Because It’s Good for Your Mind!: How Moulin Rouge! Stays on Top After a Decade Later

Posted: June 5, 2011 in Features, Movies
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Di tahun 1899, Christian (Ewan McGregor) pindah ke daerah Montmare, Paris, guna mengejar mimpinya untuk menjadi seorang penulis. Secara tidak sengaja, ia kemudian terlibat dalam proses penulisan sebuah drama berjudul Spectacular Spectacular yang ditujukan untuk dijual dan ditampilkan di Moulin Rouge, sebuah klub malam paling eksklusif yang ada di kota Paris. Secara tidak sengaja pula, Christian berkenalan dengan Satine (Nicole Kidman), seorang courtesan dari Moulin Rouge yang paling populer karena kecantikannya. Sederhana, dua manusia ini kemudian jatuh cinta… namun kemudian harus menghadapi tantangan dari The Duke of Monroth (Richard Roxburgh) yang semenjak lama telah bernafsu untuk memiliki Satine.

Kisah cinta segitiga. Tragedi. Musikal. Tidak akan ada yang menyangka bahwa Baz Luhrmann akan mampu merangkai ketiga komponen tersebut menjadi sebuah sajian yang tampil begitu spektakuler seperti Moulin Rouge! Dirilis pada 1 Juni 2001, Moulin Rouge! kemudian memimpin bangkitnya kembali gairah Hollywood dalam membuat film-film musikal.  Mungkin, tanpa kehadiran Moulin Rouge!, Chicago (2002) tidak akan meraih begitu banyak perhatian dan mndapatkan kesempatan untuk memenangkan penghargaan Best Picture dalam ajang Academy Awards. Mungkin tidak akan ada yang tertarik untuk membawa Dreamgirls dari panggung Broadway ke layar lebar. Mungkin tidak akan ada yang menginspirasi Walt Disney untuk membuat tiga seri High School Musical. Mungkin Ryan Murphy tidak akan memiliki ide untuk mengumpulkan playlist lagu-lagu favorit remaja dan merubahnya menjadi drama musikal Glee. Dan pastinya Christina Aguilera tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di layar lebar lewat debut aktingnya di Burlesque (2010). Moulin Rouge! telah menginspirasi Hollywood untuk kembali bergiat diri dan menjadi kreatif dalam menampilkan sebuah musikal. Namun, di atas itu semua, setelah sepuluh tahun berjalan, belum ada satupun musikal yang memiliki pengaruh emosional dan tampilan seinovatif sekuat Moulin Rouge! Bagaimana Baz Luhrmann melakukannya?

Kejeniusan Luhrmann dalam menggarap sebuah musikal sebenarnya telah terlihat ketika ia merilis Strictly Ballroom (1992), sebuah film yang bersama dengan Romeo + Juliet (1996) dan Moulin Rouge! (2001) sering dikelompokkan sebagai The Red Curtain Trilogy oleh para kritikus film, yakni trilogi karya Luhrmann yang sama-sama terinspirasi dari karya teater. Kejeniusan Luhrmann begitu terlihat pada bagaimana ia memilih lagu-lagu yang mengisi setiap adegan di filmnya. Deretan soundtrack Strictly Ballroom memang kurang begitu populer, namun tidak akan ada satu manusiapun di Bumi yang tidak pernah mendengar kesuksesan deretan lagu-lagu yang dipilih Luhrmann untuk mengisi Romeo + Juliet, sebuah karya klasik William Shakespeare yang secara jenius diadaptasi Luhrmann menjadi sebuah kisah cinta modern. Tidak ada yang tidak mengenal Lovefool dari The Cardigans atau Kissing You dari Des’ree yang mengisi Romeo + Juliet. Romeo + Juliet menjadi sebuah fenomena ketika film tersebut mampu meraih begitu banyak perhatian, mempopulerkan nama Leonardo DiCaprio – dan membantunya untuk mendapatkan peran di Titanic (1997), sekaligus merebut perhatian jutaan pendengar yang memuji pemilihan Luhrmann atas lagu-lagu yang ada di rangkaian adegan di film itu. Namun, untuk sisi musikal, Romeo + Juliet hanyalah sebuah langkah awal.

