Sutradara Awi Suryadi minggu ini memberikan sebuah terobosan yang cukup unik dalam merilis filmnya di Indonesia. Tidak cukup hanya dengan merilis satu film, Awi merilis sekaligus dua film langsung ke pasaran. Tidak hanya itu, dua filmnya tersebut, I Know What You Did On Facebook yang berasal dari genre drama dan Pengantin Topeng yang ber-genre horror, bahkan dirilis pada hari yang sama oleh dua distributor film yang berbeda.  Yang disayangkan, tak satupun di antara kedua film tersebut sepertinya akan mampu memberikan kredibilitas baik bagi sang sutradara, setidaknya kredibilitas yang sama ketika ia pernah merilis Claudia/Jasmine (2008).

Sebagai sebuah film, Pengantin Topeng sangatlah dirasakan sebagai sebuah film yang memiliki jalan cerita yang begitu dangkal dan pendek, dapat dieksekusi dalam waktu kurang dari 45 menit, namun berusaha memenuhi kuota sebagai sebuah film layar lebar dengan melakukan pemanjangan di beberapa adegan (kebanyakan adegan bertema dewasa) yang sebenarnya tidak memiliki pengaruh besar pada jalan cerita utama.

Pengantin Topeng sendiri berfokus pada pasangan Randy (Hardy Hartono) dan Alexa (Masayu Anastasia) pada saat menjelang hari pernikahan mereka. Untuk merayakan kedatangan hari yang berbahagia itu, Randy dan Alexa mengajak tiga sahabat mereka, Billy (Gabriel Tabalujan), Kinar (Lolita Putri) dan Rosa (Adelia Rasya) untuk pergi berlibur bersama. Bersama, mereka pun memutuskan untuk berlibur ke pantai selatan di kawasan Jawa Barat.

Dan seperti film-film slasher lainnya, sepulang dari bersenang-senang bersama di pantai — adegan yang menghabiskan hampir seperempat dari durasi keseluruhan film ini — mobil yang mereka kendarai mogok, yang kemudian memaksa mereka berlima untuk menginap di pinggir pantai malam itu — adegan lain yang menghabiskan seperempat dari durasi keseluruhan film ini. Ketegangan akhirnya dimulai ketika Kinar menemukan sesosok mayat di dalam vila yang ia dan Alexa gunakan.

Satu adegan mengarah ke adegan lainnya, penemuan mayat tersebut ternyata mengarahkan kelima orang sahabat ini ke sebuah misteri pembunuhan. Kepanikan semakin menjadi setelah mereka mengetahui ada seseorang maniak yang menggunakan sebuah topeng — yang cukup menakutkan ketika pertama kali ditampilkan — yang kini mengincar nyawa mereka satu persatu. Tentu saja, kini mereka harus berlari berusaha menyelamatkan diri sebelum sang pembunuh bertopeng datang dan menghabisi mereka.

Bahkan tiga paragraf deskripsi sinopsis di atas sepertinya telah terlalu panjang untuk mendeskripsikan jalan cerita utama yang sebenarnya terjadi di film ini. Para penggemar horror thriller sejenis pasti telah dapat menebak dengan benar mengenai apa yang akan terjadi dengan sekelompok pemuda ini, siapa yang akan selamat dan siapa pembunuh yang sebenarnya — sebuah adegan dimana salah satu karakter merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan mengenai sebuah panggilan telepon yang ia lakukan secara tidak sengaja telah membuka tabir siapa penjahat sebenarnya di film ini.

Pengantin Topeng, sebenarnya, tidaklah berjalan seburuk film-film bernada sama yang banyak dirilis di layar bioskop Indonesia akhir-akhir ini. Walaupun terlambat dalam melakukan eksekusi dan meningkatkan intensitas film ini, Awi Suryadi masih berkesempatan untuk melakukannya — dalam jumlah yang sebenarnya belum mampu membayar rasa bosan yang telah ditanamkan semenjak awal film — dan membuat intensitas film ini sedikit meningkat di akhir film… walaupun ia entah mengapa kemudian lagi-lagi memasukkan sebuah adegan penjelasan mengapa sang pelaku melakukan motif kejahatannya dengan durasi yang kelewat panjang di bagian ending film.

