Ketika Captain Colter Stevens (Jake Gyllenhaal) terbangun dari tidurnya dalam sebuah perjalanan di kereta api, ia merasa bahwa dirinya tidak seperti dirinya yang biasa. Seorang wanita cantik yang duduk di hadapannya (Michelle Monaghan) terus menerus berbicara dengan dirinya seolah-olah telah mengenal dirinya dengan baik. Kenyataannya, sang wanita tersebut sama sekali tidak mengenal pria yang terus menerus ia panggil dengan sebutan Sean tersebut. Bahkan Captain Colter Stevens sendiri tidak mengenal siapa dirinya ketika ia melihat wajahnya di permukaan cermin. Wajar jika kemudian Colter merasa panik. Namun, ia tidak memiliki waktu yang lama untuk merasa panik. Beberapa menit kemudian, sebuah bom meledak, menewaskan dirinya, sang wanita tersebut serta seluruh penumpang yang sedang berada di atas kereta api tersebut.

Tentu saja, akhir hidup dari Captain Colter Stevens di atas kereta api tersebut sama sekali bukanlah akhir dari cerita Source Code. Colter, dalam sebuah ruangan gelap yang terkurung serta dalam keadaan yang terikat, kemudian terbangun. Apakah ia sedang bermimpi? Mungkin saja. Namun sebuah suara seorang wanita (Vera Farmiga) yang kemudian ia dengar secara perlahan mulai menyadarkan dirinya. Wanita yang awalnya sama sekali tidak ia kenal itu akhirnya dapat ia identifikasi sebagai seorang prajurit bernama Colleen Goodwin. Dari suara itu pula, Colter menyadari bahwa ia segera akan dikembalikan ke perjalanan kereta api yang telah meledak tadi lewat sebuah program militer yang dinamakan Source Code. Kali ini, ia akan kembali dengan sebuah misi: menemukan dimana letak bom serta pelaku yang telah meledakkan dirinya dan seluruh penumpang kereta api tersebut.

Untuk menyatakan bahwa Source Code sebagai sebuah versi science fiction dari Groundhog Day (1993) mungkin akan menjadi sebuah perbandingan yang terlalu mudah untuk dilakukan sehubungan dengan keterkaitan jalan cerita Source Code yang sedikit menyerupai jalan cerita yang dimiliki oleh film komedi yang dibintangi oleh Bill Murray tersebut. Ditulis oleh Ben Ripley, Source Code adalah sebuah film yang sangat tepat untuk menjadi kelanjutan karir penyutradaraan Duncan Jones yang telah ia mulai dengan baik melalui Moon (2009). Seperti halnya Moon, Source Code memiliki kandungan jalan cerita yang menempatkan science fiction sebagai tema utamanya. Walau begitu, Source Code mempunyai kecenderungan untuk lebih menyentuh sisi humanis para karakter yang ada di dalam jalan ceritanya daripada tampil dengan mengutamakan berbagai detil teknis dari sisi science fiction itu sendiri. Hal inilah yang akan mampu membuat Source Code tampil lebih hangat daripada Inception (2010).

Jalan cerita yang dimiliki oleh Source Code memang terkesan merupakan sebuah jalan cerita yang mengadaptasi berbagai kisah yang mungkin telah banyak dijumpai para penikmat film sebelumnya. Pun begitu, gaya penceritaan Jones yang begitu memikat akan mampu membuat Source Code tampil sebagai layaknya sebuah film yang memberikan sebuah terobosan baru di dalam jalan ceritanya. Sebagai sebuah film science fiction, Jones memberikan penjelasan yang cukup apik mengenai apa Source Code sebenarnya kepada para penonton filmnya. Penjelasan tersebut dihadirkan secara singkat namun dengan porsi yang jelas, tepat dan sanggup menjawab seluruh pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam film ini.

Kisah mengenai pencarian siapa pelaku pemboman yang dilakukan oleh karakter Captain Colter Stevens juga dikembangkan dengan sangat baik oleh Jones sehingga sanggup menjadi kisah yang berisi berbagai intrik drama sekaligus mengenalkan siapa pribadi Captain Colter Stevens kepada para penontonnya. Lewat perjalanan yang berulangkali dilakukan Captain Colter Stevens ke dalam insiden peledakan kereta api tersebut, Jones secara perlahan membuka identitas Captain Colter Stevens sebenarnya, bagaimana ia bisa sampai terlibat dalam insiden tersebut, bagaimana kepribadiannya sekaligus berbagai masalah personal yang ia hadapi. Lewat pemaparan ini, Jones berhasil membentuk sebuah ikatan emosional yang cukup kuat antara penontonnya dengan karakter yang ia hadirkan di dalam Source Code.

