Setelah Lisa Cholodenko dan Nicole Holofcener, satu nama sutradara film independen wanita lain yang juga mencuat sepanjang tahun 2010 ini adalah Debra Granik. Memang, jika dibandingkan dengan Cholodenko dan Holofcener, Granik masih memiliki daftar filmografi yang lebih pendek. Walau begitu,  nama Granik sendiri telah lama dikenal sebagai seorang sutradara film independen handal yang karya-karyanya banyak diakui di berbagai ajang festival film independen seperti di Sundance Film Festival. Winter’s Bone sendiri, yang diangkat dari sebuah novel berjudul sama karya novelis Daniel Woodrell, merupakan karya kedua Granik setelah debut film panjangnya, Down to the Bone, yang dirilis pada tahun 2004.

Selain memperkenalkan penonton pada Granik, Winter’s Bone juga memperkenalkan aktris muda berusia 20 tahun, Jennifer Lawrence, yang di film ini memerankan karakter utama, Ree Dolly. Seperti halnya Granik, Winter’s Bone bukanlah film pertama yang menampilkan talenta akting Jennifer Lawrence. Setelah sebelumnya banyak bermain di film dan serial televisi serta tampil bersama Charlize Theron dan Kim Basinger di The Burning Plain (2008), Lawrence tampil luar biasa di film ini – sebuah penampilan yang dijamin akan membuat nama Larence akan banyak terdengar di banyak film lainnya di masa yang akan datang.

Karakter yang diperankan Lawrence, Ree Dolly, mungkin akan menjadi satu karakter wanita tangguh yang paling mudah diingat di tahun ini. Karakter Ree sendiri diceritakan sebagai seorang gadis berusia 17 tahun yang tidak seperti gadis-gadis lain di usianya, harus menanggung beban dan merawat keluarganya. Saat ini sendiri, Ree harus merawat dua adiknya, Sonny (Isaiah Stone) yang berusia 12 tahun dan Ashlee (Ashlee Thompson) yang masih berusia 6 tahun, serta ibunya yang sedang berada dalam kondisi fisik dan mental yang tidak sehat ketika sang ayah – yang dikenal banyak orang sebagai pembuat narkotika — tidak diketahui dimana keberadaannya.

Beban yang diemban oleh Ree belum berhenti sampai disitu. Ree kini dipaksa untuk mencari dimana keberadaan sang ayah ketika ia mengetahui bahwa ayahnya menjaminkan rumah dan seluruh tanah keluarga mereka kepada pihak kepolisian dan bila ayahnya tidak menunjukkan dirinya kepada polisi, maka sesuai hukum yang berlaku, pemerintah berhak mengambil seluruh kepemilikan rumah dan tanah tersebut. Tanpa bantuan seorangpun, Ree memulai perjalanannya dengan mendatangi orang-orang yang diperkirakan memiliki keterkaitan bisnis narkotika dengan sang ayah – suatu hal yang tentu saja berbahaya dan beresiko untuk merenggut nyawanya.

Latar belakang lokasi cerita yang bertempat di pinggiran kota dan dalam musim dingin sepertinya sangat menggambarkan bagaimana Winter’s Bone berjalan. Sesungguhnya, kisah film ini berjalan dengan alur yang tidak pernah beranjak dari tempo menengah yang menyebabkan penceritaan Winter’s Bone terkesan lamban. Namun justru dengan penceritaan yang lamban dan dingin tersebut, kisah perjalanan Ree dalam menemukan sang ayah, berbagai tantangan yang ia hadapi serta karakter-karakter baru – yang terkadang berbahaya – yang ia jumpai secara perlahan namun pasti membuat alur cerita Winter’s Bone mengalir dan secara perlahan merasuki pemikiran dan hati setiap penontonnya.

Jalan cerita yang terpusat pada karakter Ree Dolly memang membuat Jennifer Lawrence menjadi fokus perhatian selama kisah Winter’s Bone berjalan. Dan untungnya, Lawrence memiliki kapabilitas yang sangat sempurna untuk memenuhi ekspektasi agar ia dapat menghidupkan jalan cerita Winter’s Bone. Dalam memerankan Ree, Lawrence bermain sangat alami dengan aktingnya sebagai seorang gadis yang terpaksa harus menanggung beban keluarganya. Seiring perjalanan film, karakter Ree mampu ditampilkan Lawrence sebagai seorang karakter gadis yang semakin kuat sisi emosionalnya. Membutuhkan pemahaman emosional yang cukup mendalam untuk menyelami karakter Ree, namun Lawrence secara brilian mampu melakukannya.

