Apakah menjual sebuah film dengan jalan cerita yang tidak mengandung konotasi horror dan seks begitu sulit untuk dilakukan di ranah Indonesia? Beberapa fakta dan data mungkin menunjukkan hal tersebut, walaupun masih diperlukan beberapa penelitian lanjutan untuk mendapatkan keabsahan jawaban. Namun, apa yang dilakukan oleh produser film Cewek Saweran kemungkinan besar adalah salah satu jawaban dari pertanyaan tersebut. Film yang berkisah mengenai perjuangan seorang gadis remaja untuk mencapai kesuksesan sebagai seorang penyanyi dangdut – perjuangan yang tanpa mengharuskannya berpakaian minim atau melakukan adegan ranjang – dijual dengan judul Cewek Saweran – yang jelas merupakan sebuah konotasi seks bagi banyak orang – dan sebuah poster yang memperlihatkan seorang wanita dengan pakaian sangat minim. Sebegitu beratnyakah menjual sebuah film ‘normal’ kepada para penonton film Indonesia?

Terlepas dari minimnya nama-nama populer yang mengisi jajaran pemeran film ini, naskah cerita Cewek Saweran sendiri ditulis oleh Ifa Isfansyah, seorang penulis naskah dengan reputasi ‘terhormat’ yang dihasilkan dari film Garuda di Dadaku (2009) dan Rindu Purnama (2011). Berkisah mengenai Ayu (Juwita Bahar), seorang gadis remaja yang kesehariannya bekerja sebagai penyanyi dangdut untuk membantu kebutuhan ekonomi sang ayah (Marwoto) yang telah menginjak usia lanjut dan mulai sakit-sakitan. Atas saran sang ayah, Ayu akhirnya berangkat ke Yogyakarta dan tinggal bersama bibinya, Ningsih (Dyah Arum), sekaligus mencoba mencari pekerjaan yang layak disana.

Di Yogyakarta, Ayu kembali bertemu dengan teman semasa kecilnya, Dimas (Krisshatta Luis), dan mulai menjalin hubungan yang dekat dengannya. Atas bantuan Dimas, Ayu kemudian berkenalan dengan seorang pemimpin orkes Melayu, Dargombez (Djaduk Ferianto), yang kemudian mengarahkannya untuk menjadi penyanyi dangdut rekaman bersama seorang produser ternama (Landung Simatupang). Karir Ayu sebagai seorang penyanyi dangdut pun mulai naik secara cepat. Walau begitu, tetap saja sebagian orang memandang Ayu telah melalui “jalur kotor” untuk mencapai kesuksesannya tersebut, termasuk ayah kandungnya sendiri.

Dinilai dari plot cerita, Cewek Saweran memang tidak menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalinan kisahnya. Namun, sang sutradara, Eddie Cahyono, mampu mengembangkan naskah cerita yang sederhana tersebut menjadi sebuah aliran kisah yang menghibur serta bercita rasa tinggi tanpa harus bersinggungan dengan segala hal yang kemungkinan dibayangkan banyak orang akan tampil di sebuah film yang memiliki judul dan poster se-“murahan” Cewek Saweran. Beberapa bagian plot cerita tambahan dan karakter yang ada di dalam film ini memang seperti kurang begitu tergali dengan baik. Walau begitu, kualitas film ini juga sangat terbantu dengan kemampuan akting yang ditunjukkan para pemerannya, yang walaupun sama sekali tidak istimewa, namun tampil begitu natural dengan chemistry yang begitu erat antara satu sama lain.

Juwita Bahar, yang memang seorang penyanyi dangdut, terlihat sangat nyaman dalam perannya. Ini membuat Juwita lebih leluasa dalam melafalkan tiap dialognya, walaupun pada beberapa adegan Juwita masih terlihat belum mampu menghasilkan mimik wajah yang begitu emosional. Untungnya, Juwita mendapatkan deretan lawan main yang demikian atraktif dalam akting mereka. Krisshatta Luis mampu tampil dengan baik dalam setiap adegannya, mengimbangi permainan para aktor senior seperti Djaduk Ferianto, Marwoto dan Landung Simatupang yang juga memberikan kemampuan akting yang sama sekali tidak mengecewakan.

Sama halnya dengan Mendadak Dangdut (2006), Cewek Saweran mengisi jalan ceritanya dengan beberapa tampilan lagu dangdut yang dinyanyikan oleh Juwita Bahar. Sayang, jumlah lagu dangdut yang ditampilkan cukup terbatas untuk durasi film yang mencapai 90 menit. Walau begitu, dengan lirik lagu yang cukup catchy untuk diingat, deretan lagu dangdut di Cewek Saweran menjadi bagian keunggulan tersendiri dari film ini. Dari segi teknis, tak banyak yang diharapkan dari film ini. Mulai dari tata sinematografi hingga desain latar belakang tempat cerita terlihat begitu sederhana. Tidak buruk.

Well…mungkin pepatah yang menyebutkan untuk tidak menilai sesuatu berdasarkan penampilan luarnya mungkin patut diterapkan untuk film ini. Walaupun sama sekali bukan karya yang istimewa, namun Cewek Saweran adalah sebuah film yang memiliki kualitas jauh lebih tinggi dari kredit yang diberikan oleh judul dan poster film ini. Jalan cerita yang sederhana mampu ditampilkan secara maksimal oleh sutradara, Eddie Cahyono, berkat dukungan akting para pemeran yang solid plus beberapa iringan lagu dangdut yang sangat mudah untuk dinikmati. Judul dan poster film ini memang ditujukan sebagai strategi pemasaran untuk menjaring jumlah penonton yang lebih besar. Namun dengan kualitas yang disajikan di film ini, pihak produser seharusnya mau tampil percaya diri dan menempatkan Cewek Saweran di tempat yang lebih terhormat lagi.

Cewek Saweran (Batavia Pictures, 2011)

Cewek Saweran (2011)

Directed by Eddie Cahyono Produced by Lucki Lukman Hakim Written by Ifa Isfansyah Starring Juwita Bahar, Krisshatta Luis, Harry Izwan, Djaduk Ferianto, Marwoto, Landung Simatupang, Dyah Arum Cinematography Doni Firdaus Editing by Greg Arya, Tomato Fathia Studio Batavia Pictures Running time 90 minutes Country Indonesia Language Indonesian

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s