Sebelum merilis Jersey Girl di tahun 2004 – sebuah film yang cukup menyenangkan, sebenarnya – Kevin Smith memiliki karir penyutradaraan yang cukup terpandang. Film-film drama komedi yang ia arahkan – mulai dari Clerks (1994), Mallrats (1995), Chasing Amy (1997), Dogma (1999) hingga Jay and Silent Bob Strike Back (2001) – dikenal sebagai film-film komedi dengan tingkat kecerdasan dialog yang sangat tajam… dan tetap mampu menghibur penontonnya. Namun Smith kemudian menambah panjang daftar filmografinya dengan film-film komedi mediocre yang terasa begitu melelahkan. Smith bahkan menghasilkan Cop Out (2010) – sebuah film yang menempatkan pasangan Bruce Willis dan Tracy Morgan sebagai pasangan polisi dengan deretan dialog dan adegan tidak lucu dan sangat mengesalkan (Morgan, khususnya!).

Tahun ini, Smith mencoba untuk tampil serius dan menjauh dari sentuhan drama maupun komedi. Terinspirasi dari gelombang kebencian yang dilancarkan beberapa kelompok ekstrimis agama terhadap kalangan homoseksual, Smith menulis naskah dan mengarahkan film horor/thriller/action, Red State. Benar-benar tampil berbeda dari berbagai material yang pernah ditangani Smith sebelumnya, Red State cukup mampu untuk tampil menarik dengan dukungan arahan Smith yang tertata dengan baik serta penampilan para jajaran pemerannya yang sangat meyakinkan. Tidak semua berjalan mulus, sayangnya. Naskah cerita yang dituliskan Smith tampil menggebu-gebu untuk meraup berbagai isu sosial politik yang ada di saat ini sehingga seringkali terlihat kehilangan fokus mengenai apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini sebenarnya.

Red State memulai kisah horornya dengan menceritakan persahabatan tiga remaja, Travis (Michael Angarano), Jared (Kyle Gallner) dan Billy Ray (Nicholas Braun). Seperti halnya banyak remaja pria lainnya, dengan kondisi hormon mereka yang sangat meluap-luap, ketiga remaja ini sangat haus akan adanya pengalaman seksual yang menantang. Karenanya, ketika Jared mengatakan pada ketiga temannya bahwa ia mendapat tawaran dari seorang wanita paruh baya, Sarah (Melissa Leo), yang berminat untuk berhubungan seks dengan ketiga remaja tersebut sekaligus, Travis dan Billy Ray jelas tidak menyatakan penolakannya. Sayangnya… seks bukanlah menu utama yang akan mereka dapatkan malam itu.

Ketiga remaja tersebut justru ditangkap oleh sekelompok anggota Five Points Church – sebuah organisasi gereja yang menentang dengan sangat keras keberadaan kaum homoseksual dan berbagai ‘virus masyarakat’ yang saat ini sedang menggeliat di kalangan penduduk Amerika Serikat – yang dipimpin oleh Pastor Abin Cooper (Michael Parks). Setelah menyaksikan secara langsung sebuah eksekusi mematikan terhadap pria yang dituduh sebagai seorang homoseksual di hadapan mereka, Travis, Jared dan Billy Ray tahu bahwa hidup mereka tidak akan berlangsung lama jika mereka tidak segera berusaha untuk melarikan diri dari gereja tersebut. Di luar gereja, seorang agen kepolisian, Keenan (John Goodman), yang telah lama mencium gerakan ekstrim yang dilakukan anggota Five Points Church, mulai berniat untuk mengkonfrontir gereja tersebut. Sebuah konfrontasi yang akan berakhir dengan banyak pertumpahan darah.

Red State sebenarnya dapat saja tampil sangat mengesankan jika Smith mau berfokus pada satu sisi penceritaan. Arahan yang ia berikan kepada naskah cerita dan para jajaran pemeran filmnya terbukti tidak mengecewakan. Namun, Smith mencampuradukkan terlalu banyak sub plot cerita sehingga mengganggu plot cerita utama yang telah dibangun semenjak awal. Tidak ada masalah sebenarnya jika Smith mampu mengelola dan mengatur kisah-kisah tersebut secara baik. Sayangnya tidak begitu hal yang terjadi pada Red State. Semakin lama film ini bercerita, semakin banyak karakter minor yang ditampilkan dengan membawa semakin banyak isu-isu sosial yang coba diselipkan Smith lewat deretan dialog yang yang disampaika para karakter tersebut. Hasilnya, tak satupun dari isu tersebut berhasil disampaikan secara tajam dan bermakna.

