Setelah menggarap film musikal Garasi pada enam tahun lalu, dan kemudian sempat ambil bagian dalam salah satu segmen film omnibus Belkibolang (2010), Agung Sentausa kembali duduk di kursi sutradara untuk mengarahkan Badai di Ujung Negeri. Berbeda dengan Garasi yang naskah cerita bernuansa musikalnya sangat dekat dengan akar penyutradaraan Agung yang terlebih dulu dikenal sebagai seorang sutradara video musik, Badai di Ujung Negeri menghadapkan Agung pada sebuah naskah film drama dengan baluran beberapa adegan aksi yang masih cukup jarang diangkat pada banyak film nasional saat ini. Agung sendiri memang cukup berhasil dalam mengarahkan tim produksinya untuk menghasilkan film dengan tampilan visual dan aliran penceritaan yang kuat. Sayangnya, naskah Badai di Ujung Negeri arahan Ari M Syarief (Maskot, 2006) terlalu lemah untuk mampu membuat film ini tampil lebih istimewa lagi.

Arifin Putra berperan sebagai Badai, seorang marinir yang bersama kesatuannya ditugaskan untuk menjaga perbatasan Indonesia di sebuah pulau di Laut Cina Selatan. Walau mengemban tugas yang cukup mulia, Badai sendiri tidak pernah menemukan kehidupan yang benar-benar nyaman selama bertugas di daerah tersebut. Masyarakat setempat seringkali menempatkan Badai dan kesatuannya sebagai orang-orang yang seringkali menimbulkan masalah dan justru lebih sering menyusahkan masyarakat setempat daripada memberikan perlindungan pada mereka. Pandangan negatif ini pula yang kemudian membuat hubungannya dengan salah seorang gadis setempat, Anisa (Astrid Tiar), tidak mendapatkan restu dari ibu angkatnya, dr Yana (Ida Leman).

Tugas Badai sebagai seorang marinir penjaga perbatasan diuji ketika masyarakat setempat dihebohkan dengan penemuan sesosok mayat di daerah lepas pantai dekat perkampungan mereka. Tidak hanya disitu, beberapa hari kemudian, sesosok mayat lainnya kembali ditemukan, yang jelas semakin memojokkan posisi Badai dan kesatuannya sebagai sekelompok pasukan yang bertanggung jawab atas keamanan daerah tersebut. Untuk mencegah agar situasi tidak semakin memburuk, pasukan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akhirnya turun tangan untuk melakukan operasi rahasia dan menguak kebenaran yang tersembunyi di balik misteri penemuan dua sosok mayat tersebut.

Dalam Badai di Ujung Negeri, karakter Badai dan kesatuan tempat ia bekerja dikisahkan bagaikan sekelompok pesakitan yang oleh masyarakat di sekitar wilayah mereka bertugas selalu dianggap sebagai pembawa masalah – bahkan terdapat satu sosok karakter pria setengah baya yang pada dua kejadian tiba-tiba muncul dan tanpa alasan jelas berteriak bahwa ‘Badai dan kesatuannya harus bertanggung jawab penuh atas kejadian tersebut.’ Masalahnya, hingga film ini berakhir, penonton tak kunjung diberikan penjelasan mengenai mengapa karakter Badai dan kesatuannya bisa berada di posisi tersebut. Kemungkinan besar, sang penulis naskah menganggap penonton akan menggunakan asumsi mereka selama ini terhadap citra pihak kepolisian dan aparat keamanan yang sering dianggap tidak dapat melakukan apa-apa guna melindungi masyarakat. Pun begitu, tetap saja, dalam sebuah film, hal itu justru menimbulkan sebuah lubang besar dalam cerita secara keseluruhan.

