Seperti yang Anda dan seluruh dunia tahu, sebuah film yang dibintangi Jason Statham adalah sebuah film bergenre action yang tanpa terlalu mempedulikan kehadiran plot cerita dimana Statham akan berperan menjadi seorang pria jantan yang tidak mengenal aturan dan belas kasihan dalam memberikan pelajaran pada mereka yang telah berani mengganggu kehidupannya atau orang-orang yang dikasihinya – bahkan dalam Gnomeo and Juliet ia memerankan karakter tersebut. Bukan sesuatu hal yang buruk, sebenarnya. Statham telah tumbuh dan melekat di benak banyak penonton film dunia menjadi seorang ikon bintang laga yang mampu menghadirkan deretan adegan action yang begitu memukau. Bahkan Anda akan merindukannya ketika deretan adegan tersebut absen di dalam jalan cerita. Seperti yang akan Anda rasakan ketika menyaksikan Blitz, sebuah film dimana Jason Statham menghabiskan waktunya tidak untuk berkelahi, melainkan berdialog panjang lebar dengan karakter-karakter lainnya.

Jadi apa yang mencegah Statham untuk dapat memamerkan keahliannya dalam mempraktekkan koreografi laganya? Ia mendapatkan peran sebagai seorang polisi. Tentu saja Anda tidak akan mendapatkan penggambaran seorang polisi yang taat aturan dan perintah atasan dari seorang Jason Statham. Dalam Blitz – yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Ken Bruen (London Boulevard) — Statham memerankan karakter Sergeant Tom Brant, seorang polisi yang selalu berusaha ‘menegakkan hukum’ dengan caranya tersendiri… yang tentu saja akan melibatkan banyak orang mengalami pendarahan dan luka-luka sekaligus membuat nama sektor kepolisian tempat ia bekerja menjadi bahan kecaman di media massa.

Namun, hal tersebut berubah ketika London dihantui oleh teror seorang maniak yang memburu dan membunuh para anggota kepolisian. Tidak sekedar membunuh para polisi, pembunuh yang menyebut namanya sebagai Blitz (Aidan Gillen) ini juga dengan bangga melaporkan setiap aksinya pada seorang reporter bernama Harold Dunlop (David Morissey) via telepon demi mendapatkan popularitas. Ketika jumlah korban semakin bertambah, Sergeant Brant yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus ini bersama Liutenant Porter Nash (Paddy Considine) – seorang polisi homoseksual yang banyak dicemooh oleh rekan kerjanya dan awalnya ditanggapi sebelah mata oleh Brant – harus segera memperbaiki sikapnya, mengenyampingkan perbedaannya dengan Liutenant Nash dan segera menangkap sang pembunuh tersebut.

Mereka yang berniat untuk membeli tiket pertunjukan Blitz sembari mengharapkan deretan adegan penuh darah akibat kesadisan karakter yang diperankan oleh Statham dalam melawan setiap musuhnya, tampaknya harus segera mengurungkan niat mereka. Blitz bukanlah sebuah film yang sesederhana itu – walaupun sama sekali tidak menawarkan sebuah jalan cerita yang kompleks juga. Deretan kisah Blitz dihadirkan sebagai rentetan kisah penyelidikan karakter Sergeant Nash dan Liutenant Nash dalam menemukan sang pembunuh. Terdengar cukup misterius dan menarik untuk diikuti, namun sayangnya sutradara, Elliott Lester (Love is the Drug, 2006), gagal dalam menjaga kerapian aliran cerita film ini secara keseluruhan.

Sedari awal, Lester seperti kebingungan untuk meletakkan fokus cerita Blitz. Menghadirkan sebuah adegan penuh kekerasan di awalnya, Blitz kemudian kembali terlihat kasar dalam menggambarkan bagaimana sang pembunuh mengeksekusi para korbannya untuk kemudian berubah lembut (dan sangat lamban) dalam menggambarkan beberapa kisah pribadi para karakternya (pernah melihat karakter yang diperankan Jason Statham duduk diam dan mendengarkan dengan sepenuh hati curahan hati rekan kerjanya yang gay? Here’s your chance!). Lester juga menghadirkan beberapa plot kisah tambahan yang sebenarnya tidak begitu esensial dan akibatnya justru membuat Blitz semakin bertambah membosankan.

