Sukses dengan Emak Ingin Naik Haji (2009), yang berhasil meraih banyak pengakuan di berbagai ajang penghargaan perfilman nasional, Aditya Gumay kini kembali dengan film yang menjadi karya ketiganya, Rumah Tanpa Jendela. Sama seperti halnya dengan Emak Ingin Naik Haji, film ini juga diangkat dari sebuah cerpen karya penulis Asma Nadia yang berjudul Jendela Rara, dan sama-sama berbagi tema bahasan yang sama di dalam jalan ceritanya: mengenai usaha salah satu karakternya dalam mewujudkan sebuah mimpi mereka. Jika pada Emak Naik Haji tema tersebut dilakonkan oleh karakter-karakter dewasa, maka Rumah Tanpa Jendela berisikan banyak karakter anak-anak. Namun, dengan tema sosial yang begitu universal, Aditya Gumay berhasil mengemas jalan cerita Rumah Tanpa Jendela menjadi sebuah film yang tidak hanya akan mampu menghibur penonton muda, namun menyentuh setiap penonton dewasa.

Digarap sebagai sebuah drama musikal, Rumah Tanpa Jendela sebenarnya memiliki jalan cerita yang cukup sederhana. Penonton awalnya dikenalkan pada dua karakter utama yang memiliki strata sosial berbeda. Yang pertama adalah Rara (Dwi Tasya), yang berasal dari keluarga miskin dan tinggal di sebuah perkampungan kumuh bersama ayah, Raga (Raffi Ahmad), dan neneknya, Mbok (Inggrid Widjanarko). Latar belakang kehidupan yang serba kekurangan ternyata tidak menghalangi Rara untuk menggenggam sebuah mimpi:  memiliki sebuah jendela. Sebuah mimpi yang terkesan konyol, namun kemudian terasa wajar begitu melihat kondisi rumah Rara yang kecil dan hanya terbuat dari kumpulan tripleks bekas.

Takdir kemudian mengenalkannya pada Aldo (Emir Mahira), seorang anak laki-laki yang walaupun berasal dari latar belakang keluarga yang berada, namun memiliki kelemahan mental dalam pertumbuhannya. Tetap saja, seperti layaknya anak-anak lain yang tidak pernah memiliki rasa curiga atau prasangka terhadap orang lain, Aldo dan Rara kemudian mampu menjalin persahabatan yang erat terlepas dari segala perbedaan mereka. Dalam masa persahabatan tersebut, Rara dan Aldo menemui beberapa hambatan yang tidak hanya mempengaruhi persahabatan mereka namun juga mimpi Rara untuk memiliki sebuah jendela di rumah kecil miliknya.

Semenjak kisah film ini dimulai, Rumah Tanpa Jendela telah mampu menunjukkan potensinya sebagai sebuah film yang tertata dengan sangat baik. Jalan cerita yang familiar namun ditampilkan dengan sangat baik oleh setiap pemerannya, serta dihiasi beberapa elemen musikal yang cukup menyenangkan untuk disaksikan, membuat satu jam pertama Rumah Tanpa Jendela tampil begitu memikat. Sayangnya, di bagian tengah, dengan masuknya banyak cabang cerita yang menghiasi plot cerita utama film, dan menghilangnya elemen musikal yang tadinya ditampilkan secara maksimal, konsentrasi penceritaan seakan mulai memudar dan membuat Rumah Tanpa Jendela terasa berjalan datar. Kondisi ini terus berjalan hingga menuju penghujung film. Beberapa konflik yang dihadirkan terasa tidak begitu esensial namun ditampilkan dengan durasi yang terlalu panjang. Walaupun kemudian sempat bergerak dan menunjukkan arah perbaikan pada bagian akhir film, namun Rumah Tanpa Jendela tidak pernah benar-benar mampu tampil sama memikatnya seperti yang telah ditampilkan pada satu jam durasi awal film ini.

Dengan pengalamannya dalam mengelola dan memimpin Sanggar Ananda, rasanya wajar saja jika melihat Aditya Gumay mampu mengeluarkan potensi akting terbaik dari para para aktor muda — kebanyakan diantaranya sama sekali belum pernah berakting sebelumnya – yang mengisi jalan cerita film ini. Walau pada beberapa adegan masih terlihat sedikit kekakuan, namun secara keseluruhan, para aktor muda ini mampu dengan sangat baik memerankan karakter mereka. Terlihat berjalan begitu alami, penuh keluguan dan keceriaan khas anak-anak, yang semakin menambah energi yang ingin dibawakan jalan cerita film ini.