Transisi antara ritme penceritaan dari setiap kisah yang ingin disampaikan juga kurang mampu terjaga dengan baik. Pada beberapa bagian, Smith terlihat terlalu berfokus pada dialog dan adegan panjang beberapa karakter – kebanyakan oleh karakter Pastor Abin Cooper dan Agen Keenan – yang kadang membuat Red State tampil terlalu datar untuk dapat tampil menarik. Beberapa twist yang coba ddihadirkan juga terkesan kurang meyakinkan akibat gagalnya Smith dalam mengemas integrasi kejutan-kejutan tersebut ke dalam jalan cerita secara keseluruhan.

Di sisi positif, tata produksi film ini tampil dengan cukup rapi – walau tidak pernah sekalipun menghilangkan kesan bahwa film ini dibuat dengan dana yang sangat terbatas. Pergantian genre thriller menjadi action di bagian akhir kisah berlangsung sangat meyakinkan. Penampilan para jajaran pemeran Red State juga tampil begitu mengesankan. Mungkin tidak akan ada seorangpun yang merasa geram sekaligus takut melihat sosok Michael Sparks sebagai Pastor Abin Cooper yang menyampaikan khutbah kebenciannya dengan menggebu-gebu sekaligus tampil nekat memimpin para anggota gerejanya, yang juga berisi anggota keluarganya, menuju medan peperangan menghadapi kelompok polisi yang menyerang mereka.

Penampilan yang sama ‘menakutkannya’ juga datang dari Melissa Leo. Well… momen ‘drama’ ketika Leo mengucapkan kata fuck ketika memenangkan Best Actress in a Supporting Role di ajang The 83rd Annual Academy Awards jelas telah membuktikan bahwa Leo adalah sesosok pribadi yang ‘mencurigakan.’ Di Red State, Leo terlihat tidak perlu berpura-pura lagi dalam mengeluarkan sisi aneh dari kepribadiannya. Parks dan Leo juga mendapatkan dampingan kemampuan akting yang mumpuni dari jajaran pemeran lainnya. Mulai dari John Goodman, Kevin Pollak hingga nama-nama aktor muda seperti Michael Angarano, Kyle Gallner dan Kerry Bishé tampil sama meyakinkannya.

Red State dapat digambarkan sebagai sebuah usaha Smith untuk mencoba sebuah elemen baru dalam kemampuan penyutradaraannya. Harus diakui, Smith mampu beradaptasi dengan elemen thriller dan action yang mendominasi Red State dengan cukup baik. Dukungan dari departemen akting film ini – Michael Parks memberikan penampilan sebagai seorang karakter villain yang sangat meyakinkan – juga sepertinya semakin mempermudah usaha Smith tersebut. Jika saja Smith tidak terlalu tampil ambisius untuk menyampaikan banyak hal dalam naskah cerita yang ia tuliskan, mungkin Red State akan mampu tampil lebih menggigit dan meyakinkan. Red State masih cukup mumpuni untuk dinikmati. Walau pernyataan tersebut tidak akan memastikan bahwa film ini memiliki kualitas yang akan dapat dinikmati secara keseluruhan.

Red State (The Harvey Boys/NVSH Productions, 2011)

Red State (2011)

Directed by Kevin Smith Produced by Jonathan Gordon Written by Kevin Smith Starring Michael Parks, John Goodman, Kevin Pollak, Melissa Leo, Stephen Root, Michael Angarano, Kyle Gallner, Nicholas Braun, Ralph Garman, Kerry Bishé, Haley Ramm, Marc Blucas, James Parks, Anna Gunn, Betty Aberlin, Kevin Alejandro, Matt L. Jones Cinematography Dave Klein Editing by Kevin Smith Studio The Harvey Boys Running time 88 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. raka says:

    over rated ……kevin smith better back on his nature satire comedy…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s