Baiklah, Blitz juga bukanlah sebuah film yang murni diisi dengan adegan drama. Terlepas dari beberapa adegan kekerasan yang telah disebutkan sebelumnya, alur film ini kemudian meningkat dengan cepat pada durasi 30 menit sebelum film ini berakhir dengan menghadirkan adegan kejar mengejar antara karakter Sergeant Brant dengan karakter sang pembunuh. Sayangnya adegan yang telah dikemas cukup baik tersebut berakhir dengan sebuah anti-klimaks yang membuat alur cerita kembali mendingin sebelum akhirnya Lester memberikan ending yang kembali akan memacu adrenalin para penontonnya. Karakter sang pembunuh yang dihadirkan sebagai seorang penggilan publisitas juga mendapatkan terlalu banyak ekspos di dalam jalan cerita. Menit dimana wajah sang pembunuh ditampilkan di dalam sebuah adegan, di menit itu pula kesan misterius dan daya tarik film ini semakin berkurang.

Jason Statham adalah Jason Statham di film ini, bergantung dari cara pandang Anda selama ini dalam melihat kemampuan aktingnya. Namun Blitz juga memperoleh penampilan akting yang cukup apik dari para pemeran pendukung film ini: Paddy Considine, David Morrissey dan Aiden Gillen. Pun begitu, perhatian utama dari Blitz memang berada pada karakter yang diperankan oleh Statham. Tidak peduli bahwa Elliott Lester berhasil menghasilkan tampilan gambar yang cukup bagus atau menyediakan tata musik yang berdentum kencang penuh energi, perhatian akan selalu ditujukan pada seorang Jason Statham. Kembali lagi, cara Anda memandang film ini secara keseluruhan bergantung dari cara pandang Anda selama ini dalam melihat kemampuan akting Statham.

Blitz, ladies and gentlemen, adalah sebuah film yang dibintangi oleh Jason Statham. Tentu, selama ini kritikus film dunia telah banyak bersenang-senang dengan memberikan label pada setiap film yang dibintangi Statham sebagai sebuah film popcorn yang tidak begitu berarti kehadirannya. Walau begitu, semua penonton tahu, setiap film yang dibintangi Statham mampu akan memberikan kesenangan sendiri dengan berbagai kebodohan plotnya dan tampilan action-nya yang menawan. Blitz, ladies and gentlemen, adalah bukan film Statham yang akan mampu menawarkan kesenangan tersebut. Statham masih berperan sebagai seorang karakter jantan yang tidak mempedulikan aturan namun dirinya terjebak untuk mengikuti jalan cerita yang seperti ingin membuatnya terlihat sebagai seorang pria yang bukan sekedar memiliki otot belaka. Karakter film yang sama sekali jauh dari jangkauan Statham yang akhirnya justru membuat Blitz terlihat tidak meyakinkan… dan membosankan secara keseluruhan.

Blitz (Lions Gate Entertainment/Davis Films, 2011)

Blitz (2011)

Directed by Elliott Lester Produced by Steve Chasman, Zygi Kamasa, Donald Kushner, Brad Wyman Written by Nathan Parker (screenplay), Ken Bruen (novel) Starring Jason Statham, Paddy Considine, Aidan Gillen, David Morrissey, Zawe Ashton, Luke Evans, Mark Rylance, Richard Riddell Music by Ilan Eshkeri Cinematography Rob Hardy Editing by John Gilbert Studio  Lions Gate Entertainment/Davis Films Distributed by Lions Gate Entertainment Running time 97 minutes Country United Kingdom Language English

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s