Harus diakui, sebagai sebuah perusahaan yang pada awalnya menjadi saingan terberat Pixar dalam merebut pasar pecinta film-film animasi, DreamWorks Animation terasa sangat ketinggalan akhir-akhir ini. Memang, dari segi pendapatan, DreamWorks seringkali mengungguli hasil perolehan komersial film-film rilisan Pixar. Namun dari segi kualitas yang diberikan? Hanya seri pertama dan kedua dari Shrek yang mampu memberikannya.

DreamWorks Animation memang sepertinya tidak mau terlalu memusingkan soal kualitas dan berbagai penghargaan yang akan diraih oleh produknya. Mereka sepertinya lebih menyukai untuk memproduksi berbagai film animasi komersial yang murni untuk dinikmati sebagai sebuah hiburan. Tapi tetap saja, jika dilihat dari pendapatan yang diperoleh dua film terakhir mereka, Monsters vs Aliens dan Madagascar 2: Escape to Africa, DreamWorks Animation sudah sepatutnya untuk mulai merasa khawatir.

Di tahun 2010 sendiri, DreamWorks Animation telah menyiapkan 3 amunisi film untuk dihadirkan kepada para penikmat film dunia. Yang pertama adalah film yang diadaptasi dari sebuah buku cerita anak-anak populer karya Cressida Cowell, How to Train Your Dragon. Berbeda dengan film-film animasi produksi DreamWorks Animation sebelumnya, film ini tidak mengedepankan jajaran suara pemeran papan atas di dalamnya, namun mengutamakan teknologi 3D yang memang sepertinya sedang dimanfaatkan secara habis-habisan oleh Hollywood saat ini.

Berlatar belakang tempat di Kepulauan Berk, sebuah tempat dimana para Viking hidup dan senantiasa melawan para naga yang acapkali mencuri ternak mereka. Karena itu pulalah, setiap anak remaja di kepulauan tersebut diberi pelatihan dan pengetahuan mengenai naga, agar di kemudian hari mereka dapat menggantikan posisi generasi terdahulu mereka untuk mempertahankan ternak mereka dari serangan para naga.

Itu tak terkecuali juga dialami oleh Hiccup (Jay Baruchel), anak dari ketua suku Viking di Kepulauan Berk, Stoick the Vast (Gerard Butler), yang dapat dikatakan sedikit berbeda dari anak-anak Viking lainnya. Memang, Hiccup memiliki hasrat yang besar untuk memerangi para naga. Namun setiapkali ia mulai untuk menunjukkan ‘kemampuannya’, disitu pula berbagai rentetan permasalahan mulai muncul. Akibatnya, ia mulai disingkirkan dari lingkungannya, termasuk oleh sang ayah yang mulai memandang aneh pada anaknya.

Tentu saja hal tersebut tidak lantas menghentikan langkah Hiccup. Secara tak sengaja, ia berhasil melumpuhkan seekor naga dari kelas yang paling disegani dan ditakuti oleh sukunya, Night Fury. Sesuai dengan kebiasaannya sukunya, Hiccup pun berniat untuk membunuh naga tersebut dan membawa jantungnya kepada sang ayah untuk membuktikan keberaniannya. Namun, ternyata Hiccup tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Ia bahkan melepaskan ikatan naga tersebut dan membiarkannya pergi.

Ternyata, disitu pulalah hubungan antara Hiccup dan sang naga — yang nantinya ia namakan Toothless — mulai tumbuh. Merasa bersalah karena tindakannyalah yang menyebabkan sang naga tidak dapat kembali terbang, Hiccup akhirnya datang setiap hari ke tempat Toothless berada dan merawatnya. Lewat persahabatan yang aneh inilah, Hiccup akhirnya ditunjukkan oleh Toothless bahwa bukan kemauan para sang nagalah maka mereka harus mencuri ternak para manusia. Karenanya, Hiccup bertekad untuk menunjukkan pada sang ayah serta seluruh kaum Viking bahwa para naga sebenarnya butuh bantuan mereka, dan bukan untuk diperangi.

