, diagung-agungkan sebagai film psychological thriller pertama di Indonesia.

Dalam The Perfect House, Cathy Sharon berperan sebagai Julie Weiland, seorang private tutor yang bekerja pada sebuah agensi pendidikan khusus anak-anak yang berkebutuhan khusus. Sebenarnya, setelah menyelesaikan proses pendidikan salah satu anak didiknya, Julie berencana untuk mengambil masa cuti selama sebulan yang telah lama telah ia angan-angankan. Namun, tepat beberapa hari sebelum masa cutinya dimulai, pemimpin agensinya (Astri Nurdin) menugaskan Julie untuk mengambil alih tugas rekan kerjanya, Lulu (Joy Revfa), yang tiba-tiba saja menghilang dan tidak diketahui dimana keberadaannya, untuk mendidik Januar (Endy Arfian), seorang anak yang semenjak kematian kedua orangtunya menjadi pribadi yang begitu tertutup pada dunia luar.

Karena lokasi rumah Januar yang berada jauh dari daerah perkotaan Jakarta, tugas untuk menjadi pembimbing belajar Januar harus diiringi dengan kerelaan Julie untuk tinggal di rumah anak tersebut bersama neneknya, Madam Rita (Bella Esperance), dan seorang perawat rumah mereka yang tidak pernah berbicara sama sekali, Yadi (Mike Lucock). Walau pada awalnya menganggap tugas tersebut telah menghalangi niatnya untuk berliburan, namun lama-kelamaan Julie mulai merasa tertarik pada diri Januar yang ia anggap sebagai seorang sosok anak yang jenius. Namun, perlakuan Madam Rita yang begitu misterius kepada Januar dan dirinya, membuat Julie semakin bertanya-tanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut. Misteri semakin mengental setelah Julie didatangi oleh ibunda Lulu (Erly Ashy) yang menjelaskan bahwa Lulu tidak pernah kembali setelah bertugas mendidik Januar di rumah tersebut.

Dengan berbagai referensi film-film asing yang dapat ditemukan di banyak adegan di film ini – bahkan dengan hanya berpegangan pada referensi dari film Identity (2003) penonton telah dapat mengungkap secara cepat apa yang menjadi misteri utama dari film ini – The Perfect House sayangnya tidak pernah tampil benar-benar memacu adrenalin para penontonnya. Naskah arahan Affandi dan Alim Sudio (Air Terjun Pengantin, 2009) bahkan sangat miskin momen-momen yang menantang daya pemikiran para penontonnya seperti yang biasanya dilakukan oleh banyak film beraliran psychological horror. The Perfect House justru mendapatkan momen-momen menegangkannya ketika jalan cerita film ini lebih mengarah pada sebuah film slasher – yang semakin menjelaskan mengapa ending film ini merupakan bagian terbaik dan tercerdas, walaupun sudah begitu mudah untuk ditebak, dari keseluruhan The Perfect House.

Mereka yang telah akrab dengan film-film misteri sejenis kemungkinan besar juga telah mengerti kemana arah cerita The Perfect House akan berjalan ketika karakter Madame Rita berkata bahwa, “Kamu sama sekali belum mengenal cucu saya dengan baik,” atau ketika salah seorang karakter terdengar sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Begitu mudah tertebak, dan sayangnya, begitu momen tersebut terbuka, keasyikan dalam menikmati The Perfect House kemudian berkurang secara drastis. The Perfect House juga tidak pernah berhasil meningkatkan intensitas jalan ceritanya semenjak awal yang membuat film ini kebanyakan hadir pada tingkat jalan cerita yang menengah dan tidak pernah benar-benar mampu tampil memikat.

Setidaknya, Affandi dan seluruh jajaran produksinya telah berusaha untuk menghadirkan atmosfer yang mencekam di sepanjang film. Latar belakang lokasi rumah Belanda dibuat sedemikian misterius dan mencekam – walau kebanyakan penonton akan mempertanyakan mengapa film ini diberi judul The Perfect House ketika rumah Belanda tua tersebut sama sekali tidak pernah disinggung atau terlibat dalam jalan cerita film ini. Tata sinematografi karya Faozan Rizal juga cukup mampu menangkap setiap momen yang dibutuhkan untuk semakin meningkatkan tingkat emosional dari jalan cerita film ini. Tata produksi lain yang cukup mengesankan adalah kehadiran tata musik arahan duo Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang juga sama berhasilnya dalam melengkapi setiap momen emosional dari The Perfect House.

