Setelah Interview with the Assasin (2002), The llusionist (2006) dan The Lucky Ones (2008), Limitless menandai kali pertama sutradara Neil Burger menyutradarai sebuah film yang naskah ceritanya sama sekali tidak melibatkan Burger dalam proses penulisan. Mungkin faktor tersebut yang menyebabkan Limitless beberapa kali terlihat kurang mampu mengembangkan beberapa sudut ceritanya dengan baik. Pun begitu, sebagai sebuah film drama thriller, Burger mampu mengemas Limitless dengan ritme penceritaan yang cukup cepat yang kemudian membuat film ini dapat dengan mudah tampil menghibur para penontonnya.

Dengan naskah yang dikerjakan oleh Leslie Dixon berdasarkan novel yang berjudul The Dark Fields karya Alan Glynn, Limitless akan memperkenalkan penontonnya pada Eddie Morra (Bradley Cooper), seorang penulis yang kehidupannya sedang berada di ambang kehancuran: ia sama sekali tidak mampu mendapatkan ide untuk melanjutkan tulisannya, pacarnya, Lindy (Abbie Cornish), baru saja memutuskannya serta memiliki kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Secara tidak sengaja bertemu dengan mantan adik iparnya, Vernon Gant (Johnny Whitworth), Eddie ditawari sebuah pil yang menurut Vernon dapat membuat Eddie mampu menggunakan potensi otaknya secara maksimal. Walau awalnya ragu, Eddie akhirnya dapat merasakan dirinya berubah setelah mengkonsumsi pil tersebut.

Pil yang disebut dengan NZT tersebut ternyata benar-benar mampu membuat Eddie mengeluarkan potensi yang terbaik dari otaknya. Secara perlahan, Eddie mulai membenahi hidupnya: ia membersihkan apartemennya yang berantakan, ia mengerjakan novelnya dalam waktu yang singkat dan ia juga mampu meraih keuntungan yang besar dengan bekerja sebagai seorang pialang saham. Walau begitu, seperti halnya obat-obatan lainnya, NZT ternyata memberikan efek adiksi pada diri Eddie. Yang lebih buruk lagi, jika Eddie memutuskan berhenti mengkonsumsi NZT, hidup Eddie dapat saja hilang karenanya.

Jangan merasa terjebak dengan tema cerita Limitless yang sedikit menyinggung mengenai masalah medis dan ilmu pengetahuan. Walau awalnya penonton sepertinya digiring ke arah tersebut – termasuk dengan pemilihan Neil Burger akan visualisasi yang gemerlap ketika menampilkan jalan pemikiran Eddie yang sedang berada di bawah pengaruh NZT – Limitless secara perlahan bergerak sebagai sebuah drama mengenai perjuangan Eddie dalam melepaskan dirinya dari jeratan obat tersebut. Sudut cerita thriller dari Limitless juga tampil ketika Eddie harus berhadapan dengan Gennady (Andrew Howard), seorang mafia Rusia yang mencoba untuk memeras Eddie demi mendapatkan pil NZT.

Sayangnya, perpaduan antara drama dan thriller dalam Limitless terkadang terkesan kurang mampu tergali dengan baik. Beberapa bagian drama – seperti kisah hubungan Eddie dengan Lindy – atau thriller dalam film ini ditampilkan dengan porsi yang sangat menggantung dan gagal memberikan impresi yang lebih dalam. Ditambah dengan pemilihan Burger akan ritme penceritaan jalan cerita yang berlangsung dengan cepat membuat Limitless akan mampu menarik perhatian para penontonnya secara sekilas, namun tidak akan pernah mampu membuat mereka memiliki keinginan untuk tertarik lebih dalam dalam mengenal para karakter yang ada di dalam jalan cerita maupun berbagai masalah yang meliputi kehidupan para karakter tersebut.

Sama halnya dengan Matthew McConaughey, yang penampilan terakhirnya sebagai seorang pengacara di film The Lincoln Lawyer tampak begitu meyakinkan, Bradley Cooper memiliki aura kejantanan yang sama yang mampu menghidupkan karakternya menjadi begitu nyata di film ini. Walau tampak sedikit kurang meyakinkan ketika karakter Eddie Morra digambarkan sebagai seorang pria dengan kehidupan yang menyedihkan, Cooper mampu meningkatkan permainannya ketika karakter Eddie telah digambarkan hidup sebagai seorang pria sukses dengan berbagai pemikiran cerdas (baca: licik) berada di dalam kepalanya.