Namun, diantara seluruh pengisi departemen akting yang ada — termasuk dari aktor dan aktris dewasa, perhatian para penonton sepertinya tidak akan mampu lepas dari kelihaian akting seorang aktor muda yang bernama Emir Mahira. Merupakan film musikal keduanya setelah Melodi (2010), Emir sepertinya semakin membuktikan bahwa dirinya adalah seorang aktor anak yang sangat berbakat. Dengan lancar, ia mampu menginterpretasikan bagaimana gerak-gerik seorang karakter yang memiliki keterbelakangan mental. Aktingnya begitu meyakinkan dan wajar serta tidak pernah dilakukan dalam porsi yang berlebihan. Sebuah pencapaian yang tentunya sangat luar biasa bagi seorang aktor dengan usia semuda Emir!

Selain Emir Mahira, Rumah Tanpa Jendela menjadi ajang debut bagi kemampuan akting aktris cilik, Dwi Tasya. Dan harus diakui, ia mampu mengimbangi permainan apik Emir dengan cukup baik. Pasangan Emir dan Dwi juga membentuk chemistry yang sangat erat ketika mereka ditampilkan bersama dalam setiap adegan. Permainan kedua aktor muda ini juga dirangkai dengan permainan apik dari aktor dan aktris dewasa. Mulai dari Aty Kanser, Inggrid Widjanarko, Alicia Djohar, Raffi Ahmad, Varissa Camelia, Maudy Ayunda hingga Ouzan Ruz mampu tampil dengan kemampuan akting wajar yang begitu mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan.

Adalah suatu hal yang amat wajar jika Rumah Tanpa Jendela mampu dengan mudah merebut perhatian dan hati setiap penontonnya. Membawakan tema sosial yang erat mulai dari persahabatan, saling membantu satu sama lain hingga begitu berartinya untuk mengucap syukur atas anugerah kehidupan yang telah diberikan Tuhan, Aditya Gumay, untungnya, tidak terjebak begitu saja untuk menjadikan Rumah Tanpa Jendela menjadi sebuah tayangan yang terkesan menggurui. Sebaliknya, seluruh pesan tersebut tersampaikan dengan penuh kesederhanaan namun efektif, khususnya berkat dukungan permainan akting para pemerannya yang apik serta, beberapa kali, dukungan lagu-lagu yang begitu catchy dan terkemas dengan baik. Beberapa masalah mungkin ditemukan pada beberapa bagian cerita yang terkesan terlalu klise dan beberapa penyampaian teknis yang masih kurang maksimal, namun secara keseluruhan, Aditya Gumay telah mampu merangkai Rumah Tanpa Jendela menjadi sebuah drama musikal yang tidak hanya mampu menghibur penonton muda, namun juga menjangkau hati siapapun yang menontonnya.

Rumah Tanpa Jendela (Smaradhana Pro/Sanggar Ananda, 2011)

Rumah Tanpa Jendela (2011)

Directed by Aditya Gumay Produced by Adenin Adlan, Seto Mulyadi Written by Aditya Gumay, Adenin Adlan (screenplay), Asma Nadia (short story) Starring Emir Mahira, Dwi Tasya, Atie Kanser, Raffi Ahmad, Ingrid Widjanarko, Aswin Fabanyo, Alicia Djohar, Varissa Camelia, Maudy Ayunda, Ouzan Ruz, Billy Davidson, Adenin Adlan, Rah Syahputra, Genta Windi, Yuni Shara, Indra Bekti, Jamil Reza, Michael Short Music by Adam S. Permana Editing by Azis Natandra Studio Smaradhana Pro/Sanggar Ananda Running time 105 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Usof says:

    assalmualaikum…izin copy paste artikelnya ya… untuk bacaan para santri..nanti aku hyperlink sumbernya

  2. oce' ENREKANG says:

    wah…syahdu…..:)

  3. Adenin Adlan says:

    Terima kasih atas reviewnya yang sangat menarik ya

  4. muhammad shauqi says:

    bagus film nya

  5. rahmatmuntaha says:

    terima kasih reviewnya…sungguh sangat mengahrukan ceritanya.

  6. NO NAME says:

    Ceritanya mengharukan , saya harap dapat di siarkan di tv :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s