Tidak hanya karakter Captain Colter Stevens, walaupun karakter-karakter lainnya memiliki porsi penceritaan yang lebih sedikit, Jones secara cerdas berhasil memanfaatkan setiap karakter untuk mendukung jalan cerita utama Source Code. Ketika plot cerita berada di atas kereta api, karakter Christina Warren yang diperankan Michelle Monaghan menjadi katalis drama utama yang akan mampu menyentuh hati setiap penontonnya. Ketika sedang berada di laboratorium, karakter Colleen Goodwin (Vera Farmiga) dan Dr. Rutledge (Jeffrey Wright) menjadi unsur utama pendukung kisah science fiction dari film ini. Walau begitu, karakter Colleen Goodwin juga dihadirkan Jones sebagai seorang karakter yang simpatik dan dengan kemampuan akting yang ditunjukkan Vera Farmiga, pada satu titik, karakter tersebut berhasil menyelinap menjadi seorang karakter yang begitu memikat. Walau departemen akting bukan menjadi keunggulan utama yang membuat Source Code tampil standout, namun seluruh jajaran pemeran film ini mampu mengisi dan menghidupkan karakter mereka dengan begitu sempurna. Tanpa cela sedikitpun.

Ketika karakter Captain Colter Stevens tampil bolak-balik dari laboratorium ke dalam kereta api, untuk usahanya dalam memecahkan misteri siapa pelaku pemboman kereta api tersebut, sutradara Duncan Jones berhasil memasukkan berbagai unsur komedi, drama, misteri serta action yang mampu membuat setiap penontonnya tidak akan pernah merasa bosan dengan jalan cerita Source Code. Jones secara cerdas juga mampu menyusun intensitas ketegangan jalan cerita Source Code sehingga dapat tampil terus meningkat seiring dengan berjalannya durasi film. Sebagai sebuah science fiction, Jones juga mampu mengemas Source Code menjadi begitu humanis dengan kisah drama yang dihadirkan, suatu hal yang kemungkinan besar akan membuat para penontonnya merasa begitu tersentuh dengan kisah ini. Ditambah dengan keberhasilan Jones dalam mengarahkan para jajaran pemeran film ini serta menampilkan special effect dan tata produksi yang sangat memikat, Source Code menjadi sebuah film yang akan mempesona setiap penontonnya semenjak awal hingga jauh setelah film ini berakhir. Bravo, Duncan Jones!

Source Code (The Mark Gordon Company/Vendôme Pictures/Summit Entertainment, 2011)

Source Code (2011)

Directed by Duncan Jones Produced by Mark Gordon, Jordan Wynn, Philippe Rousselet Written by Ben Ripley Starring Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga, Jeffrey Wright, Russell Peters, Cas Anvar, Michael Arden, Scott Bakula, Frédérick De Grandpré Music by Chris Bacon Cinematography Don Burgess Editing byPaul Hirsch Studio The Mark Gordon Company/Vendôme Pictures Distributed by Summit Entertainment Running time 93 minutes Country United States, France Language English


About these ads
Comments
  1. alistm says:

    penasaran… nice review

  2. vitarocky says:

    wow, rate-nya sempurna, 5 out of 5 … :matabelo:

