Laskar Pemimpi adalah sebuah kasus yang cukup aneh. Disutradarai dan dituliskan naskahnya oleh Monty Tiwa, film ini menjadi film kedua di tahun 2010 setelah Merah Putih II: Darah Garuda yang jalan ceritanya mengisahkan mengenai perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan militer Belanda di masa agresinya yang kedua. Dengan meletakkan nama grup musik, Project Pop, yang dikenal sering menyanyikan lagu-lagu bernuansa komedi, tentu saja Laskar Pemimpi merupakan film yang jauh berbeda isi jalan ceritanya jika dibandingkan dengan film yang disutradarai oleh Yadi Sugandi dan Connor Allyn tersebut. Tidak hanya jalan ceritanya yang berada di wilayah yang berbeda, kualitas keduanya juga berada pada tingkatan perbedaan yang cukup jauh.

Tidak hanya berada pada wilayah komedi, Laskar Pemimpi mencoba menggabungkan unsur drama sejarah, musical hingga sedikit bumbu-bumbu action pada jalan ceritanya. Filmnya sendiri berkisah mengenai sekelompok laskar pejuang amatiran, yang terdiri dari Sri Mulyani (Tika Panggabean), Udjo (Udjo), Tumino (Gugum) dan Ahok (Odie). Bersama mereka bergabung dengan banyak masyarakat lainnya, seperti Toar (Yosi) dan Kopral Jono (Dwi Sasono), yang bertekad mengusir penjajahan Belanda dari tanah air Indonesia di bawah pimpinan Kapten Hadi Sugito (Gading Marten).

Konflik cerita kemudian dimulai ketika pada satu malam, anggota KNIL menahan beberapa masyarakat desa, termasuk dua bersaudara, Wiwid (Shanty), yang merupakan kekasih hati Udjo, dan Yayuk (Masayu Anastasia), yang juga merupakan kekasih Kopral Jono. Kapten Hadi Sugito sebenarnya telah menegaskan bahwa dalam perjuangan, beberapa orang kesayangan kita terkadang memang harus dikorbankan. Namun, tetap saja Udjo dan Kopral Jono merasa kurang rela orang-orang yang dikasihinya berada dalam dekapan anggota KNIL tanpa ada usaha dari mereka untuk melepaskannya. Akhirnya, bersama dengan anggota laskar lainnya, dan dibantu dengan Ontje (Oon), anggota KNIL yang berhasil mereka tangkap, mereka bergerak menuju markas KNIL untuk membebaskan masyarakat yang ditahan.

Memanfaatkan berbagai genre untuk jalan cerita sebuah film dapat berarti dua hal. Pertama, jika Anda berhasil memadukannya dengan baik maka Anda akan mendapatkan sebuah karya yang tidak hanya kreatif, namun juga dapat menghibur para penontonnya. Kedua, hal yang sebaliknya, perpaduan berbagai genre tersebut akan membuat jalan cerita menjadi sangat membingungkan dan cenderung mengesalkan jika Anda gagal dalam memperoleh cara yang tepat untuk melakukannya. Laskar Pemimpi, sayangnya, berada pada kategori kedua.

Sebagai sebuah komedi, apa yang diceritakan oleh naskah cerita Laskar Pemimpi sangatlah terkesan tanggung dan sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Dialog-dialog yang mengandung nuansa komedi dengan sukses gagal memberikan hiburan karena seperti dihadirkan setengah hati akibat kehadiran jalan cerita drama sejarah yang kemudian diselipkan di sela-sela cerita. Dan bukan berarti drama sejarah yang ditampilkan dapat dikatakan baik. Apa yang dihadirkan justru seperti selingan belaka dan cenderung ‘mematikan’ nuansa komedi yang tadinya hadir di dalam jalan cerita.

Sebagai musikal, Laskar Pemimpi terlihat hadir tak lebih sebagai sebuah music video bagi grup Project Pop dengan durasi yang (amat) panjang. Lirik-lirik lagu yang dihadirkan – beberapa diantaranya bernuansa perjuangan, sesuai dengan tema jalan cerita – juga tidak istimewa. Malah terkadang terkesan cheesy. Beberapa menit menjelang durasi berakhir, barulah Laskar Pemimpi berubah menjadi sebuah film action. Menawarkan segelintir adegan peperangan, tone kurang serius yang dibentuk semenjak awal tiba-tiba berubah di bagian ini. Dan lagi-lagi, akibat kehadirannya yang cuma sejenak dan kurang tergarap dengan baik, membuat adegan perang tersebut tak lebih baik dengan adegan-adegan lain di jalan cerita Laskar Pemimpi.