Dalam sebuah wawancara, Luhrmann mengaku terinspirasi untuk membuat Moulin Rouge! ketika ia dan istrinya berkunjung ke India dan menyaksikan sebuah drama musikal berdurasi empat jam di negara tersebut. Dan mereka begitu terkesan sehingga memutuskan untuk menjadikan film musikal sebagai proyek film mereka selanjutnya. Bersama Craig Pearce, penulis naskah yang bekerja sama dengan Luhrmann dalam menuliskan Strictly Ballroom dan Romeo + Juliet, Luhrmann kemudian menuliskan Moulin Rouge!, sebuah film drama percintaan dengan latar belakang klub malam kabaret Moulin Rouge yang begitu populer ketika didirikan pada tahun 1889 di kota Paris, Perancis.

Dengan cerita yang berlatar belakangkan tahun 1900, adalah sangat mudah untuk Luhrmann untuk memilih lagu-lagu karya musikus populer seperti Mozart atau musik-musik bertema ballroom untuk mengisi departemen musik dari Moulin Rouge! Namun tidak. Terinspirasi dari sebuah drama tragedi asal Yunani, Orpheus, dimana karakternya, Orpheus, merupakan seorang jenius dalam bidang musikal yang mempu menghasilkan deretan nada dan irama modern jauh melebihi apa yang dapat dibayangkan para musikus lainnya di kala ia hidup, Luhrmann kemudian memilih lagu-lagu pop modern untuk mengisi filmnya. Hal ini kemudian disetarakan dalam film, dimana karakter Christian diceritakan mampu menghasilkan susunan lirik, nada dan irama lagu yang bernuansa akhir abad ke-20 ketika latar belakang cerita masih berada di awal abad tersebut. Hasilnya, seperti yang dapat disaksikan (dan dirasakan) para penikmat Moulin Rouge!: rangkaian lagu-lagu pop modern seperti Lady Marmalade, Nature Boy, Material Girl, Your Song, Roxanne atau The Show Must Go On yang dikemas dengan ritme teatrikal yang begitu mengesankan. Sebuah film musikal haruslah dapat diingat karena lagu-lagu yang berada di dalamnya, dan Baz Luhrmann dengan seluruh inovasinya berhasil melakukan hal tersebut.

Dan tentu saja, sebuah film tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa struktur penulisan naskah cerita yang baik. Dasar kisah Moulin Rouge! sendiri sebenarnya sangat sederhana. Dua karakter yang sehaarusnya tidak saling jatuh cinta namun menemukan diri mereka diliputi dengan seluruh perasaan terbaik dari cinta dan menghadapi tantangan yang datang untuk memisahkan mereka: baik tantangan dari orang lain maupun sebuah tantangan yang datang dari kematian.  Namun, bersama dengan Pearce, Luhrmann menuliskan kisah sederhana tersebut dengan penuh rasa sentimentalitas yang menggugah. Karakter-karakter yang dimunculkan begitu mudah untuk dicintai, dibenci maupun ditertawakan. Penonton pun akhirnya dapat secara cepat untuk merasa luluh untuk kemudian berpadu dan mengikuti rumitnya kisah cinta Satine dan Christian sembari berharap bahwa dua insan yang dimabuk cinta ini dapat menemukan kebahagiaan hati mereka. Tidak hanya melulu menyajikan kisah cinta, Luhrmann dan Pearce melatarbelakangi kisah tersebut dengan semangat bohemian yang saat itu memang sedang menggelora. Latar belakang ini semakin menambah warna pada penceritaan Moulin Rouge!.