  3. Joe says:

    Saya sudah nonton film Source Code sebelum saya membaca review dari Bro Amir. Dan ketika saya membaca review Bro Amir, saya agak kaget, karena di luar ekspektasi saya. Hehehe. Tapi ya sah-sah aja bro Amir berpendapat demikian karena ini adalah blog-nya. Hehe. Kita tentu setuju untuk ungkapan “Tidak ada gading yang tak retak”. Hal ini juga berlaku untuk ide cerita dan naskah dalam sebuah film. Namun bila ketidaksempurnaan itu terlihat sangat gamblang dan vulgar dan sangat berlawanan dengan logika, maka film itu akan menjadi hambar dan membosankan, karena sangat terlihat penulis naskah dan sutradara terlalu mengada-ada. Itulah yang terjadi dengan Source Code. Menurut saya film ini sangat membosankan. Dan saya juga lebih kaget ketika Bro Amir menjadikan pembandingnya adalah Inception. Wow! Menurut saya kelas Inception sangat jauh di atas Source Code. Di dalam Inception, logika penonton masih bisa terasa “nyambung” dengan cerita film. Apa yang terjadi dalam Inception adalah rekayasa mimpi dan permainan memory otak dari orang-orang yang masih hidup. Penjelasan cara kerja Inception juga sangat detail. Bagaimana setiap pelaku bisa saling terhubung dan berinteraksi. Bagaimana Cobb membangun infrastruktur mimpi. Bagaimana mimpi tersebut bisa mempengaruhi sasaran pada kehidupan nyatanya. Kita bisa melihat tokoh Mal (istri Cobb yang sudah mati) hidup hanya dalam “penjara” kenangan Cobb namun tidak bisa mempengaruhi dunia nyata. Kalau Cobb mati, maka Mal (dalam kenangan) juga mati. Walau begitu sempurna, Inception masih memiliki banyak celah untuk dipertanyakan. Source Code, kembali menurut saya, sangat jauh dari kata sempurna. Sangat banyak hal-hal dalam Source Code yang membuat logika kita menjadi gelisah dan merasa terbodohi. Contohnya, bagaimana cara tokoh Colter Stevens terkoneksi dengan memory orang lain yang dalam catatan telah lebih dahulu mati. Beda dengan Inception yang begitu detail, maka Source Code seolah seenaknya bertindak tanpa mempedulikan pertanyaan penonton. Penjelasan Dr. Rutledge tentang cara kerja Source Code juga terlalu minimalis dan sangat mengada-ada. Dia mengilustrasikan bohlam yang tadinya hidup dan kemudian mati, maka bohlam itu masih meninggalkan halo (lingkar cahaya). Di sini penulis naskah justru tidak memahami bahwa halo (lingkar cahaya semu) pada bohlam yang baru mati sebenarnya hanyalah efek yang terjadi pada mata manusia, yang tadinya melihat cahaya dan tiba-tiba berubah ke dalam gelap, bukan efek yang terjadi pada bohlam itu sendiri. Baiklah kita menerima bahwa orang yang baru mati, memorynya masih tersimpan untuk beberapa menit, namun kembali keanehan terjadi. Memory adalah rekaman peristiwa yang telah lalu, bukan peristiwa yang akan datang. Nah, bagaimana tokoh Colter Stevens mengeksplorasi memory orang lain yang sudah mati dan bisa terus berlanjut dan bahkan (hebatnya) bisa mempengaruhi situasi dalam kehidupan nyata, seperti perubahan yang terjadi ketika Colter Stevens melaksanakan misi terakhirnya, sehingga mengubah cara polisi menangkap tersangka. Jake Gyllenhaal juga menjadi titik lemah di film ini. Dia tidak mampu menghadirkan sosok seorang prajurit baik secara penampilan, maupun sisi humanis dan emosi dari prajurit tersebut. Untuk adegan romantis, saya akui Jake tidak mengecewakan. ^_^. Hal-hal yang terlalu mengada-ada dan adegan pengulangan membuat film ini menjadi tidak menarik untuk dinikmati, bahkan walau hanya untuk sebuah hiburan, film ini sangat membosankan. Rating 5 dari 5 rasanya terlalu tinggi untuk Source Code, bahkan 3 dari 5 pun masih cukup tinggi.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Wahhh… senang banget dapat komentar kritik yang cerdas seperti ini! Terima kasih sebelumnya!

      Hmmm… saya menjelaskan dari mana yah? Mengapa saya memberikan nilai sempurna, karena ketika saya menonton Source Code, saya benar-benar merasakan bahwa saya dibawa masuk ke dunia cerita yang dibawakan oleh Duncan Jones. Sama seperti film-film lain yang saya berikan poin sempurna, Source Code juga berhasil membuat saya tersenyum di akhir film. Tersenyum lebar penanda akan kepuasan setelah menonton film. Karenanya, saya berani memberikan poin sempurna. Film ini berhasil membuat saya terhibur total.

