Scott Pilgrim vs. the World memang tidak menawarkan sesuatu yang baru di dalam jalan ceritanya: seorang pria jatuh cinta dengan seorang wanita, sang wanita menolak karena memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan, dan sang pria kemudian berjuang dan melakukan apa saja untuk dapat memenangkan hati sang wanita. Tentu saja, sutradara asal Inggris, Edgar Wright, yang sebelumnya sukses dengan Shaun of the Dead (2004) dan Hot Fuzz (2007), tidak akan menceritakan film ini dengan cara yang biasa dan membosankan.  Lewat pilihan grafis yang berwarna dan sangat memukau, Wright menjadikan Scott Pilgrim vs. the World menjadi sebuah tontonan yang cukup dapat dinikmati.

Bersama penulis naskah, Michael Bacall, Wright mengadaptasi jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World dari seri novel grafis, Scott Pilgrim, karya Bryan Lee O’Malley. Berlatar belakang tempat di Toronto, Kanada, film ini berfokus pada kehidupan seorang pemuda bernama Scott Pilgrim (Michael Cera), seorang basis dari sebuah band bernama Sex Bob-omb. Setelah diputuskan secara sepihak oleh pacarnya, Envy Adams (Brie Larson), Scott kini mulai mengencani teman satu sekolahnya, Knives Chau (Ellen Wong). Kisah cinta Scott dan Knives sendiri kemudian mendapatkan hambatan ketika Scott mengenal seorang gadis asal Amerika Serikat, Ramona Flowers (Mary Elizabeth Winstead), yang selama ini ternyata telah lama dikenalnya lewat mimpi-mimpi yang ia alami.

Walaupun pada awalnya tidak begitu tertarik dengan Scott, namun lama-kelamaan Ramona mulai jatuh hati dengan Scott. Namun, untuk mendapatkan Ramona, Scott ternyata harus menghadapi masa lalu Ramona yang berupa tujuh orang mantan kekasihnya yang siap untuk melawan Scott agar ia gagal dalam mendapatkan Ramona. Disamping harus menghadapi ketujuh mantan kekasih Ramona, Scott juga harus menghadapi Knives, yang baru diputuskannya, ketika sang mantan kekasihnya tersebut ternyata masih belum dapat menerima kenyataan bahwa ia telah diputuskan oleh Scott.

Kisah yang sederhana, namun di satu sisi, Edgar Wright berhasil menjadikan Scott Pilgrim vs. the World sebagai sebuah kisah yang dapat terhubung dengan baik kepada setiap penontonnya, khususnya para penonton muda. Kekuatan utama film ini ada pada kelihaian Wright untuk melengkapi kesederhanaan jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World dengan tampilan visual yang sangat memukau. Untuk menampilkan berbagai adegan laga antara Scott dengan ketujuh mantan kekasih Ramona, Wright menggunakan perpaduan visualisasi a la video game sekaligus novel grafis. Hal ini terbukti berhasil. Dengan warna-warna terang yang dipilihkan oleh Wright, Scott Pilgrim vs. the World menjadi sebuah film yang sangat menarik.

Tentu saja, tampilan yang indah tidak begitu saja dapat menutupi berbagai kelemahan yang terdapat di dalam naskah cerita film ini. Yang paling utama adalah masalah minimnya karakterisasi yang dilakukan Wright terhadap setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita film ini. Wright terlihat terlalu berfokus pada kisah pertarungan antara Scott dengan para mantan kekasih Ramona sehingga tidak sama sekali tidak memberikan kesempatan pada karakter-karakter yang ada untuk diperkenalkan secara emosional kepada setiap penontonnya, termasuk karakter Scott Pilgrim sendiri. Ini menyebabkan keterikatan antara penonton dengan para karakter yang ada di dalam jalan cerita sangat minimal dan membuat mereka menjadi mudah untuk dilupakan.

