Di tahun 1726, penulis Jonathan Swift merilis sebuah novel berjudul Gulliver’s Travel, yang tidak hanya merupakan sebuah novel yang berisi banyak cerita dengan tingkat imajinasi yang tinggi, namun juga berisi banyak sindiran-sindiran sosial mengenai kehidupan masyarakat di kala itu. Novel itu kemudian meraih kesuksesan besar, tidak hanya berhasil memperoleh banyak pujian dari para kritikus sastra, namun juga digemari oleh banyak pembacanya. Tidak mengherankan jika kemudian novel ini banyak diadaptasi ke dalam bentuk serial radio, televisi maupun film.

Rob Letterman (Monsters vs. Aliens, 2009) adalah sutradara terakhir yang mencoba mengangkat novel karya Swift tersebut ke layar lebar. Berbeda dengan versi adaptasi lainnya, Letterman bersama duo penulis naskah, Joe Stillman dan Nicholas Stoller, sepertinya berusaha untuk menjadikan Gulliver’s Travel sebagai sebuah tayangan hiburan belaka dengan cara meningkatkan esensi komedi dari naskah cerita Gulliver’s Travel. Sebuah pilihan yang wajar sebenarnya, namun dengan sajian komedi yang ditawarkan di Gulliver’s Travel – yang kebanyakan berisi komedi-komedi bodoh yang sama sekali tidak lucu – versi teranyar dari adaptasi Gulliver’s Travel justru berakhir sebagai sebuah kekecewaan yang sangat besar.

Mengadaptasi kisahnya ke zaman modern, komedian Jack Black berkesempatan untuk memerankan sang tokoh ikonik, Gulliver. Bernama lengkap Lemuel Gulliver, seorang pria yang selama 10 tahun telah menghabiskan karirnya bekerja sebagai pemimpin bagian surat menyurat di sebuah media massa New York, dan hampir selama masa itu pula memendam perasaannya kepada Darcy (Amanda Peet), redaktur bagian tulisan perjalanan di media tersebut. Demi mendekati Darcy, Gulliver kemudian menerima pekerjaan sebagai reporter perjalanan dan melaksanakan tugasnya untuk berkelana ke Segitiga Bermuda.

Tidak disangka, kapal yang ditumpangi oleh Gulliver kemudian karam dan menyebabkannya terdampar di Kepulauan Lilliput. Berbeda dengan kehidupan manusia normal lainnya, penghuni kepulauan ini merupakan anggota Kerajaan Lilliput yang kesemuanya memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil. Di saat dirinya terdampar, Kerajaan Lilliput sendiri sedang menghadapi serangan dari Kerajaan Blefuscu. Dalam sebuah ketidaksengajaan, Gulliver berhasil menyelamatkan para anggota kerajaan dari serangan pasukan Blefuscu. Gulliver kemudian menjadi orang yang sangat terpandang dan dihormati di seluruh negeri. Namun, penghargaan yang diterima Gulliver tersebut ternyata menyebabkan rasa kecemburuan pada diri General Edward (Chris O’Dowd) yang kemudian bersekongkol dengan pasukan Blefuscu untuk menyerang Kerajaan Lilliput.

Adaptasi Gulliver’s Travel yang dilakukan duo penulis naskah, Joe Stillman dan Nicholas Stoller, benar-benar meninggalkan seluruh esensi pesan-pesan sosial yang banyak termuat dalam novel karya Jonathan Swift. Sebagai gantinya, selama 85 menit durasi Gulliver’s Travel berjalan, film ini kemudian dipenuhi dengan banyak lelucon berupa dialog-dialog (yang seharusnya) lucu dan parodi beberapa produk dan film populer di dalamnya. Sayangnya, tidak satupun dari lelucon yang dihadirkan tersebut berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjadikan naskah cerita Gulliver’s Travel sebagai sebuah cerita berantakan yang sama sekali tidak menarik untuk disimak.