Kisah cinta Satine dan Christian di Moulin Rouge! mungkin bukanlah sisi terbaik dari film ini – Terlalu sederhana? Terlalu familiar? Terlalu sentimental? – namun tidak akan ada yang dapat meragukan keberhasilan Luhrmann dalam menggarap tata produksi film ini dengan baik. Tata produksi Moulin Rouge! seperti tata kostum, sinematografi, editing, suara dan make up tampil begitu mempesona mengimbangi khidmatnya setiap lagu yang ditampilkan di film ini. Begitu meyakinkan dan akan membawa setiap penontonnya ke masa-masa keemasan bohemian dan glamor-nya klub malam Moulin Rouge. Perpaduan antara kisah cinta yang mendayu-dayu, komedi satir tentang cinta yang juga menghibur, lagu-lagu penuh semangat dan perasaan yang akan menghanyutkan setiap yang mendengarkannya serta tawaran akan mengalami sebuah pengalaman menyaksikan kabaret musikal Moulin Rouge lewat tampilan tata kostum, sinematografi, tata rias dan tata musik yang dijaga dengaan apik itulah yang menyebabkan mengapa Moulin Rouge! begitu mudah untuk disukai dan tak mudah dilupakan. Begitu tragis namun begitu indah.

Selepas masa rilisnya, Moulin Rouge! menarik begitu banyak perhatian dari berbagai ajang penghargaan film dunia, termasuk berhasil meraih delapan nominasi di ajang The 74th Annual Academy Awards. Sayangnya, keberhasilan Baz Luhrmann untuk menggarap dan menata Moulin Rouge! untuk menjadi sebuah film musikal yang begitu mempesona indera penglihatan dan pendengaran seperti tidak digubris pihak Association of Motion Pictures Arts and Sciences ketika Luhrmann gagal meraih nominasi Best Director. Moulin Rouge! sendiri kemudian ‘hanya’ berhasil memenangkan dua Academy Award untuk Best Art Direction-Set Decoration dan Best Costume Design. Terdengar tidak adil untuk film semewah Moulin Rouge!? Mungkin saja. Namun setiap penonton film tahu bahwa Moulin Rouge! adalah salah satu film musikal yang cukup monumental. Sebuah ode terhadap kecantikan, kebenaran dan cinta, Moulin Rouge! adalah sebuah film yang jelas sedang berada di jalur yang tepat untuk menjadi sebuah film klasik yang akan selalu dicintai dan bertahan atas ujian perjalanan waktu.  Moulin Rouge! bukan sekedar sebuah cerita. Moulin Rouge! adalah sebuah pengalaman.

Moulin Rouge! (Bazmark/20th Century Fox, 2001)

Moulin Rouge! (2001)

Directed by Baz Luhrmann Produced by Baz Luhrmann, Fred Baron, Martin Brown Written by Baz Luhrmann, Craig Pearce Starring Ewan McGregor, Nicole Kidman, Jim Broadbent, Richard Roxburgh, John Leguizamo, Jacek Koman, Caroline O’Connor, Garry McDonald, Keith Robinson, Natalie Mendoza, David Wenham, Kiruna Stamell, Kylie Minogue Music by Craig Armstrong, Marius de Vries Cinematography Donald McAlpine Editing by Jill Bilcock Studio Bazmark Distributed by 20th Century Fox Release date June 1, 2001 Running time 128 minutes Country Australia, United States, United Kingdom Language English

About these ads
Comments
  1. Come What May (Ewan McGregor ft Nicole Kidman) menjadi salah satu lagu original sountrack terfavorit saya, sampai saat ini. Selalu merinding ngedengerinnya, walaupun terus terang aja untuk filmnya sendiri sudah lupa-lupa ingat (banyakan lupanya) hehee..
    salam :)

  2. Cinetariz says:

    Tidak hanya Come What May, tapi semua lagu yg menghiasi film ini sungguh mengesankan. Baz Luhrmann sungguh jenius. Moulin Rouge memiliki soundtrack yg patut masuk ke dalam deretan soundtrack terbaik yg pernah ada!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s