Kisah utama film ini, pada dasarnya, adalah mengenai kisah Scott yang berusaha untuk memenangkan hati Ramona dengan mencoba untuk menghadapi berbagai kisah masa lalunya yang sepertinya mencoba menghalangi hubungan mereka. Ide untuk menampilkan hal tersebut dalam bentuk pertarungan a la video game sebenarnya cukup cerdas, namun Wright sayangnya terlalu berfokus pada penampilan visual film ini daripada kisah romansa antara Scott dan Ramona itu sendiri. Setelah beberapa saat, perjuangan Scott yang pada awalnya terlihat menarik perlahan mulai terasa membosankan untuk diikuti.

Namun, rasanya tidak ada masalah yang lebih besar daripada masalah yang terjadi akibat kebosanan yang timbul ketika melihat Michael Cera masih memainkan peran yang sama seperti peran-peran yang ia tampilkan di seluruh karirnya. Sebagai Scott Pilgrim, Cera masih terlihat seperti seorang pria lugu dan kikuk yang pernah diperlihatkannya pada Superbad (2007), Juno (2007), Nick & Norah’s Infinite Playlist (2008), Year One (2009) dan Youth in Revolt (2010) — masih dengan aksen yang sama, cara berbicara bergumam yang sama dan tingkah laku yang sama.

Di luar Cera, para jajaran pemeran film ini cukup mampu tampil sangat menarik. Kieran Culkin, yang berperan sebagai Wallace, teman sekamar Scott Pilgrim yang gay, mampu mencuri perhatian di setiap kehadirannya di dalam jalan cerita. Hal yang sama juga mampu dilakukan Anna Kendrick, yang berperan sebagai adik Scott, Stacey Pilgrim, yang walaupun mendapat waktu tampil yang minimal, namun tetap berhasil menghidupkan jalan cerita. Kekuatan lain film ini juga datang dari musik-musik pilihan Nigel Godrich yang mampu mengisi setiap adegan dengan sangat baik.

Tampilan visual yang sangat mengagumkan – lewat visualisasi yang dirupakan seperti sebuah pertarungan di dalam video game – memang menjadi keunggulan utama Scott Pilgrim vs. the World. Wright dengan sangat baik menonjolkan keunggulan ini dan membuat film ini terlihat menarik. Di sisi lain, tidak akan ada yang dapat menyangkal bahwa jalan cerita Scott Pilgrim vs. the World berjalan terlalu sederhana serta tanpa adanya ikatan emosional yang datang dari setiap karakternya. Karena jalan cerita yang dangkal ini pula, beberapa orang akan mengalami kebosanan, khususnya pada 30 menit sebelum kisah film ini berakhir. Masih dapat dinikmati, namun seharusnya dapat tampil lebih baik lagi.

Rating: 3.5 / 5

Scott Pilgrim vs. the World (Big Talk Films/Relativity Media/Universal Pictures, 2010)

Scott Pilgrim vs. the World (2010)

Directed by Edgar Wright Produced by Edgar Wright, Marc Platt, Eric Gitter, Nira Park Written by Edgar Wright, Michael Bacall (screenplay), Bryan Lee O’Malley (graphic novel) Starring Michael Cera, Mary Elizabeth Winstead, Kieran Culkin, Ellen Wong, Alison Pill, Mark Webber, Johnny Simmons, Anna Kendrick, Brie Larson, Erik Knudsen, Aubrey Plaza, Tennessee Thomas, Satya Bhabha, Chris Evans, Brandon Routh, Mae Whitman, Shota Saito, Keita Saito, Jason Schwartzman, Bill Hader Music by Nigel Godrich Cinematography Bill Pope Editing by Jonathan Amos, Paul Machliss Studio Big Talk Films/Relativity Media Distributed by Universal Pictures Running time 112 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. raditherapy says:

    ya…ya ternyata tidak se-epik yg dibayangkan, saya masih lebih suka kick-ass, sorry scotty :p
    dan sayang sekali visualnya yg liar itu too much klo menurut saya…

  2. Qori says:

    felem konyol pertama yang sangat “game” menurut saya.
    gamer pasti suka sama nih film, yang konyol pas pilgrim mainin bass final fantasy 2 trus beradu bass..

    sayangnya, ada maho dalam felem ini terus belum ada sekuelnya. saya suka filmnya sih.
    thx reviewer.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s