Sejujurnya, ide untuk membagi bagian akhir dari adaptasi dari kisah petualangan Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, menjadi dua bagian adalah murni alasan komersial belaka daripada untuk menangkap seluruh esensi cerita dari novelnya. Hal ini, sayangnya, sangat terbukti dengan apa yang diberikan oleh sutradara David Yates lewat Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1. Filmnya sendiri berjalan cukup baik, namun dengan durasi sepanjang 146 menit, Yates terlalu banyak mengisi bagian pertama kisah ini dengan berbagai detil yang sebenarnya tidak diperlukan di dalam cerita, yang membuat …The Deathly Hallows – Part 1 terasa sebagai sebuah film dengan kisah yang sebenarnya singkat namun diulur sedemikian panjang untuk memenuhi kuota waktu penayangan.

Kisahnya sendiri dimulai tepat dimana Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009) berakhir, dimana Harry Potter (Daniel Radcliffe), yang masih dalam keadaan berduka akibat kematian guru sekaligus sahabatnya, Albus Dumbledore (Michael Gambon), sedang berada dalam penjagaan teman-temannya untuk mencegah terwujudnya mimpi Lord Voldemort (Ralph Fiennes) dan gerombolannya yang berniat untuk membunuh Harry Potter. Kekuasaan Voldemort sendiri dikisahkan telah menjadi semacam teror dengan kekuatan yang tidak hanya melingkupi mereka yang mengenal dunia sihir, namun juga mulai mampu menembus dunia para muggle (manusia biasa), bahkan telah mengambil banyak korban jiwa. Pengaruh Voldemort sendiri saat ini telah cukup kuat sehingga mampu memasuki posisi pemerintahan di dunia sihir.

Hanya ada satu jalan untuk dapat memudahkan usaha mereka yang melawan Lord Voldemort untuk dapat melenyapkan sang karakter antagonis, yakni dengan menghancurkan lima horcrux (kepingan jiwa Voldemort), yang tersebar di berbagai penjuru wilayah. Kisah usaha Harry bersama dua sahabatnya, Hermione Granger (Emma Watson) dan Ron Weasley (Rupert Grint), untuk menemukan kepingan horcrux dan menghancurkannya inilah yang mewarnai perjalanan kisah …The Deathly Hallows – Part 1. Tentu saja, diantara kisah tersebut terdapat beberapa bagian yang diperuntukkan untuk mengeksplorasi sisi personal dari masing-masing karakter yang semakin membuat kisah petualangan Harry Potter semakin padat, gelap dan lebih rumit jika dibandingkan seri-seri sebelumnya.

Masalah terbesar dari …The Deathly Hallows – Part 1 terletak pada ketidakmampuan David Yates untuk menjaga intensitas ketegangan di dalam alur cerita film ini. Mungkin hal ini bukan akan menjadi masalah besar jika …The Deathly Hallows – Part 1 berdurasi jauh lebih singkat dari masa tayang 146 menit, namun dengan durasi yang disediakan, Yates sepertinya terlalu banyak bermain dengan emosi penonton dengan menghadirkan intensitas yang labil – di satu saat penonton akan dihadapkan pada adegan-adegan yang dapat memacu adrenalin untuk kemudian dihadapkan pada berbagai adegan dengan intensitas yang datar, cenderung melelahkan dan dalam porsi durasi waktu yang lebih lama.

Hal ini sebenarnya bukanlah suatu masalah baru bagi franchise film yang telah berusia hampir satu dekade ini.  Seiring dengan pertambahan usia para pemeran utamanya, kisah petualangan Harry Potter memang semakin menjauhi pola film popcorn yang sebelumnya dapat dirasakan pada Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001). Kompleksitas jiwa para karakter kisah ini tergambar dengan jelas lewat kompleksitas jalan cerita yang semakin rumit di setiap serinya. Ditambah dengan semakin terpolesnya tata visual dan tata teknis lainnya di franchise ini, kisah petualangan Harry Potter tumbuh menjadi sebuah franchise yang sepertinya hendak sedikit mengambil jarak dari para penonton awam yang bukan penikmat kisah novel film ini. Wajar jika beberapa kritikus menyindir bahwa semakin lama, seri Harry Potter lebih terasa sebagai sebuah art movie daripada sebagai sebuah film yang menjadi bagian dari franchise yang mampu mengundang dan menarik perhatian penonton secara umum.

