Bukan bermaksud untuk merendahkan niat dan hasil yang dicapai oleh para produser Trilogi Merdeka, namun semenjak kisah pertama dari seri tersebut dirilis pada tahun 2009, Merah Putih, dan kemudian dilanjutkan setahun kemudian dengan Darah Garuda, Trilogi Merdeka tidak pernah benar-benar mampu menghantarkan janji-janji para produsernya untuk menyajikan sebuah film epik a la film action Hollywood mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan para penjajahnya. Setelah Merah Putih mendapat begitu banyak kritikan karena kurang menghadirkan unsur aksi di dalam jalan ceritanya, Darah Garuda kemudian menunjukkan beberapa perbaikan. Walau masih diliputi dengan kisah drama yang panjang, Darah Garuda mampu menghadirkan sekelumit adegan aksi dan ledakan yang cukup mumpuni dan telah lama dinanti penonton untuk dihadirkan di trilogi ini.

Dengan terlihatnya (sedikit) perbaikan di seri keduanya, wajar jika penantian penonton terhadap seri terakhir dari Trilogi Merdeka, Hati Merdeka, juga bertambah semakin besar. Deretan karakter yang telah ada dari seri sebelumnya, Amir (Lukman Sardi), Marius (Darius Sinathrya), Tomas (Donny Alamsyah), Dayan (T. Rifku Wikana) dan Senja (Rahayu Saraswati), digambarkan sedang dalam sebuah misi untuk mengambil peta dari tangan pasukan Belanda. Tampil dengan intensitas yang cukup terjaga, dan ditambah dengan adegan action yang dihadirkan dengan cukup baik, menit-menit awal film ini seperti ingin menunjukkan potensi bahwa Hati Merdeka akan menjadi sebuah penutup sebuah trilogi yang tampil lebih baik dari dua seri sebelumnya. Sayangnya, mereka yang menginginkan lebih banyak adegan aksi dan ledakan kembali harus melalui berbagai drama yang tidak mengesankan sebelum akhirnya mendapatkan kembali adegan-adegan tersebut di penghujung film.

Tidak seperti Hati Merdeka, pasukan yang dipimpin Amir diceritakan tidak lagi melakukan penyerangan kepada pihak Belanda secara keseluruhan. Mereka kini mendapatkan sebuah tugas untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell), seorang pemimpin pasukan Belanda yang dikisahkan telah melakukan pembunuhan massal pada masyarakat Indonesia di tanah Bali dan dianggap sebagai seorang penjahat perang. Menilai bahwa tugas ini adalah sebuah tugas personal dan bukan sebuah tugas untuk melawan penjajahan, Amir kemudian menyatakan keluar dari pasukan. Tomas yang mengambil alih kepemimpinan pasukan akhirnya mengarahkan pasukannya menuju Bali sekaligus melawan seluruh bentuk halangan yang merintangi jalan mereka dalam untuk melaksanakan tugas tersebut.

Well… sayangnya harapan untuk mendapatkan sebuah akhir yang gemilang dari Trilogi Merdeka sepertinya harus dikubur rapat-rapat. Mereka yang menginginkan rentetan adegan action dan ledakan yang dahsyat dari trilogi ini mungkin akan terpuaskan ketika menyaksikan Hati Merdeka. Duo sutradara, Yadi Sugandi dan Connor Allyn, sepertinya mendengar banyaknya keluhan mengenai begitu datarnya dua film dalam trilogi ini dan menyelesaikannya dengan memberikan lebih banyak adegan berdarah, lebih banyak adegan peperangan dan lebih banyak adegan ledakan yang dihadirkan dalam durasi yang lebih banyak. Walau cara penyampaiannya tidak begitu impresif, dengan masih banyak terlihat beberapa kelemahan yang dapat dilihat di beberapa bagian adegan action tersebut, namun harus diakui Hati Merdeka akan cukup mampu memberikan hiburan tersendiri bagi para penggemar genre action.