Selain Lawrence, seluruh jajaran pemeran Winter’s Bone juga mampu dengan sangat baik menampilkan berbagai karakter yang ada di dalam jalan cerita dengan sangat baik. Perhatian lebih mungkin akan ditujukan pada aktor John Hawkes yang berperan sebagai Teardrop, paman Ree. Di sepanjang cerita, Hawkes mampu menampilkan karakter Teardrop sebagai sesosok karakter yang misterius – karakternya mampu terlihat sebagai sesosok karakter yang tidak dapat dipercaya walaupun sebenarnya karakternya merupakan sosok protagonis. Ini yang membuat kehadiran Hawkes sebagai Teardrop selalu meningkatkan intensitas drama di dalam jalan cerita Winter’s Bone.

Sama seperti film-film independen lainnya, Winter’s Bone juga merupakan sebuah film yang disajikan dengan gaya penceritaan yang minimalis. Sama sekali tidak ada yang ditampilkan secara berlebihan. Namun, lewat gaya penceritaan yang minimalis itulah Winter’s Bone mampu menceritakan kisahnya dengan sangat baik. Dingin dan disajikan dengan alur yang menengah, jalan cerita Winter’s Bone mampu secara perlahan menangkap setiap perhatian penontonnya dengan penampilan yang apik dari setiap pemerannya, khususnya dari aktris Jennifer Lawrence yang bermain cemerlang sebagai sang karakter utama. Dengan penceritaan dan penampilan para pemerannya yang kuat, Winter’s Bone mampu tampil sebagai drama misteri yang cukup mengesankan.

Rating: 4 / 5

Winter's Bone (Anonymous Content/Winter's Bone Productions/Roadside Attractions, 2010)

Winter’s Bone (2010)

Directed by Debra Granik Produced by Anne Rosellini, Alix Madigan Written by Debra Granik, Anne Rosellini (screenplay), Daniel Woodrell (novel) Starring Jennifer Lawrence, John Hawkes, Lauren Sweetser, Garret Dillahunt, Dale Dickey, Shelley Waggener, Kevin Breznahan, Ashlee Thompson, Isaiah Stone, Tate Taylor, Casey Maclaren Music by Dickon Hinchliffe Cinematography Michael McDonough Editing by Affonso Gonçalves Studio Anonymous Content/Winter’s Bone Productions Distributed by Roadside Attractions Running time 100 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. Glowndark says:

    Dlm banyak hal, saya setuju dgn anda, terutama acting Jen Lawrance. Cuma ada sedikit keraguan mengenai tokoh Ree, 17 tahun, that tough? dia tak pernah sekalipun kelihatan patah dan frustrasi? dan bertanggung jawab secara penuh kayak ibu2 yg sdh matang. Sesempurna itu? sementara bapaknya kriminal.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Saya rasa sikap dan karakter Ree sama sekali tidak menunjukkan sebuah kesempurnaan. Dia tidak bersikap seperti wanita dewasa yang matang, ia dididik di lingkungan yang keras dimana kedua orangtuanya sama-sama tidak mampu memberikan sesuatu yang layak ketika ia tumbuh dewasa yang kemudian memaksanya untuk menjadi seorang remaja yang tangguh, khususnya ketika berhubungan dengan kedua adiknya.

      Tidak juga Ree tidak pernah terlihat patah dan frustasi. Akting dari Jennifer Lawrence memberikan makna bahwa Ree adalah seorang karakter yang rapuh. Ia bersikap ‘sok berani’ demi mencari keberadaan sang ayah, namun dari wajahnya dapat dilihat bahwa ia sendiri tak yakin bahwa ia dapat menemukan jawaban yang ia cari.

      Poin di karakter Ree adalah dimana ia ‘dipaksa’ untuk bersikap dan bertindak dewasa untuk dapat ‘menyelamatkan’ keluarganya. Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar mustahil untuk dilakukan bagi seorang anak berusia 17 tahun but hey… you’ll never know. Beberapa orang yang ‘terpaksa’ dididik di jalan buktinya mampu bertahan. Karena bukankah ujian-ujian kehidupan yang membuat seseorang menjadi kuat?

      That’s the point of Winter’s Bone, in my opinion.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s