David Yates, khususnya, turut mengambil bagian dari proses “pendewasaan” kisah Harry Potter secara visual. Semenjak duduk di kursi sutradara Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), Yates sepertinya tahu bahwa banyak penggemar novel ini yang menginginkan agar setiap bagian dari kisah novel tersebut turut menjadi bagian dari versi filmnya. Sayangnya, Yates sepertinya kurang memiliki pemahaman mengenai bagaimana cara untuk dapat menyenangkan para penggemar versi novel Harry Potter dengan tanpa meninggalkan para penonton awam yang terlanjur berharap bahwa franchise ini adalah sebuah seri yang dapat menghibur. Hasilnya, masalah naik turunnya intensitas ketegangan antar plot cerita menjadi sebuah jurang yang tak dapat dielakkan dalam setiap karya Yates, dan dalam …The Deathly Hallows – Part 1 hal tersebut justru semakin terasa – khususnya di bagian pertengahan film.

Di luar masalah intensitas cerita yang kurang dapat terjaga dengan baik, …The Deathly Hallows – Part 1 adalah sebuah film yang sangat memuaskan. Ketika film ini menawarkan berbagai adegan ‘bertegangan tinggi,’ …The Deathly Hallows – Part 1 benar-benar menjadi sebuah film yang sangat mengagumkan. Berbagai adegan drama yang dihadirkan juga ternyata berdampak positif pada pengembangan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita – khususnya tiga karakter utama film ini. Lewat …The Deathly Hallows – Part 1, jiwa dan pemikiran Harry, Hermione dan Ron semakin tergali lebih dalam, khususnya Ron Weasley yang di seri ini sepertinya mendapatkan porsi yang lebih khusus untuk menunjukkan sisi karakter komikalnya.

Durasi tayang 146 menit bukan berarti semua karakter dapat tertampung dengan baik. Sebenarnya sangat disayangkan melihat Ralph Fiennes, Alan Rickman dan Helena Bonham Carter  – yang memiliki peran dengan karakter yang sangat menarik – hanya ditampilkan dalam porsi yang tidak mencukupi. Namun adalah sangat dimengerti bahwa …The Deathly Hallows – Part 1 adalah semacam hidangan pembuka bagi bagian keduanya yang digambarkan akan menjadi bagian final cerita dengan penggambaran yang epik dan megah.

Melanjutkan karyanya yang telah terjalin semenjak Harry Potter and the Order of the Phoenix, David Yates menghasilkan …The Deathly Hallows – Part 1 menjadi sebuah bagian awal dari berakhirnya franchise Harry Potter. Sangat disayangkan jika Yates sepertinya masih belum belajar banyak dari kesalahan mengenai pengelolaan intensitas plot cerita dari dua seri yang sebelumnya telah ia arahkan. Permasalahan yang muncul dari …The Deathly Hallows – Part 1 datang dari terlalu berbelit-belitnya naskah cerita ini dalam menampilkan kisah petualangan ketiga karakter utamanya. Berbagai detil yang sepertinya tidak terlalu penting membuat intensitas beberapa bagian film ini terasa berjalan dengan sangat lamban, kontradiktif dengan beberapa bagian lainnya yang dihasilkan dengan alur cepat yang menegangkan. Sebagai sebuah ‘pembuka jalan’ bagi datangnya sebuah kisah akhir yang megah, …The Deathly Hallows – Part 1 adalah sebuah pencapaian yang cukup memuaskan. Namun jika dipandang sebagai sebuah film tunggal, …The Deathly Hallows – Part 1 masih berada pada tingkatan dimana film ini seperti membuang berbagai potensi keunggulannya untuk menjadi sebuah film yang berkualitas biasa saja.

Rating: 3.5 / 5

Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (Heyday Films/Warner Bros. Pictures, 2010)

Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Directed by David Yates Produced by David Heyman, David Barron, J. K. Rowling Written by Steve Kloves (screenplay), J. K. Rowling (novel) Starring Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Alan Rickman, Helena Bonham Carter, Jamie Campbell Bower, Robbie Coltrane, Warwick Davis, Frances de la Tour, Hazel Douglas, Ralph Fiennes, Tom Felton, Michael Gambon, Evanna Lynch, John Hurt, Toby Jones, Bill Nighy, Richard Griffiths, Julie Walters, Bonnie Wright, Fiona Shaw, Helen McCrory, Jason Isaacs, Timothy Spall, Brendan Gleeson, James Phelps, Oliver Phelps, Mark Williams, Clémence Poésy, Natalia Tena, David Thewlis, John Hurt, Rhys Ifans, Simon McBurney, Matthew Lewis, Imelda Staunton, David O’Hara, Miranda Richardson Music by Alexandre Desplat, Conrad Pope (orchestrator), John Williams (themes) Cinematography Eduardo Serra Editing by Mark Day Studio Heyday Films Distributed by Warner Bros. Pictures Running time 146 minutes Country United Kingdom, United States Language English

