Para generasi baru penikmat film mungkin sangatlah jarang untuk mendengar nama besar seorang Eduart Pesta Sirait. Padahal, pria kelahiran Tapanuli yang telah berusia 68 tahun ini memiliki catatan perjalanan yang cukup panjang dalam dunia pefilman Indonesia. Memulai karirnya sebagai seorang sutradara di tahun 1976, Eduart kemudian berhasil mencatatkan kesuksesan, baik secara kritikal maupun komersial, lewat film-filmnya. Lihat saja bagaimana film-film semacam Chicha (1976), Gadis Penakluk (1980), Sang Guru (1981) atau Blok M (1990) mampu bertahan melewati ujian waktu dan tetap tidak terasa membosankan ketika dinikmati saat ini.

Setelah Pesta yang dirilis tahun 1991, nama Eduart sempat tenggelam untuk kemudian muncul lagi satu dekade kemudian lewat film Joshua Oh Joshua (2001), sebuah film musikal anak yang sayangnya tidak begitu berhasil menarik perhatian dan hanya terkesan sebagai sebuah film yang mencoba menangkap antusiasme menonton yang telah dibentuk oleh Petualangan Sherina (2000). Kini, tepat satu dekade setelah film tersebut, Eduart kembali turun gunung dan duduk di kursi sutradara lewat Anakluh, sebuah film yang diadaptasi dari novel Anakluh Berwajah Bumi karya Ugi Agustono – yang juga mengerjakan naskah adaptasi dari film ini bersama Muzafarsyah.

Jalan cerita Anakluh (yang dalam bahasa masyarakat Bali berarti perempuan) sendiri menawarkan jalan cerita yang dapat dikatakan cukup menarik. Berkisah mengenai seorang sosok orang tua tunggal, Idayu (Shara Aryo), yang lewat perjuangannya berhasil membesarkan dua puterinya, Mira (Masayu Clara) dan Kirei (Suci Winata), setelah ditinggalkan suaminya secara sepihak 18 tahun yang silam. Seluruh hidup Idayu dikisahkan didedikasikan sepenuhnya kepada kedua puterinya, yang membuat dirinya sama sekali tidak memiliki ruang untuk kehadiran seorang pria.

Idayu sendiri secara perlahan mulai menyadari bahwa dirinya sebenarnya sangat merindukan figur seorang pria pendamping di dalam hidupnya ketika berkenalan dengan Nando (Rizky Hanggono). Nando sendiri juga menjadikan Idayu sebagai seorang wanita pujaan yang mampu memberikannya rasa kasih yang ia rasakan belum pernah ia dapatkan dari seorangpun, termasuk dari keluarganya. Cinta keduanya ternyata tidak lantas berjalan mulus ketika puteri Idayu, Mira, mulai jatuh hati kepada Nando. Kini, Idayu harus berusaha menghadapi Mira tanpa menyebabkan resiko dirinya kehilangan salah seorang puterinya.

Lewat penggambaran yang dijabarkan Eduart mengenai Anakluh, penonton sepertinya dapat dengan mudah menyimpulkan novel karangan Ugi Agustono tersebut merupakan sebuah karya literatur yang berisi begitu banyak pandangan hidup mengenai makna kebijaksaan dalam menghadapi sesuatu yang dirangkai dengan kata-kata yang begitu puitis. Eduart sendiri sepertinya tidak ingin kehilangan momen-momen puitis yang terkandung dalam novel tersebut: naskah cerita Anakluh kemudian tetap mempertahankan dialog-dialog puitis yang terdapat dalam novel yang terkadang menjadikan film ini cukup sukar untuk dicerna. Walau terdengar aneh untuk diucapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, dialog puitis yang diterapkan oleh Eduart justru menjadi keunikan dan kekuatan tersendiri bagi Anakluh – dialog-dialog puitis tersebut membuat Anakluh terasa bagaikan sebuah permainan drama teater yang cukup menarik ketika jalan cerita film ini berjalan penuh dengan momen-momen klise a la film-film drama Indonesia lainnya.

