Review: Frankie and Alice (2010)

Posted: January 22, 2011 in Movies, Review
Tags: , , , , , , , ,

Frankie and Alice memberikan kesempatan bagi Halle Berry untuk menampilkan permainan terbaiknya setelah perannya dalam Monster’s Ball (2001) yang berhasil memenangkannya sebuah piala Academy Awards tersebut. Disutradarai oleh Geoffrey Sax (White Noise, 2005), kisah Frankie and Alice ditulis oleh sembilan orang penulis naskah berdasarkan sebuah kisah nyata mengenai Frankie Murdoch, seorang penari telanjang berkulit hitam yang memiliki kepribadian ganda. Dan memang, berdasarkan premis tersebut, Frankie and Alice menjadi sebuah film yang terbukti mampu dapat dimanfaatkan Halle Berry dengan baik untuk menunjukkan kapasitas aktingnya yang cukup prima.

Berlatar belakang kota Los Angeles pada tahun 1970-an, Frankie and Alice mengisahkan mengenai Frankie Murdoch (Berry), seorang penari telanjang dengan fisik sempurna yang menjadi primadona di tempat ia bekerja. Frankie sendiri berbohong kepada ibunya, Edna Murdoch (Phylicia Rashad), mengenai pekerjaannya tersebut dan memiliki hubungan kekeluargaan yang tidak sehat dengan kakaknya, Maxine Murdoch (Chandra Wilson). Namun, masalah di kehidupan Frankie tidak berasal dari keluarganya. Setelah beberapa kali tersadar berada di suatu tempat yang tidak familiar baginya, Frankie menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya.

Pertemuannya dengan Dr Oz (Stellan Skarsgård) di sebuah rumah sakit yang akhirnya membuka kenyataan bahwa selama ini ia sama sekali tidak sendirian. Frankie kemudian divonis mengidap schizophrenia, sebuah keadaan mental dimana sang pasien diduga memiliki kepribadian ganda. Atas pemeriksaan sang dokter, Frankie diketahui memiliki dua kepribadian lain yang ada dalam jiwanya: seorang wanita rasis bernama Alice serta seorang anak kecil pintar yang dinamakan Dr Oz sebagai Genius. Hadirnya dua kepribadian ini sendiri diduga Dr Oz adalah akibat dari trauma Frankie terhadap masa lalunya, yang kemudian mengharuskan keduanya saling bekerjasama agar Frankie dapat mengontrol keadaan jiwanya tersebut.

Dengan durasi yang mencapai 105 menit, Frankie and Alice sepenuhnya memfokuskan jalan ceritanya terhadap karakter Frankie dan bagaimana perkembangan jiwanya di bawah pemeriksaan Dr Oz. Untungnya, sutradara Geoffrey Sax mampu mengeluarkan kemampuan akting terbaik dari diri seorang Halle Berry. Memerankan seorang karakter yang memiliki dua karakter lain di dalam kepribadiannya – yang otomatis menempatkan Berry untuk harus memerankan tiga karakter sekaligus, Berry tampil sempurna! Lewat kemampuan akting Berry-lah, karakter Frankie dapat terasa begitu kuat, rapuh dan mampu menyentuh sisi emosional.

Tidak hanya Berry, Frankie and Alice juga didukung kemampuan akting yang cukup mumpuni dari para pemeran pendukung lainnya, terutama dari Stellan Skarsgård dan Phylicia Rashad. Sebagai Dr Oz yang dengan setia merawat dan melindungi Frankie, Skarsgård tampil dengan kewibawaan yang mampu membuat karakternya terlihat begitu mudah untuk dapat dipercaya. Sementara Rashad, yang berperan sebagai ibu Frankie, mampu mengimbangi Halle Berry dalam menampilkan karakter yang penuh kerapuhan. Sayang, karakter sang ibu tidak mendapatkan waktu penceritaan yang lebih dalam sehingga membuat akting yang ditunjukkan Rashad terasa sedikit tenggelam.

Berbicara mengenai jalan cerita Frankie and Alice sendiri, walaupun berdasarkan sebuah kisah nyata, tidak dapat disangkal bahwa film ini memiliki jalan cerita yang dipenuhi berbagai adegan yang terlihat cukup klise dan mudah didapati pada berbagai film drama sejenis. Walau begitu, pemilihan Sax untuk mengeksekusi Frankie and Alice lewat menghadirkan berbagai adegan melodramatis ternyata sangat ampuh untuk menghasilkan efek emosional yang lebih mendalam pada kisah ini. Ditambah dengan tata musik karya Andrew Lockington yang dengan sangat sempurna mengisi setiap adegan di film ini, Frankie and Alice tidak dapat disangkal mampu bekerja dengan sangat baik, khususnya bagi mereka yang memang menggemari genre drama.

Frankie and Alice adalah sebuah hasil akhir, yang secara mengejutkan, mampu menunjukkan kualitas yang prima, mengingat film ini berdasarkan dari seorang sutradara yang belum mampu menunjukkan tajinya serta seorang aktris pemenang Academy Awards yang telah lama tenggelam dengan peran-peran yang membuat tatusnya sebagai aktris pemenang Academy Awards sedikit diragukan. Frankie and Alice memang menawarkan kisah yang mungkin telah banyak diangkat oleh Hollywood sebelumnya, terlpas dari fakta bahwa film ini diangkat dari sebuah kisah nyata. Namun kemampuan penyutradaraan Geoffrey Sax, kemampuan akting para pemerannya – khususnya Halle Berry yang tampil sangat luar biasa, dan berbagai faktor teknis lain yang unggul, mampu tampil cemerlang dan meningkatkan performa film ini menjadi sebuah drama yang benar-benar hidup.

Frankie and Alice (Access Motion Pictures/Cinesavvy/Freestyle Releasing, 2010)

Frankie and Alice (2010)

Directed by Geoffrey Sax Produced by Halle Berry, Vince Cirrincione, Simon DeKaric, Hassain Zaidi Written by Cheryl Edwards, Marko King, Mary King, Jonathan Watters, Joe Shrapnel, Anna Waterhouse (screenplay), Oscar Janiger, Philip Goldberg, Cheryl Edwards (story) Starring Halle Berry, Stellan Skarsgård, Phylicia Rashad, Chandra Wilson, Scott Lyster Music by Andrew Lockington Cinematography Newton Thomas Sigel Editing by David M. Richardson Studio AccessMotion Pictures Distributed by Cinesavvy/Freestyle Releasing Running time 105 minutes Country Canada Language English

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s