Dengan secara konsisten merilis dua film di setiap tahunnya, tidaklah begitu sulit bagi sutradara muda, Iqbal Rais, untuk menambah panjang jajaran filmografinya yang dimulai dengan catatan sukses perilisan Tarix Jabrix pada tahun 2008 yang lalu. Setia di jalur drama komedi, setelah merilis Sehidup (Tak) Semati yang kurang mendapatkan begitu banyak perhatian publik pada awal tahun ini, Iqbal kini merilis Senggol Bacok dengan mengedepankan nama Fathir Muchtar, Ringgo Agus Rahman dan Kinaryosih.

Fokus cerita sendiri berada pada sesosok karakter pemuda bernama Galang (Fathir Muchtar), yang setelah dengan tragis mengetahui bahwa kekasihnya berselingkuh dengan pemimpin perusahaannya, memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk memulai kehidupan yang baru. Walau berat untuk diterima oleh sang nenek (Rina Hasyim), namun kepindahan Galang sendiri juga merupakan usahanya untuk memperbaiki sikap pemarahnya yang selama ini sering menjebaknya untuk masuk dalam situasi yang menyulitkan dirinya sendiri.

Pindah ke Jakarta, Galang berkenalan dengan Disko (Kunto Aji), seorang pemuda pendatang yang mencoba mengadu nasib di Jakarta dengan mengikuti berbagai ajang pencarian bakat. Lewat bantuan Disko, Galang akhirnya dapat menemukan rumah kost yang ia cari. Tidak butuh waktu lama bagi Galang untuk menyadari kalau sekarang ia bertetangga dengan Laras (Kinaryosih), dara cantik yang juga seorang putri dari ketua RT setempat (Joe P-Project). Kehidupan Galang selama di Jakarta tentu tidak selamanya berjalan mulus, khususnya ketika ia harus membagi ruangan kamar kost-nya dengan Donny (Ringgo Agus Rahman), seorang pemuda yang kerapkali mengganggu kehidupan Galang. Puncaknya terjadi ketika ternyata Galang kini harus bersaing dengan Donny untuk mendapatkan cinta Laras — sesuatu hal dimana keduanya rela melakukan apapun untuk mendapatkannya.

Ditulis oleh Ben Sihombing, naskah cerita Senggol Bacok harus diakui terasa sangat segar pada awalnya. Plot cerita yang dibumbui berbagai tindakan dan dialog konyol berhasil dibawakan dengan baik oleh para pemerannya, khususnya oleh Rina Hasyim, pemeran karakter nenek Galang yang sering mendapatkan dialog singkat nan jenaka. Kesegaran plot cerita sendiri masih dapat dirasakan ketika latar berlakang cerita dipindahkan ke Jakarta, tempat sang karakter utama sekarang tinggal, dan dengan memperkenalkan beberapa karakter baru. Sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama. Ben Sihombing kemudian terjebak untuk memasukkan berbagai trik-trik komedi usang ke dalam cerita yang membuat Senggol Bacok perlahan-lahan mulai terasa sangat menjemukan.

Berbagai trik-trik komedi a la sinema Indonesia ini kemudian dilakukan secara berulang-ulang kepada beberapa karakter di dalam jalan cerita. Tidak hanya cukup dengan melakukan pengulangan formula komedi, naskah cerita Senggol Bacok perlahan-lahan mulai menggunakan berbagai ide yang tidak masuk akal (Teroris? C’mon, guys!) dalam usahanya untuk memancing tawa para penontonnya. Tidak hanya mulai terasa kehilangan arah di komedi, jalur drama film ini juga dapat dikatakan tidak pernah memberikan sebuah sajian yang memuaskan. Kisah percintaan Galang-Laras-Donny tidak pernah menghasilkan sebuah jalinan kisah yang mendalam disebabkan masing-masing karakter terlalu disibukkan oleh sub plot cerita lainnya yang sedang berjalan.

Yang paling buruk dari keseluruhan jalan cerita Senggol Bacok adalah pemilihan ending film ini. Mencoba mengelabui penontonnya dengan memberikan sebuah twist ending, Senggol Bacok malah terkesan bodoh dengan pilihan arah yang diambilnya. Percayalah, setelah berbagai alur kisah yang dialami oleh para karakter utama di film ini, tidak akan ada yang terkejut dengan ending cerita film ini. Yang ada hanyalah sekelompok penonton yang kemudian akan merasa jengkel dengan pemilihan ending cerita yang dangkal dan serasa hanyalah sebagai jalan keluar bagi para pembuat film ini setelah mereka kebingungan dalam menemukan akhir kisah yang pas untuk Senggol Bacok.

Tidak ada yang istimewa dari departemen teknis maupun departemen akting pada film ini. Kebanyakan penonton telah banyak melihat sisi karakter yang sama dari setiap pemeran film ini, baik Fathir Muchtar, Kinaryosih (yang tampil sangat tenggelam) serta Ringgo Agus Rahman (yang lagi-lagi memainkan peran dengan karakter yang sangat sama dengan peran-perannya sebelum ini). Pemilihan lagu-lagu Slank untuk mengiringi perjalanan film ini juga harus diakui sangat mengganggu pada beberapa titik, bahkan dapat dikatakan, penggunaan lagu Slank terbatas hanya menjadi gimmick belaka, tanpa adanya kemampuan dari lagu-lagu yang dipilihkan tersebut untuk mengisi emosi dari jalan cerita yang dihadirkan.

Lagi-lagi sebuah film komedi Indonesia yang sepertinya ingin bergerak menuju sebuah titik baru dalam sinema komedi Indonesia, namun akhirnya malah terjelak dalam segala hal klise yang biasa dihadirkan dalam film-film komedi Indonesia tersebut. Naskah yang memang berjalan monoton dan inkonsisten harus diakui menjadi faktor terkuat yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Arahan yang diberikan oleh Iqbal Rais setidaknya berhasil membuat para pemerannya tidak tampil memalukan. Tidak istimewa, namun setidaknya departemen akting tidak memberikan kontribusi buruk pada film ini secara keseluruhan. Bukan sebuah film komedi yang akan diingat  banyak orang di kemudian hari.

Rating: 3 / 5

Senggol Bacok (MVP Pictures, 2010)

Senggol Bacok (2010)

Directed by Iqbal Rais Produced by Raam Punjabi Written by Ben Sihombing Starring Fathir Muchtar, Ringgo Agus Rahman, Kinaryosih, Reny Yuliana, Kunto Aji, Joehana Sutisna, Marcella Lumowa, Rina Hasyim, Jonny Iskandar Distributed by MVP Pictures Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. Tata says:

    blum sempat juga nonton film ini.. :(

    Fathir di sini sama di Ratu Kostmopolitan mendingan mana?
    ni film ama itu film mendingan mana?

    • Amir says:

      Kalau mau dibandingin berdasarkan daya aktingnya Fathir, sebenarnya sih gak jauh banyak. Cuma berdasarkan materi film jika dibandingkan, pasti lebih memilih Senggol Bacok jika dibandingkan dengan Ratu Kostmopolitan.

  2. cher says:

    Well, iseng ga sengaja ngeliat film ini di salah satu stasiun tv. FYI, gw penggemar film India, dan ngeliat film ini ngingetin gw sama film India taon 2004 judulnya Mujhse Shadi Karoge. Alur ampe ending mirip banget dah

  3. Buya Dive says:

    Maaf, bukannya film ini adaptasi dari film India yang berjudul ” Mujhse Shadi Karoge.” Maka saya sangat sependapat dengan Cher… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s