Awards Watch: And Indonesia’s Academy Awards Submission is…

Posted: September 26, 2011 in Academy Awards, Awards, Features, Movies
Tags: , , , , , , , , , , ,

Merupakan sebuah penghargaan yang diadakan (umumnya) untuk film-film yang diproduksi oleh Hollywood, semenjak tahun 1947, Academy Awards telah membuka diri mereka kepada film-film yang berasal dari negara lainnya dengan mengadakan sebuah kompetisi film asing terbaik dalam kategori Best Foreign Language Film. Dan semenjak saat itu, 62 penghargaan telah dimenangkan oleh film-film asing dengan 51 penghargaan diantaranya dimenangkan oleh negara-negara yang berasal dari benua Eropa. Kategori Best Foreign Languange Film sendiri merupakan kategori dimana Academy of Motion Picture Arts and Sciences memberikan sebuah penghargaan bagi film karya produksi negara-negara di luar Amerika Serikat yang jalan ceritanya lebih dominan menggunakan bahasa di luar dari Bahasa Inggris.

Walau sama sekali belum pernah berhasil untuk menembus lima nominasi akhir di kategori Best Foreign Language, Indonesia telah aktif untuk mengirimkan film-film terbaiknya ke ajang Academy Awards semenjak tahun 1987. Sejak saat itu, 13 dari 14 film Indonesia yang dikirimkan berhasil diterima untuk ikut dalam seleksi awal kategori Best Foreign Language. Satu film yang dikirimkan pada tahun 1988 di-diskualifikasi dari seleksi awal karena dinilai tidak memiliki terjemahan yang mumpuni untuk dimengerti oleh pihak AMPAS. Pada beberapa tahun diantaranya – tahun 1991, tahun 1993-1997, 2000, 2001, 2004, dan 2008 – Indonesia tidak mengirimkan perwakilannya ke ajang Academy Awards dengan asumsi karena tidak menemukan kontender yang tepat untuk diikutkan bersaing di kategori Best Foreign Language Film.

Setiap tahunnya, pihak AMPAS mengundang setiap industri film di berbagai negara untuk mengirimkan perwakilan film terbaiknya untuk bersaing di kategori Best Foreign Language Film. Di Indonesia, film yang akan dikirimkan untuk bersaing di kategori tersebut diseleksi terlebih dahulu oleh pemerintah lewat Badan Pertimbangan Perfilman Nasional serta Persatuan Produser Film Indonesia – walau Berbagi Suami (2006) dan Denias, Senandung di Atas Awan (2007) berhasil masuk seleksi awal Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards berdasarkan pengiriman pribadi yang dilakukan kedua produser film tersebut. Sulit memang untuk menjelaskan bagaimana kriteria sebuah film dapat dipilih oleh BP2N dan PPFI untuk dikirimkan ke ajang Academy Awards karena kedua lembaga tersebut sama sekali tidak pernah memberikan keterangan resmi dan jelas kecuali bahwa film yang mereka pilih ‘berkualitas’ dan ‘mewakili industri perfilman Indonesia dalam jangka waktu satu tahun terakhir.’

Untuk tahun ini, AMPAS menetapkan tanggal 3 Oktober 2011 sebagai tanggal akhir bagi setiap negara untuk mengirimkan film perwakilan mereka. Tahun lalu, 68 negara mengirimkan perwakilan mereka ke ajang Academy Awards, termasuk Indonesia yang mengirimkan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010) karya sutradara Deddy Mizwar. Hingga saat ini sendiri, 42 negara telah mengumumkan film pilihan mereka untuk mengikuti seleksi awal Best Foreign Language Film di ajang Academy Awards, namun sama sekali belum terdengar kabar mengenai pilihan Indonesia untuk dikirimkan dan bersaing di ajang tersebut. Mungkin BP2N dan PPFI memerlukan saran tambahan? Maka At the Movies akan memilihkan beberapa film Indonesia yang telah dirilis hingga saat ini dan menjadi pertimbangan untuk dikirimkan kepada AMPAS.

