Kemampuan Hanung Bramantyo untuk menyelami masalah spiritual (jika tidak mau disebut agama) dalam setiap filmnya harus diakui telah menempatkan sutradara pemenang Festival Film Indonesia untuk Sutradara Terbaik itu berada di kelasnya sendiri diantara sutradara-sutradara lainnya di kancah perfilman Indonesia. Tidak seperti beberapa sutradara lainnya yang telah mencoba mengolah tema yang sama, dan kebanyakan berakhir dengan sebuah sajian yang begitu terkesan preachy, film-film Hanung menawarkan kedalaman tersendiri mengenai permasalahan spiritual tersebut namun tetap disajikan sebagai sebuah film kontemporer yang ringan dan dramatis yang secara perlahan akan meninggalkan kesan tersendiri mengenai makna spiritualisme kepada para penontonnya tanpa mereka menyadari bahwa mereka telah mendapatkan sebuah cara pandang baru mengenai topik tersebut.

Setelah Sang Pencerah, yang merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang dirilis di sepanjang tahun 2010, Hanung kembali mengeksplorasi tema spiritualisme dalam film terbarunya, ?. Berbeda dengan film-film yang ia buat sebelumnya, ? tidak hanya berisi cara pandang spiritualisme berdasarkan satu sisi saja (baca: Islam). Dengan mengusung tema perbedaan kepercayaan yang terdapat di dalam keseharian struktur sosial masyarakat Indonesia, Hanung kali ini sepertinya ingin ‘mengingatkan’ para penontonnya mengenai keberadaan perbedaan tersebut di sekitar mereka dan ‘mengajarkan’ bahwa hal tersebut sama sekali bukan sesuatu hal yang patut dikhawatirkan. Tema yang mungkin terdengar klise untuk dikisahkan namun sebenarnya sangat layak untuk dihadirkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia saat ini.

Jalan cerita film ini dihiasi dengan tiga cerita yang berasal dari beberapa kumpulan karakter yang berasal dari latar belakang budaya dan kepercayaan yang berbeda. Yang pertama adalah keluarga Tionghoa pemilik sebuah restoran masakan khas China yang berisikan pasangan Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) dan Lim Giok Lie (Edmay) serta putera mereka, Hendra (Rio Dewanto). Walaupun berpegangan kepada Buddha sebagai kepercayaan mereka, Tan Kat Sun telah lama dikenal sebagai seorang yang memiliki jiwa toleransi tinggi kepada penganut kepercayaan lain. Ini ia terapkan pada segala aspek dalam kehidupannya, termasuk kepada puteranya sendiri, yang seringkali memiliki cara pandang hidup yang berbeda dengan dirinya.

Kemudian ada keluarga pasangan Soleh (Reza Rahadian), seorang pengangguran yang selalu berusaha untuk membuktikan keberhasilan dirinya, dan istrinya, Menuk (Revalina S. Temat), yang merupakan salah satu pekerja di restoran China milik Tan Kat Sun. Kondisi Soleh yang seorang pengangguran lama-kelamaan menimbulkan jarak tersendiri antara dirinya dan Menuk dan kerapkali berujung dengan cekcok antara keduanya. Kemudian ada Rika (Endhita), seorang janda yang baru saja pindah agama, dengan anaknya, Abi (Baim). Perubahan kepercayaan yang ia lakukan mendapatkan banyak cemoohan dari masyarakat sekitarnya. Walau begitu, hal tersebut ternyata tidak mencegah Surya (Agus Kuncoro), seorang pria yang sedang berusaha untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang aktor besar, untuk menaruh hati pada diri Rika.

Dalam perjalanan karirnya, Hanung sepertinya telah berkembang sedemikian rupa untuk menjadi seorang pencerita yang sangat baik, tak terkecuali dengan apa yang ia lakukan lewat ?. Walau memiliki cukup banyak konflik untuk ditampilkan dalam sebuah film, Hanung nyatanya mampu membawakan konflik-konflik tersebut dengan cara penceritaannya yang demikian mengalir. Menggunakan ritme menengah, ? terlihat semakin berisi seiring dengan berjalannya durasi film ini. Jalan cerita yang awalnya berisi pengenalan karakter, kemudian berjalan dan mulai memasukkan berbagai konflik sekaligus pesan-pesan sosial yang memang Hanung inginkan untuk diketahui penontonnya.