About these ads
Comments
  1. milanisti says:

    film ini menurut saya tetap bagus, tentang pendapat penulis jika film ini labil, saya tidak sependapat. untuk masalah tingkat emosi, dari novel plotnya memang seperti itu, dan pemberian detail detail yang menurut penulis tidak perlu itu justru yang menguatkan cerita dari film ini, bagaimana semuanya mau berkorban demi masa depan dunia sihir yang lebih baik. saya rasa penulis bukan penggemar novel nya, jika penulis seorang penggemar novelnya pasti review dari penulis tidak akan seperti yang di tulis di atas. JK Rowling aja suka kok sama film ini, jadi maaf maaf aja. menurut saya review penulis di artikel ini sangat SUBJEKKTIF!

    • Amir says:

      Maksudnya kalau seorang ‘penggemar novel’ Harry Potter seharusnya memuja-muji seluruh apa yang dihadirkan di versi filmnya? Walaupun saya belum membaca versi novel dari …The Deathly Hallows, saya adalah penikmat setia Harry Potter. Tapi ada banyak perbedaan dari menikmati sebuah karya bermedium novel dengan medium audio visual.

      Novel hidup karena pemikiran kita yang mengembangkan kalimat demi kalimat yang kita baca. Sementara di film, kita disajikan mengenai bagaimana cara seorang sutradara untuk ‘mengembangkan’ naskah atau tulisan yang ia baca. David Yates dan penulis naskah Steve Kloves memang setia dengan seluruh alur yang tertulis di novel. Namun, sebagai seorang penikmat film, beberapa bagian yang diangkat tersebut menurut saya gagal untuk dihidupkan oleh Yates. Mereka yang menggemari novelnya mungkin menganggapnya biasa saja karena mereka telah tahu mengenai apa yang ingin digambarkan oleh Yates. Namun mereka yang tidak membacanya? Tentu mereka akan memiliki interpretasi sendiri mengenai apa yang disajikan ke hadapan mereka.

      Anyway, jika J K Rowling menyenangi versi film ini bukan berarti semua penonton WAJIB untuk menyenanginya juga. Sama halnya jika Anda menyukai sesuatu hal, bukan berarti seluruh dunia juga akan memiliki pendapat yang sama bukan?

  2. arief says:

    saya setuju dgn Milanisti.. review ini agak subjektif..

  3. arief says:

    My Review on Harry Potter and the Deathly Hallows:
    The visual effects are satisfying. I may called it an artistic movie :)
    The acting of Emma Watson as Hermione is the best among the 3 lead characters.
    It’s beautifully filmed with full of emotional, thriller, and a bit comedy..
    a 4 stars movie out of 5!

    • terusty says:

      Review diatas sungguh aneh, adegan yang memampangkan isi cerita malah dibilang membosankan, apakah dalam film yang ‘bagus’ setiap adegan harus berisi action?. Aneh! bukankah sebuah film dilihat dari alur ceritanya? Alur ceritapun tidak harus terlalu cepat atau lambat, tapi selaras. ada adegan yang memang membutuhkan alur cepat seperti action, dan ada adegan yang memang membutuhkan alur lambat untuk pemahakman karakter, emosi dan drama.

      Teman saya yang belum membaca novelnya pun jadi mengerti mengenai misi dan visi dari perjalanan dari Harry, Hermione, Harry dari film part 1 ini, dia tidak mendapatkan kesulitan pemahaman seperti anda (karena itu dibilang review diatas sangatlah subjektif). Dan film ini memang merupakan penggambaran dimana mereka beranjak dewasa dan menghadapi kesulitan jauh dari keluarga. jadi menurut saya drama dalam film ini sudah bagus. Mengenai visual effect, memang seperti itulah penggambaran yang ada di novel, tidak dilebih-lebihkan. malah sangat lucu jika disederhanakan, misalnya: menggambarkan patronus tidak transparan dan seperti cahaya, jadi coba dipahami lebih lanjut mengenai sebuah film sebelum melakukan review. Terima kasih