Pertama, At the Movies akan mengeliminasi semua film Indonesia rilisan tahun 2011 yang telah ditayangkan di televisi. Peraturan AMPAS untuk kategori Best Foreign Language Film menegaskan bahwa film yang akan dikirimkan wajib sama sekali belum pernah mendapatkan masa tayang di saluran televisi. Peraturan lainnya adalah film yang dikirimkan haruslah telah mendapatkan masa tayang minimal selama tujuh hari di layar bioskop nasional sebuah negara. Jadi jangan berharap jika The Raid (2011), yang baru saja mendapatkan pujian tinggi dari kalangan kritikus film luar negeri di ajang Toronto International Film Festival 2011, untuk dapat mewakili Indonesia di ajang Academy Awards tahun ini. Academy Awards bukanlah Festival Film Indonesia yang tiba-tiba mengikutsertakan 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010) dalam barisan peraih nominasinya walaupun film tersebut sama sekali belum pernah dirilis di berbagai layar bioskop Indonesia.

Kentut (Citra Sinema, 2011)

Kedua, apa yang dibutuhkan untuk sebuah film agar dapat menarik perhatian para dewan juri Academy Awards? Ada banyak, tentu saja. Mari kesampingkan permasalahan promosi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kampanye yang dilakukan oleh sebuah film untuk dapat menarik perhatian para dewan juri Academy Awards dan hanya berfokus pada masalah kualitas yang dibawakan sebuah film. Academy Awards dikenal sebagai sebuah ajang yang sepertinya sangat menaruh perhatian besar pada film-film bertemakan sosial politik (tambahkan budaya jika film tersebut akan bersaing di kategori Best Foreign Language Film). Berkaca pada pernyataan tersebut, Kentut mungkin akan menjadi pilihan paling tepat untuk dikirimkan oleh Indonesia. Dibintangi oleh Deddy Mizwar – yang telah membintangi dua film yang sebelumnya dikirimkan ke ajang Academy Awards – Kentut merupakan sebuah satir sosial politik mengenai kondisi masyarakat Indonesia. Kentut sama sekali bukanlah sebuah film yang sempurna. Beberapa kelemahan pada cara sutradara Aria Kusumadewa mengarahkan film tersebut membuat Kentut beberapa kali terasa terlalu over the top. Pun begitu, naskah cerita Kentut merupakan salah satu naskah film Indonesia tercerdas yang pernah dirilis tahun ini. Sindiran politik sosial dan keberadaan Deddy Mizwar mungkin akan menjadi magnet kuat bagi film ini di ajang Festival Film Indonesia mendatang. Lalu kenapa tidak mencobanya juga untuk bersaing di ajang internasional?

Tendangan Dari Langit (SinemArt Pictures, 2011)

Walau gagal lolos ke babak utama, Korea Selatan tahun lalu mengirimkan A Barefoot Dream (2010), sebuah film berdasarkan kisah nyata yang mengisahkan mengenai naik turunnya kehidupan seorang pelatih sepakbola asal Korea Selatan ketika mengajarkan kemampuan olahraga tersebut pada anak-anak di negara Timor Leste. Tahun ini, Indonesia memiliki Tendangan Dari Langit, sebuah film bertemakan olahraga karya Hanung Bramantyo, salah satu sutradara Indonesia yang memiliki reputasi paling baik saat ini. Satu-satunya faktor yang kemungkinan besar membuat Tendangan dari Langit tidak terpilih adalah terlalu biasanya tema from zero to hero yang dibawakan oleh film ini. Terlepas dari hal itu, Tendangan dari Langit adalah film Indonesia dengan kualitas paling maksimal hingga saat ini. Arahan yang baik, naskah yang begitu mudah disukai, sinematografi yang handal serta akting para pemainnya yang begitu meyakinkan.