      Untuk cerita… hmmm… saya belum terlalu memahami Kuantum Fisika. Pun begitu, harus diingat kalau Source Code adalah fiksi ilmiah. Tidak selalu bergangtung pada fakta maupun teori Fisika yang nyata. Fiksi kadang memanfaatkan sebuah teori yang nyata untuk kemudian ditarik ke sebuah alur yang bisa digunakan sebagai dasar sebuah cerita. Saya rasa itu yang sedang dilakukan Ben Ripley pada naskah film ini. Inception juga tidak sepenuhnya akurat secara ilmu pengetahuan loh. Beberapa hal masih menyimpang dari kebenaran Fisika seperti yang diungkapkan di film.

      Mengapa memperbandingkan dengan Inception? Jujur, ini hanya perbandingan berdasarkan penyampaian yang dilakukan oleh sebuah film science fiction. Christopher Nolan begitu memperhatikan detail teknis pada Inception sehingga saya terkadang merasakan sering ditelantarkan secara emosional oleh ceritanya. Saya tidak merasa peduli dengan nasib para karakternya. Saya hanya menikmati perjalanan mereka dan tampilan visual yang mereka lalui. Berbeda dengan Source Code. Teknis mengambil bagian, namun ikatan emosional yang menjadi sajian utama film ini. Karakter-karakter Colter Stevens, Christina Warren hingga Collenn Goodwin menghasilkan semacam ikatan emosional tersendiri bagi penontonnya.

      Soal ending… hmmm… beberapa ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Colter Stevens mempengaruhi kejadian di dunia nyata. Mungkin saja benar. Tapi kalau saya boleh berpendapat, adegan terakhir di film itu adalah sebuah adegan di dunia parallel. Bukan di dunia nyata. Pendapat pribadi saya loh! Namun, untuk sebuah teori fiksi ilmiah, apa yang kita lakukan di masa lalu, memang akan berpengaruh di masa yang akan datang. Jadi kemungkinan bahwa perbuatan Colter Stevens berpengaruh di masa depan, bisa saja terjadi.

      Anyway… sekali lagi, senang sekali menerima komentarnya. Terima kasih!

    • wah comment’nya cerdas banget gan!

    • Riz says:

      Kalau terlalu suka inception beginilah jadinya, mendiskreditkan suatu film dan membandingkannya. Tampak benar, dan itu adalah opini anda, bukan sebagian besar orang banyak. Perlu digarisbawahi bahwa – ini adalah sains fiksi, memberikan ketidakmungkinan menjadi mungkin.

    • Rino Respati says:

      Benar sekali, semua yang diceritakan dalam Source Code sangat mengada-ada dan tidak bisa diterima logika. Saya sependapat dengan pernyataan dari mas Joe. :).

  4. hakkan rahman says:

    hoorass bah,, slam knal moviegoers dr jogja.. keep great review broo.. now,, u’re movie specialist reviewer.. ga’ kalah ma budak2 C’mags n M2.

  5. hakkan rahman says:

    Oia lupa bung syarif.. mohon sinopsisnya dringkas n dedit. good luck :D.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Terima kasih atas pujian dan kritikannya. Mudah-mudahan memang bisa terus memberikan tulisan review yang tajam dan bermanfaat.

      Dan… maaf yah kalau tulisannya kadang sedikit panjang. Memang gaya penulisannya seperti itu. Kadang kalau sedang menulis review sering keluar banyak ide-ide tulisan yang akhirnya semakin memperpanjang durasi tulisan. Tapi akan diusahan sesingkat dan sepadat mungkin!

      Terima kasih sekali lagi atas dukungannya! Salam kenal!

  6. Joe says:

    Untuk gaya penulisan, Bro Amir emang TOP! Jadi jangan diubah. Hehe! Keep it that way, Bro!

    • Amir Syarif Siregar says:

      Wahhh… Terima kasih. Segala masukan, kritikan dan pujian mudah-mudahan bakalan membuat saya makin giat dan tekun lagi dalam nge-blog.

