Nama Monty Tiwa pertama kali tercatat di sejarah perfilman Indonesia adalah sebagai seorang penulis naskah film Andai Ia Tahu di tahun 2002. Karirnya sebagai seorang penulis naskah film terus berlanjut, termasuk dengan menulis beberapa film sukses lainnya seperti Mendadak Dangdut (2006), Denias, Senandung di Atas Awan (2006) dan Mengejar Mas-Mas (2007).

Puas menjadi seorang penulis naskah — dengan tingkat kredibilitas yang cukup memuaskan –, Monty kemudian mencoba untuk mengarahkan sendiri naskah film yang ia tuliskan. Lewat Maaf, Saya Menghamili Istri Anda (2007), Monty akhirnya merambah dunia penyutradaraan, yang ternyata cukup diterima baik oleh para penikmat film Indonesia.

Keramat adalah film kedua bergenre horror yang pernah disutradarai oleh Monty. Sebelumnya, Monty pernah mengarahkan Pocong 3 (2007), yang bisa dianggap berkualitas sedikit mengecewakan itu. Keramat sendiri mengadaptasi cara penceritaan found footage seperti yang pernah dipopulerkan oleh The Blair Witch Project (1999), Cloverfield (2008), [REC] (2007) dan yang terakhir, Paranormal Activity (2009).

Keramat sendiri dimulai ketika sebuah tim produksi film, berangkat dari Jakarta ke daerah Bantul, Yogyakarta dalam rangka persiapan pengambilan gambar film pertama mereka, Menari Diatas Angin. Tim produksi itu terdiri dari sang sutradara, Miea (Miea Kusuma), asisten sutradara, Sadha (Sadha Triyudha), manajer produksi, Bram (Brama Sutasara), serta 2 artis utama, Migi (Migi Parahita) dan Diaz (Diaz Ardiawan), Mereka juga ditemani oleh Poppy (Poppy Sovia) dan Cungkring (Monty Tiwa) sebagai tim behind the scene yang mendokumentasikan persiapan produksi film ini.

Setibanya disana, beberapa kejadian aneh mulai terjadi: mulai dari suara-suara tangisan yang terdengar hingga sebuah penampakan yang dialami oleh salah seorang anggota tim produksi. Puncaknya calon pemeran utama wanita film tersebut, Migi, dirasuki roh halus. Dengan bantuan seorang paranormal, mereka mencoba mengusir roh halus itu, namun gagal. Melalui bantuan paranormal yang sama, mereka mengetahui alam mistis di sekitar mereka sedang bergolak karena sesuatu hal. Kehadiran mereka tampaknya memperburuk keadaan, hingga akhirnya, Migi, yang masih berada dibawah pengaruh kontrol makhluk halus di tubuhnya, hilang tanpa jejak.

Menurut sang paranormal, Migi telah dibawa ke alam lain oleh sang makhluk halus. Keesokan harinya, seluruh anggota tim produksi dibawa ke Laut Parangtritis, yang dianggap sebagai pintu masuk ke dunia lain tersebut. Timbul keanehan secara tiba-tiba ketika satu persatu anggota tim produksi tersebut hilang, dan ketika mereka telah berkumpul lagi, mereka telah berada di tengah-tengah hutan belantara. Kini, mereka harus berpacu dengan waktu untuk mencari dan menemukan Migi sekaligus menyelamatkan diri mereka dari berbagai makhluk halus yang mencoba menggagalkan niat mereka untuk menemukan Migi.

Baiklah, film ini memang mangadaptasi teknik penceritaan found footage yang memang kembali populer semenjak Paranormal Activity berhasil meraih sukses luar biasa dari peredarannya di seluruh dunia. Toh, bagaimanapun, Paranormal Activity bukanlah film horror pertama yang menggunakan teknik tersebut. Jauh sebelumnya ada The Blair Witch Project yang juga sukses secara fenomenal itu. Disinilah, para sineas horror Indonesia harus belajar banyak pada Monty Tiwa. Silahkan mengadaptasi (adaptasi, bukan menjiplak!) genre apapun yang sedang popular saat ini,  namun yang harus diingat adalah untuk tidak lupa membumbui karya Anda dengan sesuatu yang lebih orisinil atau lebih mengena bagi para penonton yang menjadi sasaran anda.

