Sama halnya seperti Jim Carrey, Adam Sandler mungkin adalah salah satu dari sekian banyak aktor komedi yang terus berusaha untuk menunjukkan bahwa mereka memiliki kualitas penampilan drama di dalam mereka. Memang tidak sepenuhnya selalu berhasil, namun ketika mereka mampu melakukannya, Hollywood sepertinya tidak begitu menunjukkan ketertarikannya. Lihat saja bagaimana penampilan Sandler di Punch-Drunk Love (2002), Reign Over Me (2007) atau Funny People (2009) yang memang mendapatkan pujian dari para kritikus film dunia, namun gagal dalam mendapatkan perhatian penonton.

Untungnya, hal tersebut sepertinya tidak akan berpengaruh banyak pada karir seorang Adam Sandler. Tahun ini, ia kembali ke akar komedinya dengan mengumpulkan beberapa komedian lainnya untuk membintangi Grown Ups, sebuah film drama komedi yang ia tulis bersama penulis naskah Fred Wolf, ia produseri bersama Jack Giarraputo, disutradarai oleh Dennis Dugan — sutradara yang telah beberapa kali bekerjasama dengan Sandler lewat I Now Pronounce You Chuck and Larry (2007) dan Don’t Mess with the Zohan (2008) — serta diproduksi oleh rumah produksi milik Sandler, Happy Madison Productions.

Grown Ups sendiri mengisahkan mengenai lima sahabat yang pernah tergabung dalam sebuah tim basket di saat sekolah dasar, Lenny (Adam Sandler), Eric (Kevin James), Kurt (Chris Rock), Marcus (David Spade) dan Rob (Rob Schneider), yang pada tigapuluh tahun kemudian, kembali berkumpul bersama untuk menghadiri pemakaman pelatih basket mereka. Tentu saja keadaan sudah berubah total. Lenny, Eric dan Kurt masing-masing telah memiliki istri dan keluarga. Rob sedang menjalin cinta dengan seorang wanita yang berusia jauh lebih tua sementara Marcus masih senang dengan statusnya sebagai seorang bujangan.

Walau keadaan telah jauh berbeda, dengan tingkat status sosial masing-masing yang juga berbeda, ternyata sama sekali tidak merubah persahabatan erat kelima pria ini. Bahkan, untuk memperingati kematian sang pelatih, sekaligus merayakan ulang tahun kemerdekaan Amerika Serikat, Lenny telah menyewa sebuah lake house selama akhir minggu untuk tempat ia berkumpul bersama sahabatnya dan seluruh keluarga mereka. Tentu saja hal ini kembali membangkitkan memori masa kecil mereka, khususnya ketika lima orang yang sempat mereka kalahkan di sebuah pertandingan basket, kembali datang untuk menantang mereka. Sebuah tantangan yang menguji kekompakan tim Lenny dan teman-temannya.

Sedikit riskan untuk mengatakan bahwa Grown Ups memberikan efek yang sama terhadap para penonton pria seperti apa yang dilakukan Sex and the City 2 terhadap para penonton wanita mengingat naskah film ini sama sekali tidak mengandung unsur seksualitas. Namun dengan sisi naskah cerita yang sama sekali tidak memberikan sesuatu yang baru — terasa sebagai sebuah rangkuman guyonan Sandler dari film-film yang pernah ia bintangi sebelumnya — dan terkadang terkesan sangat bodoh, Grown Ups mampu tampil sangat menghibur, khususnya karena penampilan apik para jajaran pemerannya yang sangat menyenangkan.

Melihat lebih dekat dari sisi naskah cerita, Grown Ups memiliki struktur yang sebenarnya terbangun cukup baik di awal film. Konsentrasi cerita kemudian pecah di tengah-tengah film seiring dengan usaha dari naskah cerita untuk mampu menampilkan seluruh karakter yang ada. Untuk sedikit memberikan bumbu cerita di tengah kisah persahabatan kelima karakter utama, beberapa konflik kemudian dihadirkan di dalam cerita. Konflik yang dihadirkan sebenaranya tidak terlalu berarti karena hadir secara ringan dan kemudian diselesaikan beberapa menit kemudian dan hilang tak membekas. Ini terjadi beberapa kali dalam cerita, yang membuat jalan cerita terasa sedikit monoton dengan kehadiran pengulangan tersebut.

Adam Sandler memang memegang peranan yang penting di film ini. Karakternya menjadi karakter dengan latar belakang yang paling terbangun jika dibandingkan dengan karakter teman-temannya. Hal ini memang sangat terasa di beberapa bagian cerita namun tidak sepenuhnya mempengaruhi penampilan para pemeran pendukung lainnya. Chemistry yang tepat antara Sandler, James, Rock, Spade dan Schneider memang menjadi satu hal yang mampu menutupi kelemahan naskah cerita film ini.

Tentu saja, seperti halnya film-film Sandler lainnya, para aktris pendukung film ini juga dihadirkan sebagai pemanis. Kali ini, Salma Hayek-lah yang ‘beruntung’ mendapat peran sebagai pendamping Sandler. Selain Hayek, Maria Bello dan Maya Rudolph juga dihadirkan sebagai pemeran karakter istri dari Eric dan Kurt. Walaupun diantara para pemeran pendukung wanita ini tidak satupun yang mendapatkan kesempatan untuk tampil dengan porsi berlebih, namun harus diakui kehadiran mereka mampu memberikan kesegaran tersendiri.

Bersenang-senang adalah inti utama dari Grown Ups yang diselipkan diantara kisah persahabatan yang dijadikan jalan cerita utama film ini. Naskah yang dihadirkan memang sangat lemah, jika tidak mau disebut berkualitas sangat rendah. Namun hadir dengan beberapa guyonan yang berhasil dan chemistry yang sangat erat oleh kelima pendukung utamanya, Grown Ups benar-benar mampu tampil sebagai sebuah film drama komedi yang sangat menghibur. Sebuah film yang, seperti halnya Sex and the City 2, benar-benar memukau karena berhasil mengolah unsur hiburan yang ada di dalamnya dengan sangat baik. Brainless fun.

Rating: 3 / 5

Grown Ups (Relativity Media/Happy Madison/Columbia Pictures, 2010)

Grown Ups (2010)

Directed by Dennis Dugan Produced by Jack Giarraputo, Adam Sandler Written by Adam Sandler, Fred Wolf Starring Adam Sandler, Kevin James, Chris Rock, David Spade, Rob Schneider, Salma Hayek, Maria Bello, Maya Rudolph, Steve Buscemi, Joyce Van Patten Music by Rupert Gregson-Williams Cinematography Theo van de Sande Editing by Tom Costain Studio Relativity Media/Happy Madison Distributed by Columbia Pictures Running time 102 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. Movfreak says:

    Bener emang, nih film gak begitu spesial, tapi cocok buat dijadiin saran bersenang-senang belaka :)

  2. Nard4Reynard says:

    Lucu nih film, saya paling suka quotenya yang “And with love comes hostility.”

  3. Fernando says:

    lawakan di fim ini berbobot ,konyol tapi pintar pas buat ngilangin bete

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s