William Monahan dikenal di industri film Hollywood sebagai salah satu penulis naskah dengan reputasi yang cukup meyakinkan. Naskah-naskah cerita yang ia kerjakan telah menarik perhatian begitu banyak sutradara besar seperti Ridley Scott (Kingdom of Heaven (2005) dan Body of Lies (2008)), Martin Scorsese (The Departed, 2006 – yang memberikannya sebuah Academy Awards untuk Best Adapted Screenplay), serta Martin Campbell (Edge of Darkness, 2010). Kesuksesannya sebagai seorang penulis naskah mungkin membuat Monahan merasa sedikit tertantang untuk mengarahkan sebuah film. Namun, seperti yang dibuktikan oleh London Boulevard dan sebagian film debut penyutradaraan para penulis naskah lainnya, beberapa penulis naskah seharusnya lebih memilih untuk menyerahkan hasil karya mereka untuk diterjemahkan secara audio visual oleh seorang sutradara profesional.

Didukung dengan premis cerita yang sebenarnya tidak begitu buruk (bayangkan The Bodyguard (1992) yang dipadukan dengan The Departed) serta deretan jajaran pemeran yang tampak begitu meyakinkan, London Boulevard terlihat seperti memiliki susunan bahan dasar yang akan begitu mudah untuk diramu dalam menghasilkan sebuah film dengan kualitas yang prima. Hal tersebut hanya akan terjadi bila seorang sutradara telah mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk mengolah naskah dan menyusun aliran cerita dengan sedemikian rupa hingga mampu mengikat emosi dan rasa ketertarikan penontonnya dengan tepat. Monahan, sayangnya, sama sekali tidak memiliki kemampuan tersebut.

Diangkat dari novel karya Ken Bruen yang berjudul sama, London Boulevard berkisah mengenai Mitchell (Colin Farrell), seorang kriminal yang baru saja dibebaskan dari penjara dan masih merasa kebingungan untuk memilih jalur apa yang akan ia tempuh untuk kehidupannya setelah masa penjara. Mitchell bisa saja menerima tawaran dari seorang pimpinan gangster London, Rob Gant (Ray Winstone), yang menginginkannya kembali untuk bergabung bersama kelompok tersebut, atau melupakan masa lalunya yang kelam dan berkonsentrasi dengan pekerjaan barunya sebagai seorang pengawal bagi seorang aktris terkenal, Charlotte (Keira Knightley).

Tentu saja, London Boulevard akan terasa begitu sederhana dengan hanya mengisahkan mengenai kebingungan Mitchell dalam memilih masa depannya. Di saat yang sama, Mitchell juga sedang berusaha untuk melarikan diri dari seorang polisi, DI Bailey (Eddie Marsan), yang terus menerus mencoba untuik memerasnya, menjaga adiknya, Briony (Anna Friel), yang terus tumbuh menjadi seorang gadis yang tak bisa menjaga dirinya dari kumpulan masalah serta mencoba mencari tahu siapa pembunuh salah seorang temannya. Sebuah jalan hidup yang tidak mudah untuk dihadapi.

Monahan memulai London Boulevard dengan langkah yang sama sekali tidak mengecewakan. 20 menit awal film ini, ketika penonton dikenalkan dengan karakter Mitchell – seorang mantan kriminal yang karena diperankan oleh Colin Farrell terlihat begitu tampan dan mudah untuk menarik hati siapapun – dan perkenalan awalnya dengan karakter Charlotte – yang diperankan oleh Keira Knightley dengan begitu rapuh, adalah menit-menit terbaik di sepanjang kisah London Boulevard. Perkenalan ini, yang walaupun tidak melibatkan banyak dialog dan kontak fisik antara kedua karakter, berhasil memberikan chemistry yang menjanjikan bahwa kedua karakter ini akan terlibat dalam sebuah jalinan kisah cinta yang menarik.

Di luar dugaan, seluruh aroma romansa yang cukup menjanjikan antara keduanya terhapus begitu saja dengan kedatangan beberapa karakter lainnya, khususnya sang bos gangster, Rob Grant, yang kemudian memenuhi seluruh sisa perjalanan kisah London Boulevard. Sayangnya, kehadiran kisah gangster di dalam jalan hidup Mitchell sama sekali tidak berhasil dieksekusi dengan baik oleh Monahan. Bagian kisah ini dipenuhi dengan begitu banyak dialog yang membosankan antara karakter Mitchell, Rob Grant, temannya yang seorang kriminal, Billy (Ben Chaplin), dan berbagai adegan khas film-film bertemakan gangster yang pernah dilihat sebelumnya. Masih ingat dengan The Departed? Monahan melakukan eksekusi ending yang hampir menyerupai film pemenang Best Picture di ajang Academy Awards tersebut, walau dengan kualitas ketegangan yang sama sekali tidak mampu mendekati The Departed.

Monahan sama sekali tidak melupakan kisah romansa yang “seharusnya” terbentuk antara karakter Mitchell dan Charlotte. Setelah beberapa saat yang membuat penonton melupakan adanya harapan bahwa kedua karakter tersebut saling menyukai satu sama lain, Monahan kemudian secara tiba-tiba menghadirkan kembali romantisme mendadak tersebut. Kisah ini, hingga akhir London Boulevard, ditampilkan secara bolak-balik oleh Monahan berdampingan dengan kisah hubungan Mitchell dengan sang adik yang juga dihadirkan dengan tingkan inkonsistensi yang sama membingungkannya.