      • suparman says:

        setuju dengan arief. biarpun blm pernah baca novelnya gw kasih rating 4 / 5

        top best visual efects – pas snape terbang ke rumah malfoy mau rapat sama voldemort trus cwe yg di avda kedavra diumpankan ke nagini, pas harry “bersaudara” dihadang pelahap maut dan voldemort di langit trus kejar2an, pas melawan nagini di rumah mathilda trus nagini yg dikira mati melompat dr lantai bawah, pas parfum hermione kecium snatcher (deg.deg.deg), pas harry ron hermione dikejar2 snatcher di hutan trus ketangkep (hiiii…. sereeem!), pas berapparate sama dobby trus dobby kena belati bellatrix.

        best role actress/actor – pas duduk bertiga dibagiin wasiat voldemort, pas hermione sedih ditinggal ron trus diajak nari sama harry, pas ron lebam lg cemburu trus ninggalin harry hermione, pas kejar2an di kementrian sihir trus berapparate (ekspresi ketakutan ber-3 dapet banget). pas harmione disiksa bellatrix (teriakannya mantepp), pas dobby mati di pelukan harry (so saaad.. T.T) — emma watson leading!
        bellatrix, voldemort, 3 org kementrian sihir yang ditiru harry ron hermione dengan minum pollyjuice — actingnya oke juga

        best music score — score film paling kelam yg pernah gw dengar setelah trilogy lord of the rings dan gladiator

  4. Ilia Amir says:

    wah, saya tidak setuju sekali jika dibilang pembagian cerita HP7 menjadi 2 film ini hanyalah demi alasan komersil belaka. Sejauh ini semua elemen yang dimasukkan Yates memang yang penting dan esensial. Kadar ketegangan yang sangat intense di film ini dijeda beberapa kali dengan sangat baik dan pas..
    Yang jelas, menurut saya film HP7 part 1 sejauh ini adalah film HP yg paling memuaskan :D (Sebelumnya saya tidak pernah puas dengan film HP yang lain). Two thumbs up for David Yates, crew, and casts! Semoga part 2 lebih memuaskan dari ini, hohoho…

  5. Ilia Amir says:

    Oia, lupa mau bilang, bagian yang paling saya suka waktu The Tale of The Three Brothers diceritain.. wah, visual effectnya saya suka banget!

  6. CP says:

    Saya agak tidak setuju, karena film Harry Potter dibuat berdasarkan novelnya. Jangan mengharapkan adegan action disepanjang film, karena mengingat ini film adaptasi, memang begitulah cerita yang ada di novelnya.

  7. artemiz says:

    Ok… ok… review di atas kebanyakan kontra ya… hehehe… tapi aku teteup suka ama Harry Potter, terutama Emma Watson yang semakin cantik, aktingnya pun semakin mantap. Daniel & Rupert juga ga kalah keren.

    Meskipun di beberapa bagian ada yang tidak sesuai dengan novelnya, tapi aku senang karena garis besar dari cerita HP ke 7 ini tidak ada yang dipotong. Efek dan adegan action yang muncul membuatku kagum dan berdebar. Humor yang muncul dapat membuatku tertawa terbahak. Dan dibeberapa adegan bisa membuatku terharu meskipun tidak sampai menitikkan air mata.

    Adegan yang aku sukai dan membuatku terharu adalah adegan pertama saat Hermione menghapus memori kedua Orang tuanya mengenai dirinya. Uch… sungguh menyakitkan menghapus keberadaan tentang kita kepada orang yang kita cintai.

    Tidak sabar untuk menyaksikan part 2 nya…

  8. harryziixs says:

    komentar gue untuk film ini emang luar biasa dech,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,itu aja kalau bisa timbulkan imajinasi yang baru untuk season berikutnya dan jangan sampe putus…… karena itu dapat kami semua menjadi kecewa………..

  9. dee says:

    Ko tags-nya g ada rupert grint? mengecewakan. without grint there is no Ron. and without ron, there will b no harry potter. bad review.

    • Amir Syarif Siregar says:

      Ada kok. Coba diperiksa lagi deh… Kalo di credit-nya tertampang namanya, otomatis di tags juga pasti dimasukin! :D

  10. mandi says:

    murni untuk komersil apanya? novelnya tebal banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s