Hanung sendiri sempat merilis Tanda Tanya di awal tahun 2011, sebuah film yang mungkin mendekati Kentut dalam hal penyajian tema ceritanya, namun lebih condong ke arah penceritaan mengenai toleransi yang hadir antaar umat beragama di Indonesia. Sebuah pilihan yang sebenarnya sama sekali tidak buruk. Namun entah mengapa Tanda Tanya bagi At the Movies hadir tanpa sebuah jalinan emosi yang kuat untuk mampu menghadirkan esensi yang tepat dari jalan cerita film itu sendiri. The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) merupakan salah satu film dengan tata sinematografi terkuat di sepanjang tahun ini. Merupakan karya perdana Kamila Andini, yang mengisahkan mengenai hubungan antara seorang ibu dan anaknya yang berasal dari suku Bajo di wakatobi, Sulawesi Tenggara, saat ini film tersebut sedang aktif ikut serta dalam berbagai ajang festival film dunia – sebuah modal yang sangat baik. Sayang, seperti halnya Tanda Tanya,  The Mirror Never Lies (Laut Bercermin) kekurangan begitu banyak chemistry antara jalan cerita yang dihadirkan dengan penonton film itu sendiri.

Di Bawah Lindungan Ka'bah (MD Pictures, 2011)

Titanic (1997) pernah hadir sebagai film dengan biaya pembuatan termahal di masanya. Film epik drama romansa tersebut kemudian menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa sekaligus memenangkan 11 Academy Awards dari 14 nominasi yang diterima. Secara tidak sengaja, pihak produser Di Bawah Lindungan Ka’bah mengagung-agungkan film tersebut sebagai Titanic-nya Indonesia. Dengan biaya pembuatan (menurut pihak produser) sebesar Rp25 M, dan kisah romansa yang diadaptasi dari novel bersejarah karya Buya Hamka, sangatlah tidak mustahil bahwa film tersebut dapat menarik perhatian dewan juri Academy Awards… jika saja kualitas film benar-benar ini mampu mengimbangi kualitas Titanic seperti yang dihembuskan pihak produsernya. Sayangnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah tenggelam (ha!) dalam ajang persaingan film-film yang dirilis sepanjang liburan Lebaran beberapa waktu yang lalu. Jika benar bahwa pihak produser mengeluarkan biaya sebesar Rp25 M untuk biaya pembuatan film ini, maka Di Bawah Lindungan Ka’bah kemungkinan besar akan menjadi film dengan kerugian terbesar di sejarah industri film Indonesia mengingat jumlah penontonnya yang masih belum mampu menyentuh jumlah 500 ribu penonton (hingga saat tulisan ini dirilis).

Sejujurnya, jika didapuk sebagai pihak yang memilih film yang akan dikirimkan ke ajang Academy Awards, At the Movies hanya memiliki dua pilihan film: Kentutjika Indonesia ingin memilih sebuah film dengan tema sosial politik yang kuat seperti yang dilakukan Daun di Atas Bantal (1998), Ca-bau-kan (2002), Gie (2005), Berbagi Suami (2006) dan Jamila dan Sang Presiden (2009), seperti tahun-tahun sebelumnya, dan Tendangan dari Langit – jika Indonesia berkeinginan untuk mengirimkan film Indonesia dengan kualitas terkuat di sepanjang tahun ini. Dan At the Movies dengan senang hati mengumumkan bahwa Kentut akan menjadi pilihan terdepan. Pun begitu, mendengarkan beberapa selentingan kabar yang beredar, At the Movies tidak akan terkejut bila mendengar Di Bawah Lindungan Ka’bah yang resmi terpilih untuk mewakili Indonesia di kategori Best Foreign Language Film pada ajang Academy Awards.

About these ads
Comments
  1. [...] Awards Watch: And Indonesia’s Academy Awards Submission is… « At The Movies Tinggalkan sebuah Komentar Posted by Cineleone pada 2011/09/26 Awards Watch: And Indonesia’s Academy Awards Submission is… « At The Movies. [...]

  2. Cineleone says:

    Gua belum nonton satupun dari 3 calon film di atas, tapi dengan argumen Amir, gua juga kasih suara ke Kentut

  3. Rasyidharry says:

    Menurut gw sih film Indonesia terbaik 2011 sementara ini Catatan Harian SI Boy tapi kalo buat wakil di Oscar gw lebih ngedukung Tanda Tanya sama The Mirror Never Lies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s