Yang paling mengenaskan, seluruh jajaran pemeran Gulliver’s Travel sepertinya telah dengan sangat sadar akan kelemahan naskah cerita film ini. Selain Jack Black, yang menjadi pemeran utama film ini, tidak ada satupun di antara jajaran pemeran yang terlihat begitu “tertarik” untuk menghidupkan karakter yang mereka mainkan. Setiap pemeran terlihat tampil seadanya serta terdengar mengucapkan dialog-dialog mereka dengan intonasi yang sangat datar. Mulai dari aktris Emily Blunt, Amanda Peet — yang akan membuat semua orang tidak percaya bahwa keduanya mau bermain di film sekelas ini –, Jason Segel dan para pemeran lainnya sama sekali tidak terlihat bersemangat untuk bermain dan berada di film ini. Melihat jajaran pemeran Gulliver’s Travel seperti melihat jajaran aktor yang dipaksa untuk memainkan karakter mereka.

Untuk Jack Black sendiri… well… Black memang terlihat mampu membawakan Gulliver dengan karakterisasi yang… menyerupai dengan karakter-karakter lain yang pernah ia mainkan. Karakter seorang Gulliver justru berubah menjadi Jack Black, seorang aktor konyol yang sepertinya berusaha membuat lelucon dari kalimat apapun yang hendak ia katakan. Beberapa berhasil, namun kebanyakan justru terdengar sangat bodoh dan menyebalkan.

Jika ada satu hal yang dapat dinikmati dari Gulliver’s Travel adalah kemampuan pihak produksinya dalam menghasilkan special effect yang cukup mumpuni di sepanjang film ini. Interaksi antara Gulliver yang berukuran raksasa dengan para masyarakat Lilliput yang berukuran mini terlihat sangat alami dan tanpa permasalahan yang berarti. Pihak 20th Century Fox juga menyediakan versi konversi 3D dari Gulliver’s Travel, yang sayangnya, sama seperti film-film yang ingin memanfaatkan teknologi 3D untuk meningkatkan harga tiket, sama sekali tidak menawarkan apapun ke dalam jalan cerita film ini.

Ada perbedaan yang cukup besar antara film yang memiliki kategori sebagai sebuah hiburan ringan dengan… well… sebuah film yang murni adalah sebuah produk dari kebodohan. Sebuah film yang dapat menjadi hiburan ringan, tidak peduli betapa sederhananya jalan cerita yang ditawarkan, tetap mampu memberikan sesuatu yang esensial ketika menghadirkannya kepada para penontonnya. Untuk Gulliver’s Travel, sayangnya tidak ada satupun yang benar-benar dapat diunggulkan. Mulai dari jalan cerita yang berisi lelucon kekanak-kanakan, dialog konyol yang sangat bodoh hingga para pemerannya yang seperti tidak dengan benar-benar mau memerankan karakter mereka. Sangat membosankan.

Rating: 2 / 5

Gulliver's Travel (20th Century Fox, 2010)

Gulliver’s Travel (2010)

Directed by Rob Letterman Produced by John Davis, Gregory Goodman, Ben Cooley, Jack Black Written by Joe Stillman, Nicholas Stoller (screenplay), Jonathan Swift (novel) Starring Jack Black, Emily Blunt, Jason Segel, Amanda Peet, Billy Connolly, Catherine Tate, Ozzy Osbourne, T. J. Miller, Chris O’Dowd Music by Henry Jackma Cinematography David Tattersall Editing by Maryann Brandon Studio Davis Entertainment Distributed by 20th Century Fox Running time 85 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. paperbag says:

    iya menyebalkan filmnya aku juga dah nonton

  2. klueze_end says:

    Oh ya? padahal aku mau nntn sama kecengan neh haha jd apa dong yg ram ? tron sama narnia udh aku jelajahi

    • Amir Syarif Siregar says:

      Iyah. Minggu ini rilisannya emang pada mengecewakan semua. Kalo mau midnight sih ada Let Me In yang sangat direkomendasikan sekali. Atau yang lumayan itu ada Dalam Mihrab Cinta. Sedikit sinetron-ish, tapi gak jatuh buruk banget filmnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s