Sayangnya, peningkatan yang berada pada deretan adegan action justru tidak dibarengi dengan peningkatan di bagian pengisahan drama di film ini. Bahkan, sangat mudah untuk mengatakan bahwa susunan kisah drama yang hadir di Hati Merdeka begitu berantakan dan lebih buruk dari dua seri sebelumnya. Memuat lebih banyak kisah cinta serta konflik antara karakternya, setiap adegan dalam Hati Merdeka seperti tidak memiliki sinergi yang pas antara satu sama lain, hampir seperti menyaksikan beberapa kisah yang disatukan dalam sebuah film. Yang lebih mengecewakan lagi, penggambaran setiap karakter terlihat begitu dangkal  dan tidak simpatik. Bahkan, karakter Marius seperti dihadirkan untuk menjadi ‘badut’ atau penyuplai tawa bagi penonton di film ini, dengan menjadikan karakternya yang pemabuk terlihat sering melakukan dan berkata hal-hal bodoh pada karakter-karakter lainnya yang ada di sepanjang jalan cerita.

Tidak ada pengembangan yang berarti dari sisi departemen akting. Nama-nama seperti Lukman Sardi, Darius Sinathrya, Donny Alamsyah, T. Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati dan Astri Nurdin terlihat hanya meneruskan peran mereka dalam dua seri sebelumnya (baca: lelah dan jenuh dalam memerankan karakter yang sama). Beberapa karakter baru dihadirkan, namun tidak ada satupun yang mampu mencuri perhatian seperti yang dilakukan Ario Bayu dan Atiqah Hasiholan (what’s up with her character, anyway?) pada Darah Garuda. Aktor asing, Michael Bell, malah tampil sangat buruk dalam memerankan karakternya, Kolonel Raymer. Sebuah plot cerita tambahan mengisahkan mengenai masa lalu Kolonel Raymer yang buruk ketika menjadi tahanan prajurit Jepang. Dan Bell memerankan adegan tersebut dengan sangat buruk!

Dan dengan demikian berakhirlah Trilogi Merdeka. Sebuah trilogi yang awalnya digembar-gemborkan sebagai sebuah kisah epik mengenai perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan dengan mengadaptasi tata penceritaan a la Hollywood yang dipenuhi dengan banyak adegan action, ledakan dan special effect dalam pengisahannya. Jika Merah Putih dapat dilihat sebagai indikasi kegagalan tersebut, maka sepertinya tidak perlu heran untuk menyaksikan bahwa Hati Merdeka juga tampil sama datar bahkan terkadang lebih buruk dari seri pertama dan keduanya. Hati Merdeka memang mampu meningkatkan vitalitas tampilan kisah action di dalamnya namun sayangnya tampil sangat berantakan dari unsur penulisan naskah ceritanya. Sangat, sangat disayangkan!

Merah Putih III: Hati Merdeka (PT Media Desa Indonesia, 2011)

Merah Putih III: Hati Merdeka (2011)

Directed by Yadi Sugandi, Connor Allyn Produced by Connor Allyn Written by Connor Allyn, Rob Allyn Starring Darius Sinathrya, T. Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Rahayu Saraswati, Nugie, Ranggani Puspandya, Astri Nurdin, Mike Bell, Arifin Putra, Agung Udijana, Marini, Henky Solaiman Music by Thoersi Argeswara Cinematography Padri Nadeak Editing by Sastha Sunu Studio PT Media Desa Indonesia Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. kiki says:

    well, everybody has their own taste, and different with the writer of this blog, i like this movie. but, thanks for your opinion, so far it such a good-polite critic

  2. WewW says:

    Kecewa berat ama film ini. Baru ntn semalem. T.T

  3. alur ceritanya ndak jelas.. lebih bagus film sebelumnya……..

    dondong-community.co.cc

  4. aziz says:

    terima kasi atas berjuangan demi mera puti qw berjanji menghidup kan kembali panji2 mera puti dengan semangat gombaran api di dada ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s