Lihat apa yang dilakukan Monty Tiwa terhadap Keramat. Secara cerdas, Monty mengadaptasi gaya found footage tersebut — menggunakan gaya shaky camera, akting dan improvisasi natural, dan meminimalisir kekuatan musik latar dengan memaksimalkan bunyi alam sekitar –, serta menambahkan unsur tradisional yang dapat berhubungan dengan para penontonnya. Monty memanfaatkan berbagai mitos dan cerita tradisional yang seringkali kita dengar di keseharian dengan tepat guna didalam jalan cerita Keramat. Maksud dari tepat guna disini adalah dengan tidak menampilkan dan mengeksposnya terlalu sering, yang justru malah menambah ketegangan alami dari para penonton ketika berbagai makhluk tersebut mulai muncul. Unsur-unsur inilah yang membuat Keramat terasa begitu nyata. Andaikan tim produksi Keramat melakukan cara promosi secara viral seperti yang dilakukan The Blair Witch Project dan Paranormal Activity (serta mungkin tidak menggunakan Poppy Sovia yang sudah dikenal masyarakat), niscaya Keramat akan menjadi salah satu film paling menggegerkan yang pernah dirilis di Indonesia.

Selain berhasil membangun unsur horror, unsur drama film ini ternyata mampu juga terjaga dengan baik. Monty tahu, penonton akan lebih merasakan unsur horror, kedekatan dengan para karakter serta merasa lebih terlibat di dalam jalan cerita, bila para karakter tersebut diperankan oleh beberapa wajah yang masih belum banyak dikenal publik. Walau belum dikenal, akting yang ditampilkan para pemeran Keramat jauh lebih unggul dari seluruh pemeran film horror Indonesia yang banyak beredar akhir-akhir ini. Lihat saja penampilan Miea Kusuma yang tampil sebagai seorang sutradara ambisius dan bagaimana ia berteriak-teriak kasar ketika para pemainnya belum siap untuk melakukan proses pengambilan gambar. Anda seperti terlibat langsung di dalam kekacauan jalannya sebuah produksi film. Pemeran lainnya tampil alami — hal yang sangat diperlukan dalam film bergaya found footage — dan berhasil menambah keterikatan para penonton dengan tiap karakter yang mereka perankan.

Di negara dimana menemukan sebuah film berkualitas sama susahnya dengan menemukan seorang politikus jujur, adalah sangat menyenangkan untuk melihat Keramat. Kalikan tingkat kesenangan tersebut seribu kali karena Keramat berasal dari sebuah genre yang selama ini di Indonesia selalu menjadi cibiran karena selalu menghasilkan film-film berkualitas picisan, horror. Berhasil memadukan mistis tradisional (yang sangat, sangat menakutkan) di dalam jalan ceritanya secara rapi, mengeksekusinya dengan sangat, sangat cerdas dan dibantu dengan penampilan yang sangat, sangat sempurna dari para jajaran pemerannya, Keramat adalah — tanpa bermaksud untuk melebih-lebihkan —  tonggak sejarah tersendiri di perfilman Indonesia: film horror Indonesia terbaik. Bravo, Monty!

Rating: 4 / 5

Keramat (PT Kharisma Starvision Plus, 2009)

Keramat (2009)

Directed by Monty Tiwa Produced by Chand Parwez Servia Written by Monty Tiwa Starring Poppy Sovia, Migi Parahita, Sadha Triyudha, Miea Kusuma, Dimas Projosujadi, Diaz Ardiawan, Brama Sutasara, Monty Tiwa Cinematography Ucup Supena Editing by Benny Tubalawony Studio Wong Cilik’s Indie Picture Production Distributed by PT Kharisma Starvision Plus Running time 89 min. Country Indonesia Language Indonesian, Javanese

About these ads
Comments
  1. raditherapy says:

    bener kan filmnya bagus hehehehe :D

  2. hendra says:

    somehow i agree with your review, bung!

  3. leatauruz@yahoo.com says:

    mau tanya neh,,,, nasib poppy,migi,sadha slanjutnya gimana yah,,,?????kita penasaran nehhh,,,,,

  4. Gadhjie says:

    Filmnya keren.. kisah nyata atau??

  5. ila says:

    eneng seng kondo filemme apik eneng sing kanda elek.. piye to iki..
    ningo aku setuju nek apik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s