Walau berjalan kurang meyakinkan di awal filmnya, namun How to Train Your Dragon berhasil secara perlahan-lahan mengumpulkan tenaganya dan melaju dengan pasti untuk menarik perhatian setiap penontonnya. Berbeda dengan film-film animasi karya DreamWorks Animation lainnya yang seringkali terasa sebagai sebuah film komedi penghibur yang diselimuti dengan kisah drama, How to Train Your Dragon tampil meyakinkan sebagai sebuah kisah drama yang diselingi dengan banyak adegan penghibur. Dan untungnya, hal tersebut sangat berhasil untuk meningkatkan kualitas film ini.

Sukses di naskah cerita, ternyata juga diimbangi dengan kesuksesan film ini dalam memberikan tata visual yang mengagumkan. Dengan memanfaatkan teknologi 3D, berbagai adegan di film ini menjadi sangat terasa dipenuhi oleh berbagai ketegangan dan keseruan tersendiri yang akan mampu mengundang decak kagum dari para penontonnya. Selain efek 3D, arahan musik latar yang disusun oleh John Powell juga memberikan kontribusi yang tidak dapat disangkal menambah ketegangan dan ritme yang telah dibantu oleh teknologi 3D tadi.

Berbicara pemeran, How to Train Your Dragon diisi oleh nama-nama yang sebenarnya telah dikenal, namun tidak begitu sebesar nama-nama pengisi suara film-film animasi karya DreamWorks Animation sebelumnya. Terdapat nama pendatang baru Jay Baruchel (yang memberikan hasil yang cukup memuaskan sebagai Hiccup), Gerard Butler (How to Train Your Dragon akan menjadi film terbaiknya setelah 300), America Ferrera, Craig Ferguson dan ditambah suara komikal dari Jonah Hill dan Christopher Mintz-Plasse.

Sejujurnya, adalah sangat jarang untuk dapat merasakan kepuasan setelah menonton film-film animasi karya DreamWorks Animation akhir-akhir ini. Ada saja elemen yang terasa berlebihan atau terasa kurang di film mereka. Namun lain halnya dengan How to Train Your Dragon. Film ini mampu secara sempurna memadukan jalan cerita yang menarik dan diisi karakter-karakter yang sangat loveable dengan teknologi visual 3D yang mampu begitu menghidupkan film ini secara keseluruhan. Ditambah dengan paduan pas dari musik latar yang begitu mengisi di tiap adegan, tidak diragukan lagi bahwa How to Train Your Dragon adalah film terbaik yang pernah dirilis oleh DreamWorks Animation.

Rating: 4 / 5

How to Train Your Dragon (DreamWorks Animation/Paramount Pictures, 2010)

How to Train Your Dragon (2010)

Directed by Chris Sanders, Dean DeBlois Produced by Bonnie Arnold, Doug Davison, Roy Lee, Michael Connolly, Tim Johnson Written by Adam F. Goldberg, Peter Tolan, Dean DeBlois, Chris Sanders, Cressida Cowell (story) Starring Jay Baruchel, America Ferrera, Jonah Hill, Gerard Butler, Christopher Mintz-Plasse,
Craig Ferguson, Kristen Wiig Music by John Powell Editing by Darren T. Holmes Distributed by DreamWorks Animation/Paramount Pictures Running time 98 minutes Country United States Language English

About these ads
Comments
  1. fariz says:

    wah review2 orang pada bagus2 banget yaa.. kayaknya memang bagus nih jadi ga sabar nonton..

  2. Budi Cahyono says:

    wah pengennya sih nonton besok, hihihi jadi nggak sabar…

    well katanya film ini yg 3D ada subtitle indonesianya???

    • Amir says:

      Iyah. Tumben banget nih film 3D ada subtitle-nya. Tapi bagus deh. Biar penontonnya gak terlalu segmented lagi… jadi bisa dinikmati semua orang.

  3. fleimboy says:

    animasi terbaik dreamworks setelah shrek 1 ya sepertinya?

    bsk nonton ah.. :D

    • Amir says:

      Kalo saya mah… ini yang terbaik, paman Al. Menghibur dan keren animasinya.

      Kalo Shrek saya malah sukanya seri kedua, itupun karena ada Puss in Boots.

      • raditherapy says:

        klo saya beda lagi, Kungfu Panda paling favorit dan yang terbaik…
        tapi setelah muncul naga2 ini, film ini jadi yang terbaik menurut saya pribadi

        nga sabar untuk melihat lagi versi 2D aja udah cukup :)

  4. [...] melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s