Permainan kelas atas Cooper, yang harus diakui mampu membawakan aliran jalan cerita Limitless dengan baik, juga didukung kemampuan akting yang baik dari para pemeran pendukung film ini. Walaau memiliki peran dengan karakterisasi yang terbatas, baik Robert De Niro dan Abbie Cornish mampu menjadikan kehadiran mereka terasa mampu memberikan warna tersendiri di dalam jalan cerita Limitless. Yang paling mencuri perhatian mungkin adalah penampilan aktris Anna Friel, yang berperan sebagai mantan istri Eddie, Melissa Gant. Karakter Melissa ditampilkan benar-benar dalam durasi dan porsi yang terbatas. Pun begitu, Friel mampu menampilkan karakterisasi perannya yang depresi dan penuh ketakutan dengan sangat baik.

Limitless sama sekali bukanlah sebuah film yang menawarkan sebuah jalan penceritaan yang baru bagi penontonnya. Terlepas dari beberapa lubang yang terdapat di beberapa plot ceritanya, Neil Burger mampu menutupinya dengan pemilihan ritme cerita yang cepat sehingga menambah kedinamisan penceritaan dan mengalihkan perhatian dari berbagai kekurang yang terdapat di naskah cerita. Didukung jajaran departemen akting serta taata produksi yang tidak mengecewakan, walaupun tidak istimewa, Limitless tetap mampu untuk tampil menarik dan berkesan.

Limitless (Virgin Produced/Rogue/Many Rivers Productions/Boy of the Year Intermedia/Relativity Media, 2011)

Limitless (2011)

Directed by Neil Burger Produced by Leslie Dixon, Ryan Kavanaugh, Scott Kroopf Written by Leslie Dixon (screenplay), Alan Glynn (novel) Starring Bradley Cooper, Abbie Cornish, Robert De Niro,  Anna Friel, Johnny Whitworth, Robert John Burke, Andrew Howard, Thomas Arana, T.V. Carpio, Patricia Kalember Music by Paul Leonard-Morgan Cinematography Jo Willems Editing by Tracy Adams, Naomi Geraghty Studio Virgin Produced/Rogue/Many Rivers Productions/Boy of the Year Intermedia Distributed by Relativity Media Running time 105 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. gugusasa says:

    sebetulnya ini film yg kontennya memberi ide baru. Ngomong2 penasaran sama bahasa cina terakhir sebelum ending. kykna itu kunci dr semua kegamblangan film.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Wahhh… saya belum menemukan ada yang penasaran sama Bahasa Mandarin yang digunakan Eddie di akhir cerita. Menurut saya, penggunaan Bahasa Mandarin oleh Eddie di akhir cerita digunakan untuk menambah rasa penasaran penonton: apakah Eddie benar-benar telah belajar banyak dan mampu menggunakan bahasa asing atau dia masih menggunakan pil NZT itu.

  2. Joe says:

    Hahaha! Untuk Limitless, yah bolehlah! Walau Robert De Niro sepertinya tidak cocok berperan sebagai Taipan atau konglomerat kelas Paus di film ini. Mungkin karena De Niro pada zaman keemasaannya lebih melekat dengan peran-peran detektif atau mafia, kali ya. Jadi saya agak sulit melepaskan image tersebut dari De Niro.
    Cerita film ini memang memiliki banyak lubang yang patut dipertanyakan para penonton kritis, namun sekali lagi setuju, bahwa lubang-lubang tersebut berhasil ditutupi dengan ritme penceritaan yang cepat. Jadi saya tidak perlulah menulis apa-apa saja yang dipertanyakan dalam Limitless, karena saya cukup terhibur menontonnya, walau bukan termasuk dalam kelas yang pantas untuk dikoleksi untuk ditonton ulang. ^_^

  3. JS says:

    Limitless isn’t one of my things. I got nothing from this movie but waste my times. from me, I gave 1.5 stars out from 5.

  4. brian says:

    film nya bagusss bangetzzz……… begitu hebatnya yah kalu kita bisa menggunakan keoptimalan otak kita ;p

  5. tenni says:

    Agak aneh dimana si tokoh utama nyuruh orang laboratorium untuk buatin itu pil NZT lagi, padahal kalau dia memang udah maksimalin otaknya, tinggal belajar aja cara buatnya, terus buat sendiri deh…kan gampang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s