  7. sigit says:

    Wow, perfect score untuk source code? terus terang saya bukan pengamat film yang baik, tapi kalau seandainya saya boleh menilai film terbaik berdasarkan urutan favorit, jelas source code tidak masuk dalam list 10 besar saya, kelemahan source code terletak pada pengulangan2 yang terjadi disitu2 saja..ya memang awalnya menarik dan mungkin jadi kunci film ini, tapi ketika itu tetap saja plot yang terus menerus diulang (meskipun dengan adegan yang berbeda) jadi cenderung membosankan dan akhirnya mengantarkan sesuatu yang seharusnya klimaks menjadi biasa2 saja..paling tidak itu yang saya dan istri saya rasakan :). anyway thanks for review2 movie-nya mas..enak dibaca dan bermutu

  8. Andhra says:

    Setuju buat bro amir..
    Overall, Inception memang lebih wah dibanding Source Code. Namun Source Code mampu menghadirkan sesuatu yang tidak dimiliki Inception dalam sisi emosional sebuah film. Inception terlalu menonjolkan logika dengan berbagai macam penjelasan teknis dengan sangat detail (dan imajinatif tentunya, karena ini sci-fi^^). Hal itu memang berhasil membuat penonton berdecak kagum, apalagi ditambah dengan action yang lumayan memukau dan ending yang mengejutkan. Hanya sebatas itu. Tidak ada satupun karakter di dalam Inception mampu meninggalkan kesan dalam diri penonton. Ikatan yang terjadi antar karakter dalam Source Code menurut saya dibentuk dan digambarkan dengan cerdas tanpa perlu basa-basi.

    Untuk adegan Source Code yang berulang-ulang, saya pikir tidak ada masalah karena hal itu memang tidak bisa lepas begitu saja dari keseluruhan cerita. Tidak bisa dikatakan bahwa adegan tersebut sepenuhnya diulang karena setiap kali Colter Stevens kembali ke kereta dan menjadi Sean Fentress, ada perbedaan yang jelas baik itu dari tingkah laku karakter maupun alur cerita yang semakin mengerucut yang mampu membuat penonton tetap menatap layar. Kemudian dari sisi science, Source Code memang tidak menghadirkan penjelasan logis panjang lebar seperti pada Inception. Bukan poin minus sebenarnya, karena pada dasarnya sebuah film bertujuan untuk menghibur penontonnya. Membuat penonton berpikir dan menerka-nerka adalah prioritas kesekian untuk sebuah film. Penonton yang terkagum-kagum namun bingung dengan penonton yang tersenyum, terkesan dan terhibur adalah dua hal yang berbeda.

    Jadi, kesimpulan saya, walaupun sama2 sci-fi thriller kedua film ini punya segmen penikmatnya masing2. Inception dengan ceritanya yang ‘berat’ dan Source Code dengan ceritanya yang ‘manis’ menghasilkan rasa yang berbeda saat kita menontonnya. Sekali lagi, film ini adalah film fiksi ilmiah, semua teori ataupun sekedar hipotesis ilmiah sah2 saja. ‘Cuz we’re talking about a world that has no limit :)
    Rating sekali lagi merupakan hasil subyektifitas masing2 pihak. Namun saya pribadi berpendapat bahwa film ini pantas diberi 4 out of 5.
    Sekian.

  9. Rudi says:

    saya sangat setuju dengan pendapat bang joe… jujur review dr bro amir membuat saya langsung antusias untuk menonton film ini ..tapi sayang filmnya jauh banget dari yg saya bayangkan..
    kisah filmnya yang membosankan,..karakter utamanya juga kurang nggreget..alur ceritanya yang tidak bisa di pikir atau di khayalkan dengan akal sehat…. kalo di bandingin dengan inception.. kelihatan beda kelas kalo menurut pendapat saya. very very very bad 1,5 dari 5

  10. vadyaditya says:

    Saya sih setuju sama “perfect score” buat Source Code. Di balik ceritanya yang banyak orang pikir itu minimalis, ternyata punya pengulangan yang menurut saya jauh lebih sempurna ketimbang Edge of Tommorow (2014). Kalau sudah nonton Source Code, terus nonton Edge of Tommorow, pasti berasa de javu, karena adanya kemiripan cerita di antara keduanya.

    Saya pikir, penutup dari Source Code memang berada pada klimaksnya. Mungkin hal yang berbeda jika Anda menyaksikannya di laptop, karena ketika menonton di bioskop, ada ketegangan dan suasana yang sulit dijelaskan jika hanya menonton di laptop.

    Saya yakin Bang Amir menyaksikan film ini di bioskop sehingga terbawa suasana dan mampu mengembangkan senyum di akhir cerita :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s