Naskah cerita Badai di Ujung Negeri juga menemukan beberapa kesulitan yang cukup mengganggu dalam membagi porsi cerita yang ingin disampaikan. Pembagian porsi cerita mengenai permasalahan pribadi dari karakter Badai – yang masih terbagi lagi antara masalah jalinan romansanya dengan karakter Anisa dan masalah persahabatannya dengan karakter Joko (Yama Carlos) – dengan permasalahan yang ia hadapi dalam tugas profesionalnya terasa tidak mampu untuk ditampilkan secara seimbang. Ketika Badai di Ujung Negeri akhirnya justru memberikan perhatian yang lebih besar pada kisah permasalahan pribadi karakter Badai – yang kemudian dieksekusi dengan sedikit terlalu datar, film ini kemudian terasa kurang mampu memanfaatkan premis adegan aksinya yang menjadikan tampilan adegan aksi dalam Badai di Ujung Negeri kurang maksimal dan terlalu singkat.

Dari departemen akting, sama sekali tidak ada yang istimewa. Untuk kedua kalinya, setelah Batas (2011), Arifin Putra memerankan sesosok karakter pria dewasa. Arifin sepertinya masih ‘terjebak’ untuk menggambarkan sesosok karakter pria dewasa sebagai karakter yang bertutur kata rapi, lemah lembut dan berkelakukan kaku. Yang menjadi highlight dari departemen akting Badai di Ujung Negeri tentu saja adalah Jojon yang kali ini harus menghapus semua imej komediannya dan memerankan seorang karakter yang antagonis. Karakter Piter yang ia perankan sayangnya kurang begitu mampu tergali dengan baik, namun akting Jojon harus diakui mampu tampil begitu baik.

Lemah dalam penceritaan dan sama sekali tidak istimewa dalam departemen akting, Badai di Ujung Negeri tampil sangat memuaskan dari segi tampilan tata produksinya. Padri Nadeak berhasil memilihkan deretan gambar yang sangat memuaskan untuk dipandang. Pilihan gambar tersebut kemudian berhasil disatukan dengan sempurna oleh suntingan Aline Jusria. Thoersi Argeswara sekali lagi membuktikan kelihaiannya dalam memberikan tata musik yang mampu memberikan tambahan emosional pada setiap adegan cerita. Dengan kekuatan tata produksi yang maksimal inilah Badai di Ujung Negeri terhindar dari hasil keseluruhan yang mengecewakan.

Sebenarnya, adalah sangat menyenangkan untuk melihat sineas perfilman Indonesia untuk memilih sebuah tema cerita yang berbeda untuk ditampilkan dalam setiap karya mereka. Begitu yang terjadi pada Agung Sentausa dan filmnya, Badai di Ujung Negeri. Merupakan sebuah drama yang memadukan tema cinta dan nasionalisme, Badai di Ujung Negeri sayangnya memiliki naskah cerita yang kurang mampu tertulis dengan rapi. Terdapat begitu banyak kelemahan pada struktur cerita dan karakterisasi yang ditampilkan sehingga membuat Badai di Ujung Negeri terasa cukup mengganggu pada beberapa bagian. Untungnya film ini masih mampu menyajikan tata produksi yang memuaskan. Walaupun sama sekali tidak akan mampu menghilangkan rasa datar akibat jalan cerita yang terlalu bertele-tele, namun setidaknya mampu menghindarkan Badai di Ujung Negeri dari gelar film yang gagal secara keseluruhan.

Badai di Ujung Negeri (Quanta Pictures, 2011)

Badai di Ujung Negeri (2011)

Directed by Agung Sentausa Produced by Pingkan Warouw Written by Ari M. Syarief Starring Arifin Putra, Astrid Tiar, Yama Carlos, Adrian Halim H., Dedy Murphy, Edo Borne, Ida Leman, Jojon, Priady Muzy, Kukuh Adi Rizky, M. Ilham Akbar Music by Thoersi Argeswara Cinematography Padri Nadeak Editing by Aline Jusria Studio Quanta Pictures Running time 94 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. dila says:

    tapi overall film ini layak bgt ditonton..
    nuansa alamnya,, dan alur nasionalisme lebih baik drpd film horor atau drama romantis biasa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s