Hal pendukung lain dari film ini adalah jajaran pemerannya yang kemampuan aktingnya tidak semengesalkan para jajaran pemeran di film-film sejenis yang seringkali terlihat kaku dan terlalu memaksakan kemampuan akting mereka yang sebenatnya sangat minus. Baiklah, kalimat tersebut tidak dapat diaplikasikan pada kemampuan akting Hardy Hartono yang datar atau Gabriel Tabalujan yang menyaingi jeleknya akting Marcel Chandrawinata di Air Terjun Pengantin. Namun tiga aktris yang ada di film ini setidaknya mampu membuat Pengantin Topeng hadir lebih baik, khususnya Masayu Anastasia, yang notabene memiliki jam terbang akting lebih tinggi dari jajaran pemeran lainnya.

Catatan filmografi Masayu di layar lebar telah dimulai semenjak tahun 2004, ketika ia membintangi film drama remaja Buruan Cium Gue. Tentu saja, film tersebut tidak memberikan kredit akting yang cukup banyak bagi dirinya. Hingga akhirnya ia membintangi Selamanya (2007), dimana ia benar-benar membuktikan bahwa di balik kemampuannya dalam menampilkan adegan bernuansa erotis, ada kemampuan akting yang sebenarnya cukup mumpuni. Ini kembali ia tunjukkan ketika membintangi Kawin Kontrak (2008) dan di film ini. Untuk menceritakan bagaimana karakter Alexa di film ini sepertinya akan mengungkap seluruh jalan cerita Pengantin Topeng. Namun, secara singkat, penampilan Masayu disini sedikit banyak akan mengingatkan beberapa penonton pada akting Shareefa Danish pada film Rumah Dara. Masayu Anastasia adalah seorang aktris berbakat yang membutuhkan sebuah peran utama dalam sebuah film yang memiliki naskah yang sangat berkualitas. She’s that good!

Selain Masayu, sepertinya Pengantin Topeng tidak menyisakan banyak hal untuk diceritakan. Naskah cerita yang dangkal yang ditarik sedemikian panjang, bloopers yang banyak ditemukan di sepanjang film hingga eksekusi intensitas yang dilakukan terlambat membuat film ini cenderung akan melelahkan daripada menjadi sebuah tontonan yang menarik. Pun begitu, jika dibandingkan dengan film-film slasher lainnya yang banyak beredar di bioskop Indonesia, Awi Suryadi setidaknya berhasil membuat Pengantin Topeng menjadi lebih tidak mengesalkan daripada film-film lainnya.

Rating: 2 / 5

Pengantin Topeng (Besinema, 2010)

Pengantin Topeng (2010)

Directed by Awi Suryadi Produced by Eko Kristianto Written by Awi Suryadi Starring Masayu Anastasia, Lolita Putri, Adelia Rasya, Hardy Hartono, Gabriel Tabalujan, George Timothy Music by Andhika Triyadi Studio Besinema Running time 80 minutes Country Indonesia Language Indonesian

About these ads
Comments
  1. kania says:

    “Namun, secara singkat, penampilan Masayu disini sedikit banyak akan mengingatkan beberapa penonton pada akting Shareefa Danish pada film Rumah Dara.”

    serius nih kk sam? WEW! jadi penasaran.. pengen liat lah kalo sempet… hahahaha..
    untung ada bagian penjelasan kenapa si pembunuh melakukan pembunuhan.. soalnya saya udah nebak2 begitu liat judul dan posternya :p

    • Amir says:

      Saya dari dulu suka banget memperhatikan Masayu Anastasia ini, mbak Kania. Khususnya setelah penampilannya di Selamanya. Dia tuh mampu menghidupkan karakternya menjadi believable dan yah… nyata. Sama seperti di film ini. Mungkin sebagian bilang saya berlebihan yah membandingkan karakternya dia dengan karakter Ibu Dara di Rumah Dara. But seriously, kalau film ini adalah film dengan naskah cerita yang bagus, pasti semua orang akan refer ke hal yang sama.

      Masayu Anastasia desperately needs a great role in a great movie!

  2. andhika says:

    saya setuju sama reviewnya mas hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s