Membawakan tema yang cukup universal, naskah karya Titien Wattimena sayangnya gagal untuk menampilkan sesuatu hal yang baru dalam jalan ceritanya. Ini yang kemudian membuat ? kurang berhasil untuk dapat tampil istimewa. Hal ini masih ditambah dengan pilihan ending yang sepertinya terkesan dipaksakan untuk menghasilkan sebuah pemecahan seluruh masalah yang telah dipaparkan oleh film ini sebelumnya. Pilihan untuk menghadirkan skema kisah bentrok yang terjadi antara dua kelompok dan adegan peledakan bom yang berujung dengan berubahnya sikap dan cara pandang beberapa karakter terasa begitu klise dan menjadi titik terlemah dalam pemaparan Hanung dalam ?.

Seperti halnya film-film karya Hanung Bramantyo sebelumnya, ? diisi dengan tata produksi dan departemen akting yang solid. Bekerjasama dengan Yadi Sugandi, sinematografer Indonesia yang tahun lalu berhasil menyediakan gambar-gambar indah untuk Minggu Pagi di Victoria Park, deretan gambar yang menghias tiap adegan ? mampu terasa begitu memanjakan setiap mata yang memandangnya. Tya Subiakto Satrio juga berhasil menyediakan tata musik yang sanggup mengisi setiap adegan dengan aliran emosi yang pas. Istimewanya, Tya berhasil memberikan variasi rangkaian musik yang terinspirasi dari setiap budaya dan kepercayaan yang ditampilkan di film ini. Bervariasi namun mampu disatukan menjadi demikian indah.

Beberapa pengisi jajaran pemeran film ini merupakan nama-nama pernah bekerjasama dengan Hanung Bramantyo sebelumnya. Tidak mengherankan jika Revalina S. Temat dan Reza Rahadian sepertinya telah sangat mengerti mengenai apa yang dikehendaki Hanung pada karakter yang mereka perankan. Walau masih ditemukan beberapa titik lemah – yang timbul dari permainan akting Rio Dewanto, Glenn Fredly dan Endhita yang beberapa kali terlihat kurang mampu mengeluarkan permainan emosi terbaik mereka – namun secara keseluruhan departemen akting dari ? sama sekali tidak mengecewakan.

Setelah apa yang dihasilkan oleh Hanung Bramantyo lewat Ayat-Ayat Cinta (2008), Doa Yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009) dan khususnya Sang Pencerah (2010), rasanya sangat wajar jika banyak pihak yang begitu menunggu bagaimana Hanung akan menangani naskah yang cukup kompleks seperti yang dibawakan ?. Hasilnya, harus diakui, berada sedikit di bawah ekspektasi. Jalan cerita ?, walaupun sama sekali tidak buruk, gagal menampilkan sesuatu yang baru dan dapat membuat film ini tampil istimewa. Pemilihan ending yang terkesan dipaksakan untuk hadir juga menjadi titik lemah tersendiri untuk ?. Walau begitu, dengan seluruh kekuatan penceritaan, tata produksi dan departemen akting yang dihasilkan Hanung, rasanya akan tetap berhasil membuat ? tampil sebagai sebuah film dengan kualitas yang sangat tidak mengecewakan.

? (Mahaka Pictures/Dapur Film, 2011)

? (2011)

Directed by Hanung Bramantyo Produced by Hanung Bramantyo, Celerina Judisari Written by Titien Wattimena Starring Agus Kuncoro, Endhita, Revalina S Temat, Reza Rahadian, Rio Dewanto, Hengky Solaiman, Glenn Fredly, Edmay, Dedi Soetomo, David Chalik, Baim Music by Tya Subiakto Satrio Cinematography Yadi Sugandi Editing by Cesa David Luckmansyah Studio Mahaka Pictures/Dapur Film Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. vitarocky says:

    emang keren ni filmnya om, ngebuka pandangan orang yg slama ini masih blum bisa bertoleransi beragama … :thumbup

  2. banyak kontroversial, tapi setelah baca jawaban hanung lewat website jadi ngerti bahwa film ini mengajak kita berpikir..

    big thanks to hanung

  3. Billy says:

    Sangat tidak mengecewakan? Ah mbok bilang aja bagus gitu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s