Terlepas dari Ben Chaplin yang terkesan berada di posisi yang salah dalam memerankan karakter Billy, seluruh jajaran pemeran London Boulevard bermain dengan tingkat akting yang sama sekali tidak mengecewakan. Farrell cukup mampu membuat karakternya menjadi begitu misterius sekaligus sangat menarik. Ray Winstone – dengan peran yang akan sedikit mengingatkan penonton pada perannya di Edge of Darkness – juga memainkan karakter sang bos gangster dengan wajar. Penampilan aktor pendukung seperti David Thewlis, Anna Friel dan (mungkin) Eddie Marsan juga sama sekali tidak mengecewakan. Sama tidak mengecewakannya dengan Keira Knightley, walaupun karakternya ditampilkan sangat dangkal dan terbatas di film ini. Dengan talenta sebesar Knightley, Monahan seharusnya mampu memberikan eksplorasi yang lebih terhadap karakter yang ia perankan.

Jika ada satu hal yang patut diberikan pujian secara langsung dalam London Boulevard, maka hal itu akan datang kepada sang sinematografer, Chris Menges (The Reader, 2008), yang mampu menangkap gambaran kota London dengan begitu indah dan sempurna baik di kala malam maupun siang hari. Lebih dari itu, sayangnya, kata kekecewaanlah yang akan banyak tertulis pada film ini. Dengan plot cerita yang berantakan dan hampir sama sekali tidak dapat dinikmati – jika tidak karena dukungan akting prima para pemerannya, adalah cukup aman untuk mengelompokkan London Boulevard sebagai sebuah karya yang membosankan dan… well… gagal.

London Boulevard (GK Films/Henceforth/London Boulevard/Projection Pictures/Entertainment Film Distributors, 2010)

London Boulevard (2010)

Directed by William Monahan Produced by Graham King, William Monahan, Quentin Curtis, Tim Headington Written by William Monahan (screenplay), Ken Bruen (novel) Starring Colin Farrell, Keira Knightley, David Thewlis, Anna Friel, Ray Winstone, Ben Chaplin, Stephen Graham, Eddie Marsan, Matt King, Sankeev Bhaskar, Ophelia Lovibond, Gerald Home Cinematography Chris Menges Editing by Lucia Zucchetti Studio GK Films/Henceforth/London Boulevard/Projection Pictures Distributed by Entertainment Film Distributors Running time 104 minutes Country United Kingdom Language English

About these ads
Comments
  1. Joe says:

    Setuju, bro Amir. Ini adalah produk gagal. Bahkan hanya dengan menyaksikan trailernya saja, niat saya menonton langsung pupus.

  2. ekkyrezky says:

    Waduh. Niat mau nonton jadi menurun karena hampir seluruh review yang saya baca bernada negatif. Satu-satunya yang membuat niat saya tetap menonton adalah: ingin lihat London. Hahaha…

  3. arif says:

    separah itu ya mas Amir? ga jadi aku tulis reviewnya klo gitu :) btw salam kenal..tq

    • Amir Syarif Siregar says:

      Hmmm… kalo saya sih yang setelah nonton film ini pendapatnya begitu. Setiap film khan memiliki pengaruh berbeda pada setiap penonton. Siapa tahu Mas Arif suka loh sama filmnya.

      Salam kenal!

  4. rizkitweet says:

    Saya suka film ini karena ini film begitu ‘Inggris’ :D

  5. edi says:

    sebenarnya film ini akan sukses andaikan plot cerita dibuat menarik. Pendalaman masing2 karakter yg dangkal, cerita yg terlalu simple, dialog2 yg membosankan, merupakan kesalahan2 sehingga film ini bisa dikatakan sbg film yg gagal. Saya pribdi pun merasa kecewa nonton film ini.

  6. rosma says:

    filmnya ngak mutu

  7. M. Arfah D. says:

    Kata “boulevard” dalam Perancis berarti jalan besar, persimpangan. Ia diberi artikel “le” di depan karena orang-orang menganggapnya sebagai laki-laki. Saya berpikir London Boulevard tidak jauh dari fakta bahasa itu. Ia keras, penuh darah. Lebih banyak bagian darinya mengolah jalanan ketimbang manisnya rumah. Bahkan saat Mitchell dan Grant bertatap muka diantarai meja restoran kelas atas: mereka tetap saja bandit, yang berbicara siapa yang paling bandit di antara mereka. Bangunan ceritanya memang tidak utuh, tapi apa ini memang disengaja mengingat karakter jalanan memang begitu? Tak peduli asal usul, tak kenal kompromi, injak lawanmu sebelum ia menginjakmu. Jika perlu, bunuh. Setelah saya nonton London Boulevard, saya merasa ia seperti The Bodyguard dan Fight Club yang kawin lari. Rusuh. Tentu kalian tahu mana mempelai pria, mana wanita.

    Oiya, “boulevard” bisa juga merujuk pada apa yang dikatakan review ini: kebingungan Mitchell dalam memilih masa depannya.

  8. rubiyanto19 says:

    iya, baru nonton sebentar aja sudah bosen … payah ….

  9. dnariswari says:

    Saya setuju, jika film ini tidak diperankan oleh pemeran-pemeran yang baik pasti sudah jelek sekali film ini. Untungnya saya masih sempat terhibur dengan ke-Inggris-Inggrisannya serta scoring filmnya.

  10. hanryeoseob says:

    wah, gitu ya.. kalo gitu aku gx jadi ntn itu deh besok :/

  11. dentia says:

    terdengar suara adzan di film ini ketika Mitchell bertemu dengan Charlotte. Subhanallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s