Tidak seperti The Kids Are All Right yang dirilis tahun lalu, Shelter adalah sebuah film yang dipastikan akan mengikuti jejak The Forgotten (2004) dan Next (2007): dibintangi oleh Julianne Moore yang selalu dapat menampilkan kemampuan akting yang solid namun tetap gagal meningkatkan kualitas filmnya secara keseluruhan akibat terlalu lemahnya naskah cerita yang ditawarkan. Shelter sebenarnya tidak terlalu buruk. Dimulai sebagai sebuah psychological thriller yang menarik tentang seseorang yang mengalami kepribadian ganda, sayangnya Shelter kemudian berubah arah menjadi sebuah film horor generik yang sepertinya berusaha untuk menakuti para penontonnya dengan menghadirkan berbagai formula horor standar yang telah terlalu sering ditampilkan oleh Hollywood.

Ditulis oleh Michael Cooney (Identity, 2003), Shelter berkisah mengenai Dr Cara Jessup (Moore), seorang psikiater yang selama ini menggunakan ilmu pengetahuan yang ia miliki untuk menentang berbagai klaim tentang penyakit kepribadian ganda yang dialami oleh para narapidana di pengadilan untuk mencegah mereka mendapatkan pengampunan. Cara percaya bahwa kepribadian ganda adalah tak lebih dari sesuatu imajinasi berlebihan yang terjadi akibat pengaruh berbagai novel fiksi dan film-film Hollywood yang beredar. Namun, kepercayaan tersebut akan segera berubah ketika Cara karena yang diperkenalkan oleh sang ayah, Dr Harding (Jeffrey DeMunn), kepada seorang pria yang diduga memiliki kepribadian ganda (Jonathan Rhys Meyers).

Pria tersebut diperkenalkan dengan nama David, seorang lumpuh yang berbicara dengan aksen Selatan yang lembut. Namun, beberapa saat kemudian, David berubah menjadi Adam, pria agresif dengan tutur kata yang keras dan dapat berdiri di atas kakinya. Walau awalnya merasa skeptis terhadap kasus yang diberikan sang ayah, namun lama-kelamaan Cara mulai merasa tertarik untuk menyelidiki apa yang menyebabkan pasien tersebut memiliki kepribadian ganda. Saat Cara mulai meneliti lebih jauh mengenai kehidupan pasien tersebut, di saat itu pula berbagai misteri mulai menyeruak dan memasuki kehidupan Cara dan keluarganya.

Meskipun pada awalnya tampil sebagai sebuah psychological thriller yang menawarkan sebuah analisis medis atas penyakit kepribadian ganda, Shelter secara perlahan berganti arah menjadi sebuah sajian horor supernatural yang terasa tidak masuk akal – bayangkan saja sebuah film yang dihasilkan oleh seorang penulis naskah film thriller Identity yang bekerjasama dengan produser dari film The Ring (2002) – dan berakhir sebagai sebuah film dengan naskah cerita yang terasa bagaikan sebuah penggabungan dari dua jalan cerita yang berbeda. Begitu sajian kisah supernatural mulai mengambil alih jalan cerita secara penuh, Shelter berubah menjadi sebuah tayangan yang dipenuhi adegan-adegan klise tentang seorang karakter yang mencoba menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi dari sebuah ‘kutukan’ yang menghantui kehidupan mereka.

Pun begitu, Michael Cooney harus diakui cukup berani dalam menampilkan deretan twist yang ia sajikan di sepanjang cerita. Deretan twist tersebut cukup mampu untuk memberikan kejutan dan horor bagi para penonton walaupun harus berakhir dengan kesan menjemukan dan terasa diulur terlalu lama akibat disajikan dengan tampilan yang sama berulang kali. Shelter juga didukung oleh tata produksi yang sederhana namun mampu dimanfaatkan dengan maksimal. Beberapa kali, atmosfer film yang menyeramkan mampu didukung penuh oleh tata cahaya yang gloomy serta tata musik khas horor yang tersaji dengan cukup baik.

Dari departemen akting, Julianne Moore seperti biasa tetap mampu tampil dengan kemampuan akting yang tidak diragukan lagi. Setelah The Forgotten yang mengecewakan itu, mungkin sebagian orang bertanya-tanya mengapa Moore mau menerima Shelter. Namun, karakter Dr Cara Jessup yang diperankan Moore jelas merupakan seorang karakter yang menantang: seorang psikiater dengan masa lalu kelam dimana suaminya dibunuh dengan brutal yang menyebabkan dirinya serta beberapa orang yang berada di sekitarnya kehilangan kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. Karakter yang kompleks yang mampu diterjemahkan Moore dengan elegan dan sangat baik.

Selain Moore, Jonathan Rhys Meyers juga mampu memberikan penampilan horor yang apik. Dengan kemampuannya untuk memerankan beberapa karakter yang berbeda sekaligus, penampilan Meyers cukup meyakinkan. Shelter juga didukung penampilan yang tidak mengecewakan dari jajaran pemeran pendukungnya, mulai dari Jeffrey DeMunn, Frances Conroy, Nathan Corddry hingga aktris cilik, Brooklyn Proulx, yang membuat jalan cerita Shelter semakin dapat dinikmati selama durasi film yang mencapai 112 menit ini berjalan.

Cukup disayangkan jika Shelter kemudian terjebak dengan segala hal klise yang ditampilkan film ini di paruh keduanya. Padahal, pada bagian awal film, Shelter tumbuh dari premis sebuah psychological horror yang cukup mampu dikembangkan oleh sutradaranya, Måns Mårlind dan Björn Stein, menjadi sebuah jalan cerita yang cukup menjanjikan dan menarik. Pun begitu, Shelter masih mampu memberikan tampilan yang cukup layak untuk disimak dengan Julianne Moore dan jajaran pemeran pendukung film memberikan kemampuan akting yang maksimal.

Shelter (NALA Films/Macari/Edelstein/Shelter Productions, 2010)

Shelter (2010)

Directed by Måns Mårlind, Björn Stein Produced by Emilio Diez Barroso, Darlene Caamano Loquet, Mike Macari, Neal Edelstein Written by Michael Cooney Starring Julianne Moore, Jonathan Rhys Meyers, Jeffrey DeMunn, Frances Conroy, Nathan Corddry, Brooklyn Proulx, Jeffrey Jones Music by John Frizzell Cinematography Linus Sandgren Editing by Steve Mirkovich Studio NALA Films/Macari/Edelstein/Shelter Production Running time 112 minutes Country United States Language English

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s