Adalah sangat menyenangkan untuk melihat aktor sekelas Mel Gibson kembali hadir membintangi sebuah film dan terlepas dari segala permasalahan peribadi yang ia miliki. Dalam The Beaver, Gibson terbukti mampu membuktikan bahwa dirinya masih merupakan salah satu aktor terbaik yang dimiliki Hollywood hingga saat ini. Secara lugas, Gibson memerankan karakter seorang pria yang dilanda depresi dalam menjalani hidup dengan begitu jujur dan mendalam sehingga sangat efektif dalam menghadirkan tiap jalinan emosi dari karakter tersebut. Sayangnya, Jodie Foster sepertinya kurang mampu memadukan beberapa alur kisah dari The Beaver yang memiliki tingkatan emosi yang berbeda. Ditambah dengan kurang eratnya chemistry yang tercipta antara tiap karakter, The Beaver berakhir sebagai sebuah drama yang cukup baik, namun sama sekali tidak terasa istimewa.

The Beaver menempatkan Gibson sebagai Walter Black, seorang pria yang menemukan dirinya berada pada tingkat depresi yang sangat mendalam. Walter telah melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan rasa depresi tersebut – membaca berbagai buku, mengunjungi dokter, minum berbagai ramuan obat – namun gagal. Walter tetap saja merasa dirinya terlalu depresi untuk hidup dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dengan tidur seharian di ranjangnya. Istri yang mencintainya, Meredith (Jodie Foster), akhirnya merasa lelah untuk menangani Walter dan kemudian mengusir Walter keluar dari rumah mereka untuk melindungi psikologi dua putera mereka, Porter (Anton Yelchin) dan Henry Black (Riley Thomas Stewart). Jelas kini Walter tidak memiliki seorangpun dalam hidupnya, yang kemudian membuatnya memutuskan untuk melakukan tindakan bunuh diri. Hidup ternyata berkehendak lain. Walter gagal dalam melakukan bunuh dirinya, dan ketika ia terbangun… ia menemukan dirinya kini berada dalam komando sebuah boneka berang-berang yang berniat untuk memperbaiki kehidupan Walter.

Tidak hanya melulu berkisah mengenai usaha Walter dalam menghadapi rasa, The Beaver juga berkisah seputar kehidupan Porter, putera sulung Walter yang cerdas namun tergolong anti-sosial dalam kesehariannya. Dengan kemampuannya untuk mendengarkan serta memahami apa yang diinginkan oleh orang lain, Porter lalu menerima banyak uang dari teman-temannya untuk mengerjakan tugas mereka. Kehidupan Porter sendiri akan segera berubah ketika seorang cheerleader populer di sekolahnya, Norah (Jennifer Lawrence), meminta bantuan Porter untuk menuliskan pidato kelulusan untuknya. Secara perlahan, kedekatan Porter terhadap Norah membuat Porter mengetahui bahwa dibalik senyuman yang selalu ada di wajah populer Norah, tersimpan sebuah luka mendalam yang telah lama ia coba untuk sembunyikan dari orang banyak.

Terlepas dari kemampuan Jodie Foster untuk mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari setiap jajaran pemerannya dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan, Foster terlihat begitu kesulitan dalam menemukan titik keseimbangan antara dua kisah yang ingin ia hadirkan dalam The Beaver. Awalnya hanya berkisah mengenai perjuangan karakter Walter Black dalam menghadapi rasa depresinya, The Beaver kemudian berkembang dengan tambahan kisah hubungan yang terjalin antara karakter Porter dan Norah. Keputusan Foster untuk menampilkan dua kisah ini secara bergantian tanpa diiringi dengan ritme penceritaan yang serasi antara keduanya membuat The Beaver terasa begitu dipaksakan dan kurang mampu dalam menghasilkan sebuah ikatan emosional yang mendalam dengan para penontonnya.

Pun begitu, naskah cerita yang ditulis oleh Kyle Killen sendiri sebenarnya merupakan sebuah susunan kisah yang mampu tampil istimewa dalam menggambarkan sebuah keadaan depresi yang dialami karakter-karakternya. Tidak seperti kebanyakan kisah lain yang bertema sama, Killen menampilkan keadaan depresi tersebut dalam sebuah jalinan kisah yang unik yang ditampilkan secara mendalam serta dengan penuh kejujuran. Cukup disayangkan jika kemudian Foster menyia-nyiakan hal ini dengan pengarahan yang kurang mampu untuk menampilkan visi utama dari jalan cerita The Beaver dan terkesan hanya menampilkannya sebagai sebuah kisah drama keluarga yang bermasalah belaka.

Keunikan jalan cerita The Beaver sendiri mendapatkan sebuah perwakilan yang sangat baik dari tata musik yang diarahkan oleh komposer Marcelo Zarvos. Di awal cerita, untuk menampilkan sisi komedi dari kisah depresi yang dialami oleh karakter Walter Black, Zarvos banyak menggunakan instrumen akordion dalam tata musiknya. Dengan penataan yang sangat menarik, suara akordion yang dihasilkan oleh Zarvos benar-benar mampu tampil sebagai elemen pengiring yang sangat kuat dalam kisah kehidupan karakter Walter Black. Harus diakui, selain penampilan apik dari Mel Gibson, tata musik arahan Marcelo Zarvos-lah yang kemudian mampu mencuri perhatian sedemikian rupa sekaligus menjadi keistimewaan lainnya dari The Beaver.

The Beaver tidak sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai hasil penyutradaraan Jodie Foster yang gagal. Foster cukup mampu untuk mengeluarkan kemampuan akting terbaik setiap jajaran pemerannya serta memberikan sebuah usaha yang baik dalam menggambarkan rasa sakit dan depresi yang dialami para karakternya. Namun, kegagalan Foster dalam menghasilkan chemistry yang erat antara setiap karakter yang hadir serta hilangnya fokus utama yang ingin dihadirkan oleh naskah cerita The Beaver justru menjadi sebuah kesalahan fatal yang membuat The Beaver akhirnya kurang mampu untuk memberikan ikatan emosional mendalam pada penontonnya yang sebenarnya sangat dibutuhkan film ini untuk berhasil menyampaikan jalan ceritanya yang unik.

The Beaver (Summit Entertainment/Participant Media/Imagenation Abu Dhabi FZ/Anonymous Content, 2011)

The Beaver (2011)

Directed by Jodie Foster Produced by Steve Golin, Keith Redmon, Ann Ruark Written by Kyle Killen Starring Mel Gibson, Jodie Foster, Anton Yelchin, Jennifer Lawrence, Riley Thomas Stewart, Zachary Booth, Cherry Jones Music by Marcelo Zarvos Cinematography Hagen Bogdanski Editing by Lynzee Klingman Studio Summit Entertainment/Participant Media/Imagenation Abu Dhabi FZ/Anonymous Content Running time 91 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. Bila anda menonton trailer The Beaver sebelum menonton filmnya, maka anda akan disesatkan oleh banyak hal. Pada waktu saya menonton trailer The Beaver, saya sempat mengira bahwa film ini adalah film komedi keluarga biasa. Namun ketika saya menonton, film ini malah ikut membuat saya stress dan tertekan juga. Haha! Ini benar-benar film psikologi. Walau tidak seberat Black Swan, namun tetap saja membuat saya tidak terhibur menontonnya. Film ini tidak buruk sebenarnya, namun karena saya menontonnya dengan ekspektasi yang berbeda (akibat disesatkan oleh trailernya) maka ada sedikit perubahaan mood dalam diri saya ketika menyaksikan filmnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s