Tidak ada penampilan yang istimewa dari jajaran pengisi departemen akting The Perfect House. Setidaknya Cathy Sharon telah berhasil meningkatkan kemampuannya dalam mengeksplorasi tampilan emosional wajahnya daripada apa yang pernah ia tampilkan dahulu di Bangku Kosong (2006). Penampilan dari Bella Esperance sebagai Madame Rita yang misterius juga tidak mengecewakan – akan terlihat memuaskan jika saja industri film Indonesia belum pernah melihat penampilan Shareefa Daanish sebagai Dara di film Rumah Dara (2010) yang sepertinya telah menjadi ikon film slasher di industri film nasional. Penampilan dari Endy Arfian juga cukup baik walau masih terlihat kaku dan kurang meyakinkan jika dilihat dari kemampuannya dalam melafalkan intonasi setiap dialognya.

The Perfect House adalah sebuah sebuah berkas harapan lain dalam insudtri film Indonesia bahwa jika mampu dikemas dengan sangat baik, sebuah film horor akan mampu terbang jauh dari imej-nya yang selama ini telah terlanjur dipandang sebagai sebuah genre yang hanya berisi film-film berkualitas rendahan. Memang, The Perfect House masih jauh dari kesan sempurna. Terlalu banyaknya referensi pada film-film horor asing yang dapat ditemukan dengan mudah di susunan jalan cerita film ini membuat misteri yang sebenarnya hendak disembunyikan Affandi Abdul Rachman hingga akhir film terkuak dengan begitu mudahnya di bagian awal penceritaan. The Perfect House sama sekali tidak mengecewakan… walaupun masih membutuhkan banyak sentuhan penting agar dapat menjadi sebuah film yang mengesankan.

The Perfect House (Vera Lasut Productions, 2011)

The Perfect House (2011)

Directed by Affandi Abdul Rachman Produced by Vera Lasut Written by Affandi Abdul Rachman, Alim Sudio Starring Cathy Sharon, Bella Esperance, Endy Arfian, Mike Lucock, Wanda Nizar, Erly Ashy, Joy Revfa, Vera Lasut, Irvan Barki Irawan, Astri Nurdin, Aiman Faisal, Sindhy Rosa, Soflintasia, Devin Noah, Ellin P. Lukman, Nicholas Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti Cinematography Faozan Rizal Editing by Yoga Krispratanna Studio Vera Lasut Productions Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Anserk says:

    Agak sedikit kecewa gw setelah menonton film ini setelah gw menunggu2 ni film, hal itu di karenakan :

    1. Film ini terlalu mudah di tebak, mirip sekali dengan “Identity”, kenapa? karena dari awal penonton sudah di arahkan akan keanehan mengenai diri si anak, dan tampilan si anak yang mirip sekali dengan gaya anak di “Identity”

    2. Alur yang tidak membuat andrenalin gw meningkat, harusnya penggarapan adegan klimaks saat si ibu dan si pembantu mati digarap dengan lebih dramatical dan dark, sesuai dengan apa yang di bangun di awal, sebenernya di awal gw dah berharap ni film dark banget mengingat awal2 pas nama pemain dan ada adegan si pembantu menganggat korban. Sayangnya di filmnya sendiri tidak dark.

    3. Tokoh si anak juga yang agak kurang terjaga actingnya, terlihat kalau si anak terlalu menikmati acting saat dia bermain, dan kurang kaku actingya.

    Menurut gw sih ni film cukup untuk di tonton mengingat saat ini hampir ga ada film horror Indonesia yang berkualitas, credit buat acting si Cathy, cukup bagus, si Bella Esperance juga bagus sayang untuk beliau masih kurang dark, karena harusnya dari karakter ini lha dark dari film ini bisa di bangun, mengingat figur ini adalah tokoh sentral di film itu.

    overal sih ok ni film cuma harus lebih kreatif mungkin dalam menciptakan cerita, karena sebenarnya yang membuat gw kecewa paling berat adalah tidak di ceritakanya latar belakang dari mengapa si anak menjadi begitu, sedangkan menurut gw film horror yang baik adalah film horror yang mampu memberikan penjelasan yang jelas mengenai mengapa tragedi itu terjadi. (cth film2 horror thailand yang selalu memberikan penjelasan mengenai hal itu).

    Tapi pesan buat yang buat film atau produsernya, jangan nyerah bikin film lebih berkualitas, saya sebagai salah satu orang yang ingin melihat film Indonesia berkualitas pasti ikut nonton dan ngajak teman2 untuk nonton film tersebut. he3

  2. Ibeth says:

    ceritanya, knapa januar memiliki 2 jiwa. . . awalnya ceritanya bagaimana, masih kurang jelas. . .

  3. Jean Valjean says:

    takdir adalah biarkan film horor tetap terpuruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s