Awalnya, walau berjalan dengan ritme yang cukup lamban, Anakluh sebenarnya cukup dapat dinikmati. Cara Eduart dalam melakukan pengenalan setiap karakter yang ada serta mulai memasukkan intrik dan permasalahan utama film ini berjalan dengan mulus. Namun, seiring berjalannya durasi cerita, banyak momen yang terkesan tidak matang akibat monotonnya pengembangan karakterisasinya  di dalam cerita. Fokus yang terus menerus ditekankan pada hubungan antara karakter Idayu dan Mira berjalan menarik pada awalnya, namun perlahan mulai terasa melelahkan ketika Eduart seperti kehilangan faktor yang dapat menjaga jalinan cerita tersebut dapat tetap terasa segar untuk terus diikuti.

Kehadiran lapisan demi lapisan cerita juga tak semakin membuat Anakluh tampil menarik. Berbagai masalah mulai dari hubungan antara Idayu dan Mira, masa lalu Idayu dengan mantan suaminya serta perkembangan hubungan Idayu dengan Nando terasa hanya ditampilkan secara sepintas tanpa mampu mendapatkan sebuah penggalian yang lebih dalam lagi. Eduart juga sempat menghadirkan secuplik masalah perbedaan keyakinan dalam sebuah hubungan dalam kisah Anakluh – permasalahan yang hadir tanpa adanya perkenalan terlebih dahulu dan diselesaikan dengan cara yang seadanya dan kemudian tidak pernah disinggung lagi sesudahnya.

Di sisi positif, latar belakang cerita yang berada di lingkungan keindahan alam Bali membuat Anakluh mampu mengeksplorasi berbagai gambar indah baik mengenai alam maupun budaya Bali dengan lancar. Gambar-gambar inilah yang terkadang sering memberikan kekuatan tersendiri bagi jalan cerita Anakluh yang hadir dengan kualitas dan ritme yang seringkali menurun. Selain itu, empat pemeran utama film ini juga mampu menghadirkan kualitas akting yang sama sekali tidak mengecewakan, dengan Shara Aryo memegang kendali penuh atas keberadaan faktor emosional di dalam jalan cerita. Aktris Masayu Clara dan Suci Winata juga mampu tampil berimbang, walau pada beberapa momen tetap terasa kaku atau terlalu over-acting. Peran yang dimainkan Rizky Hanggono sendiri seringkali tidak mendapatkan momen-momen emosional yang mampu membuat aktor tersebut dapat menunjukkan kapasitas akting yang lebih. Walau begitu, Rizky tetap bermain bagus, seperti yang selalu ia tunjukkan dalam film-film yang ia perankan.

Bagi seorang sutradara yang memiliki daftar filmografi yang cukup panjang dan mengesankan seperti seorang Eduart Pesta Sirait, Anakluh mungkin bukanlah sebuah bagian terbaik dari perjalanan karirnya. Dialog-dialog puitis film ini – walaupun sama sekali bukanlah sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai sebuah masalah besar – sedikit memberikan jarak kepada para penontonnya. Eksekusi terhadap setiap permasalahan yang ada di dalam jalan cerita juga berlangsung tidak begitu mulus, dengan banyak adegan seringkali jatuh pada kesan klise daripada menghanyutkan. Terlepas daripada itu, tata sinematografi film ini hadir dengan cukup memuaskan dan menjadi salah satu faktor keunggulan terbesar Anakluh selain kemampuan akting para pemerannya. Tidak istimewa namun masih cukup mengesankan.

Anakluh (Bomb Creative Production, 2011)

Anakluh (2011)

Directed by Eduart Pesta Sirait Produced by Vijanti Sutopo, Yussi, Ugi Agustono, Hendramaja Oh, Yeni Written by Ugi Agustono, Muzafarsyah Starring Rizky Hanggono, Shara Aryo, Masayu Clara, Suci Winata Distributed by Bomb Creative Production Country Indonesia Language Indonesia

About these ads
Comments
  1. harusya review anakluh udah gue jadwalin kamis malam ketika selesai menonton film arahan om eduart ini. tapi begitu tau jadwal tayang di malang pada minggu kedua, dengan senang hati gue melewatkan baik-baik sayang nya wali yang -oh em gi? atas dasar apa film itu dibuat- dan mereview film lain.

    setelah melihat review disini gue masih pengen nonton dan bikin review ala gue. semoga nggak terlalu mengecewkan meski kata para goodreads, novelnya standar -dan entah dengan alasan apa diangkat jadi film mengingat tidak best seller dan kedengaran gaungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s