Dari segi akting Laskar Pemimpi juga tidak mampu menawarkan banyak. Apa yang ditampilkan para anggota grup musik Project Pop tidaklah mengecewakan sebenarnya. Hanya saja, untuk kadar akting yang ingin ditampilkan di layar lebar – komedi sekalipun – apa yang ditampilkan mereka dapat dikatakan lemah. Jajaran pendukung – yang diisi beberapa nama aktor dan aktris papan atas Indonesia – juga tidak tampil memukau. Beberapa diantaranya malah terkesan miscast atas peran yang mereka mainkan (Gading Marten sebagai seorang kapten dan Dwi Sasono menjadi kopralnya?). Ini yang membuat Laskar Pemimpi semakin sulit untuk dinikmati.

Menyaksikan Laskar Pemimpi seperti mengingatkan kembali mengenai keberadaan sebuah film komedi berjudul Red CobeX yang beberapa waktu dirilis. Sama-sama berformat komedi dan didukung oleh jajaran pemeran yang bertabur bintang, keduanya gagal menjadi sebuah tontonan yang menghibur diakibatkan oleh naskah cerita yang terlalu berantakan. Dalam kasus Laskar Pemimpi, Monty Tiwa seperti terlalu berhasrat untuk menjadikan film ini menjadi sebuah film musikal komedi perjuangan, namun dengan isi yang serampangan. Perpaduan antara sisi komedi dengan musikal dan drama perjuangan yang diletakkan sama sekali tidak dapat berpadu dengan baik. Ditambah dengan jajaran pemeran yang sama sekali tidak menunjukkan kemampuan mereka untuk merebut perhatian penonton, menyisakan Laskar Pemimpi menjadi sebuah film berkualitas kacangan yang sama sekali tidak menarik untuk disaksikan.

Rating: 2 / 5

Laskar Pemimpi (Starvision Plus, 2010)

Laskar Pemimpi (2010)

Directed by Monty Tiwa Produced by Chand Parwez Servia, Sumarsono Written by Monty Tiwa, Eric Tiwa Starring Tika Panggabean, Udjo, Gugum, Odie, Yosi, Oon, Dwi Sasono, Shanty, Gading Marten, Teuku Rifnu Wikana, Masayu Anastasia, Marcell Siahaan, Candil, Marwoto, Dimas Projosujadi, Moch Zaid Assiddiq Studio Starvision Plus Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. O2N says:

    Hehehehe, asyiik , yang baca ini banyak gak ? Perlu dipromosiin ?

  2. O2N says:

    Eh, review madame x bagus semua ya, hebat ya madame x

  3. alistm says:

    awalnya, Lihat treailernya sebenarnya aku tertarik untuk menonton laskar pemimpi tetapi aku terlanjur bersumpah, tidak akan pernah menonton lagi film fiml monti tiwa, karena film filmnya kagak ada yg mutu dan jelek. Gue sering nyewa film film di video ezzy, dari situlah aku sudah banyak menonton film di antaranya film monti tiwa.

    so..
    dari review ini, sudah kelihatanlah kualitas si monti tiwa..

    kalau di baca tulisanku…
    udah sering buat film tapi masih aja filmnya kagak mutu…
    berhenti aja jadi sutradara kalau kemampuan buat filmnya cuma segitu…

    oh ya..
    nice review…

  4. O2N says:

    Ayo, tonton LASKAR PEMIMPI, paduan drama, komedi, musical dan action, sudah bertahan di bioskop selama 1 minggu, dan akan terus. Twitter user, seach hashtag #laskarpemimpi or laskar pemimpin, voila, the majority opinion bout laskar pemimpi. Your review is great for minority opinion. Thanks

  5. [...] Siahaan. Setelah apa yang ia perlihatkan lewat debut aktingnya di Andai Ia Tahu (2002) dan disusul Laskar Pemimpi yang baru dirilis beberapa saat yang lalu, sepertinya adalah sangat aman untuk mengatakan bahwa [...]

  6. nunggu bajakannya aja deh. maklum lagi bokek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s